Disinilah ia berdiri.
Di bagian kursi penumpang paling belakang sebuah pesawat yang mungkin akan take off beberapa menit lagi.
Memperhatikan sekelilingnya, sedari tadi ia hanya mengamati aktivitas di dalam pesawat itu.
Melihat orang di depannya sibuk mondar-mandir mencari dimana tempat duduknya.
Melihat orang yang sibuk merapikan barangnya.
Ia mencari orang untuk dimintai pertolongan.
Ashton tahu betul bahwa kekasihnya—Audrey, sangat sangatlah pelupa.
Hampir setiap hari Ashton harus memperingatkan Audrey untuk mengunci sharing apartement mereka berdua. Ya, mereka tinggal berdua dalam sebuah apartement yang mereka beli berdua juga.
"Ash!! Tolong matikan kompor di dapur! Aku lupa mematikannya!"
Ashton tersenyum.
Ia ingat betul Audrey yang sering berteriak dari kamar mandi meminta tolong Ashton untuk memperbaiki kecerobohannya.
Bahkan Audrey pernah lupa menaruh kunci kamar mandi dan hasilnya mereka memakai toilet di lobby apartement selama seharian.
Benar-benar Audrey.
Untuk keperluan sendiri pun masih sama. Ia masih Audrey yang pelupa.
"Ash, apa kau lihat kacamata baruku? Tadi aku sedang mencoba memakainya, tapi tiba-tiba ada pesan dari Lily, jadi aku langsung membaca pesan itu dan kacamataku hilang," Padahal, kacamatanya ada di atas kepalanya.
"Ash, pulpen pink yang kemarin aku beli jatuh kemana ya? Tadi aku sedang memakainya untuk menulis rancangan tugas kelompok-ku dengan Qania," Kalau kau menebak, itu benar. Ia sedang menggengam pulpennya.
Audrey juga selalu lupa menaruh DVD film India kesukaannya.
Apa ya judulnya?
Putaran? Perempatan? Pertigaan?
Aku lupa.
Audrey menderita penyakit komplikasi hati yang mengharuskan ia untuk meminum obatnya sehari 2x. Memang, penyakitnya ini tidak ada hubungannya dengan sifat pelupanya. Untungnya, Ashton selalu mengingatkan Audrey untuk meminum obatnya.
Sedari tadi, Ashton sibuk mencari pramugari/pramugara yang bisa ia mintai pertolongan untuk mengingatkan Audrey meminum obatnya.
Tiba-tiba, ada seorang pramugari berjalan kearahnya. Ashton buru-buru mendekatinya.
"Permisi, bolehkah aku minta tolong?" tanya Ashton sopan.
Pramugari itu tersenyum mendengar kata-kata Ashton. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari bername-tag 'Nava Adrien' itu.
"Umm.. Begini. Bisa kau ingatkan gadis di seat nomor 12 untuk meminum obatnya? Dia kekasihku. Ia selalu lupa meminum obatnya," jelas Ashton.
"Oh, baiklah. Akan kusampaikan," ucap pramugari itu sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak."
"Tidak masalah, Tuan," balasnya sambil pergi.
Pramugari berbaju biru itu segera berjalan ke seat nomor 12. Dan menemukan seorang gadis cantik yang duduk sendirian sedang membaca buku.
"Permisi, tapi aku dimintai tolong oleh kekasihmu dibelakang sana untuk meminum obatmu," Nava tersenyum kearah Audrey yang langsung mendongakkan kepalanya.
Audrey menatap Nava tidak percaya.
"A-Apa? Kekasihku?"
"Iya, kekasihmu. Di belakang sana," tunjuk Nava dengan sopan.
"Kau tidak bercanda kan?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Memangnya ad—"
Audrey mengusap matanya. Membuat matanya mulai mengeluarkan butiran-butiran air.
Tanpa disuruh, air mata itu turun dengan sendirinya.
Ia menangis.
Satu demi satu air matanya turun melewati setiap lekukan wajahnya. Bulir-bulir air mata itu jatuh ke atas buku yang sedang dibacanya. Membuatnya membentuk beberapa titikan lembab.
Merasa bingung, Nava akhirnya bertanya, "Apa ada yang salah, Nona?" tanyanya sedikit hati-hati. Takut membuat tangisan Audrey semakin pecah.
"Kekasihku sudah meninggal. Ia dan peti matinya ada di dalam pesawat ini, aku akan membawanya pulang ke keluarganya."
Merasa kaget, Nava segera mengalihkan pandangannya dari Audrey ke belakang.
Laki-laki itu sudah tidak ada disana.
———
a/n:
ga jelas banget ini aNJIE GUE NULIS APAAN NIH.
update:
8/06/18
HALOO SEMUANYAAA. Gue bikin short story baru genre thriller nih, castnya luke. Kalo yang suka cerita macem gini cek works yayayaya makasyii!
YOU ARE READING
airplane; afi
Mystery / ThrillerHanya cerita di pesawat yang akan dinaiki Audrey malam itu. [oneshot]
