Dan Ini adalah Perkenalan Pertamanya

40 3 0
                                        


Entah mengapa, ia tak pernah bisa tidur tenang. Semenjak kelulusannya dari SMA tiga bulan yang lalu, Erlangga selalu naik kereta untuk pulang dan pergi dari kampus ke rumah. Karena jarak yang cukup jauh, ia kerap pulang menggunakan kereta yang paling akhir, atau dia tak akan pulang sama sekali.

Tidur di kampus katanya keren. Bersama aktivis-aktivis kampus yang gemar berembuk malam-malam hingga pagi menjelang. Entah apa yang ada di benak mereka. Erlangga tidak pernah paham pada kerumitan-kerumitan hidup semacam itu. Memahami materi kuliah saja sudah cukup sulit.

Belum lagi bisikan-bisikan yang kerap ia dengar tatkala berada di keramaian. Apabila ia telah menyepi di rumah, bisikan itu mulai berkurang, namun tak pernah hilang seluruhnya. Pun hingga matanya terkatup dan kesadaran di ambang batas. Meskipun akhirnya suara itu akan memelan, memelan, dan—

—hilang bersama kesadarannya.

***

Malam itu ia sangat sulit berkonsentrasi. Beberapa kali Dinar mengajaknya diskusi namun ia berkali-kali harus menghentikan gadis itu dan memastikan maksud perkataannya.

[Kau saja yang bodoh, Elang.]

"Maaf, jadi aku harus bagaimana?" Elang mengulang perkataannya pada Dinar. Gadis itu menghembuskan napas pendek sembari memberi pemakluman untuk yang kedua kalinya.

"Cukup rangkum saja bab lima menjadi empat halaman, Elang."

[Lihat saja tatapan menghakiminya. Dinar menganggapmu bodoh dan tak tertolong lagi.]

Elang memegang telinganya kuat-kuat, seolah berusaha memblokir semua bisikan-bisikan itu dari benaknya. Mengangguk asal-asalan, lantas ia menatap jam tangannya dengan cepat. 20.15. Empat puluh lima menit lagi ia harus sudah berada di platform atau dia terpaksa menginap di kampus malam ini.

Dengan suara-suara mengganggu itu.

Napasnya dihela berat. "Terima kasih Dinar, aku akan mengerjakannya segera." Elang menggaruk sisi kepalanya dengan canggung, menunduk sedikit, lantas berbalik sembari melambaikan tangan.

[Dinar memandangmu dengan aneh. Dia tahu kau sakit.]

"Diam," tukasnya pada diri sendiri. Tangan kanannya menarik tali tas selempangnya dengan erat sembari menggigit bibir bawahnya. Tungkainya melangkah lekas-lekas. Tak ingin dipandangi aneh oleh orang-orang yang ia lewat.

[Elang, jangan tergesa-gesa. Semua orang ingin mengenalmu.]

[Betul! Dan mereka dengan senang hati akan menuduhmu yang tidak-tidak!]

Kini tangan kirinya memegangi daun telinganya, berusaha menyumbatnya supaya ia tak perlu mendengar lagi. Dari balik kacamatanya ia memandangi remaja seusianya sedang bergerombol ramai-ramai, merencanakan makan malam yang terlambat karena kelas malam. Ia berjalan menghindar, dengan muka ditekuk. Mengisyaratkan dia tak ingin diganggu mau pun diperhatikan.

Jantungnya selalu berdegup kencang. Sesak. Ia tak suka dihakimi. Pandangan-padangan itu seolah menusuk raga dan sanubarinya. Ingin mengoyak pribadinya yang sudah kecil dan tak bermakna ini hingga hilang. Bisikan setan itu selalu terngiang. Terkadang membuatnya merasa diperhatikan oleh seseorang, namun lebih sering membuatnya merasa diolok-olok oleh orang lain.

Erlangga, pemuda berumur delapan belas tahun dan seorang mahasiswa anyaran itu berharap untuk larut dalam kebisingan malam.

***

Dari sini, kereta akan selalu penuh. Selain karena mahasiswa baru selalu mendapat jadwal kuliah yang tidak mengenakkan—pagi sekali atau malam sekali—banyak pekerja dari pusat-pusat perbelanjaan yang turut meramaikan kereta pukul sembilan malam itu. Erlangga berdiri di dekat pintu yang tak begitu berdesakan, memeluk sebuah tiang sembari masih memegangi daun telinganya.

Di sisi lain pintu berdirilah seorang gadis berpenampilan menyeramkan. Serba hitam dengan riasan wajah yang luar biasa kelam. Tanda rajah berbentuk tribal mengintip dari balik lengan pendek kaos oblongnya. Telinganya disumpal earphone yang terhubung dengan ponsel yang sedang dimainkannya.

Terpaku, Erlangga menatap gadis itu dengan lekat. Dia yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja merasa hal ini cukup asing baginya. Matanya menjelajahi dari bentuk rambutnya yang legam lurus dan poni di atas alis, semakin menunjukkan riasan matanya yang gelap. Elang tak paham kenapa ada gadis yang sebetulnya cukup manis jika tak menggunakan riasan-riasan itu malah membuat-buat penampilannya.

Tatapannya dikunci oleh gadis itu.

[Dia pasti sedang menertawakanmu di dalam hatinya, Elang.]

[Perhatikan saja pandangan matanya.]

Menelan ludah berusaha mengabaikan suara-suara itu, ia meretas senyum kikuk. Dahulu ia begitu mudah berteman dengan orang lain. Tak ada kesulitan untuk sekadar mengatakan bahwa bajunya bagus, atau sepatunya hari ini cocok sekali demi memulai sebuah obrolan dengan orang asing.

Dulu, ia tidak setakut ini untuk berhubungan dengan orang.

[Sapalah dia, jika kau memang kekurangan musuh.]

Diam. Diam! DIAM!

Elang membuang tatapannya, memegangi telinganya erat-erat. Gadis itu menyadarinya. Ia melepas earphone dari telinganya.

"Mas kamu kenapa?" celetuknya dengan raut khawatir.

Elang mengangkat wajahnya, melepaskan pegangannya pada telinga yang membuatnya merasa canggung.

"Aku nggak apa-apa kok," senyumnya sembari tangannya diturunkan ke sisi tubuhnya.

"Yakin? Kayaknya kesakitan dari tadi?"

Elang tertawa karena pertanyaannya. Meski penampilannya sangar, gadis ini cukup jeli untuk memperhatikan sekitarnya.

"Nggak kok, ini suara kereta terlalu berisik. Telingaku jadi sedikit sakit."

Gadis itu maju selangkah, memasangkan earphone yang tadi ia lepas ke telinga kiri Elang.

"Kalau gitu dengarkan musik saja supaya nggak terlalu sakit," bersamaan dengan itu Elang mulai mendengarkan lagu yang mengalun lembut di telinga kirinya. Senyumnya merekah refleks. Bisikan tadi menghilang sejenak.

"Namaku Erlangga. Panggil saja Elang," tangannya yang sudah tak memegangi telinga kini diulurkan pada sang gadis yang kemudian disambut dengan antusias. Jabat tangannya tidak keras seperti yang ia duga. Lembut, namun hangat dan meyakinkan.

Dulu, ia tak sesulit ini untuk berkenalan dengan orang. Sebelum semua bisikan itu datang, ia remaja periang dan disukai banyak orang.

"Aku Dara. Senang berkenalan dengan Mas Elang."

[Bersenang-senanglah Elang dengan musuh barumu.]

Sebelum gadis itu tahu bahwa dirinya yang tinggi dan perkasa ini telah didiagnosa gejala awal schizophrenia.

"Tentu," jawabnya antusias, dengan rasa pahit terselip di balik ucapannya.

***

Prompt #1 : This is a story about how I used to be a first contact specialist.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Apr 03, 2016 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Kumpulan Cerita (Sebuah Anthology)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora