"Kak.....bangun dong."
" Nggghh..... Sekarang masih jam 5, Tomi...."
"Jam lima?! Kakak ngaco! Sekarang udah jam setengah tujuh!"
"Apa?!"
JDUK
Rendy mengusap-usap kepalanya yang habis terbentur dengan kasur diatasnya. Ya, dia tidur di kasur dua lantai, dan dia berada di bawah. Di atasnya adalah Tomi, adik laki-lakinya yang masih kelas enam SD. Biasanya memang dia yang membangunkan kakaknya yang tidurnya seperti batu itu.
"Tuh kan, salah sendiri gak mau bangun! Gue udah pake seragam, nih!"
"Hush, masih dua belas tahun kok udah pake gue lo ke kakaknya?" Rendy memarahi adiknya yang hanya menjulurkan lidah.
"Terserah kakak deh!" Tomi pun mulai meninggalkan kamar tidur. "Yang penting udah dibangunin!"
Pintunya pun dibanting. Anak kelas 1 SMA itu hanya bisa pasrah melihat kelakuan adiknya itu. Entah kenapa orangnya pemarah, mirip seperti ibunya yang tak kalah marahnya.
'Mungkin lagi menginjak masa remaja.'
Tunggu, apakah dia harus memikirkan itu sekarang?
"Gua telat!!"
________________________________
Julie tiba-tiba meremas kertas yang barusan ditulisnya dan langsung dilempar ke tempat sampah. Tapi karena jaraknya jauh, sampah itu tidak sampai ke tujuannya. Tetapi Julie terlihat tidak peduli. Dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
Rendy hanya menghela nafas, "Udah, Jul, gak usah repot-repot. Gue aja udah bersyukur dipilih jadi bahan novel elu selanjutnya."
"Bukan itu masalahnyaaaa..." Julie merengek dan meminum lemon tea yang ada di sampingnya. Setelah meneguknya, ia menyambungkan pembicaraannya.
"Prolognya terlalu cliche, masa mau mulai cerita dengan protagonis yang bangunnya kesiangan? Mainstream ah!"
"Lah..... daripada nulis protagonis yang ngenalin diri langsung ke pembaca." kata Rendy dengan nada yang agak menyindir. Dia memang sedang menyindir seseorang.
Julie langsung mengetahui maksud ucapan Rendy, dan tertawa kecil. "Iya sih..."
"Udah, jangan murung melulu. Nanti bibirnya monyong loh."
"Kagak ada hubungannya, oy." Si pemuda berambut hitam itu hanya tertawa mendengar respon Julie. Tapi, tawa tersebut langsung mereda dengan cepat.
"Gue balik ya, Jul. Mau jemput si Tomi."
"Eh, udah jam segini?!" sontak Julie kaget ketika jam tangannya menunjukkan pukul tiga sore. Itu adalah waktu dimana sekolah SMP Tomi membubarkan para muridnya. Rendy biasa menjemputnya saat tidak ada urusan yang mendadak atau jika ia sedang tidak ada kerjaan.
"Iyalah. Cie yang buta waktu." ejek Rendy. Buku notes pun melayang dan menabrak mukanya.
"Makan tuh buku! Pikir dulu kalo mau ngomong." Julie bergegas merapikan barang-barangnya dan pergi meninggalkan meja. "Minggu depan kesini lagi ya. Dah, Rendy."
Rendy membalas dengan melambaikan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang dipakai untuk meraba pipi yang barusan kena benda keras tersebut. Julie tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan temannya itu.
Setelah Julie tidak terlihat lagi, Rendy menghela nafas panjang. Ia pun segera mengambil tasnya dan dipakai seenaknya, sementara buku notes yang tadi dilempar ada ditangannya.
"Yang punya buku siapa, malah dilempar. Dasar."
Cover buku tersebut jelas-jelas terlihat tulisan "IDE CERITA" yang ditulis dengan marker permanen berwarna putih. Tidak salah lagi kalau ini sepertinya buku penting bagi Julie. Sebagai seorang penulis amatir, dia akan menulis semua ide yang didapatnya saat berkeliling di berbagai tempat. Mungkin di toilet pun bisa.
'Tipikal. Akan kubalikkan besok........ setelah kulihat isi "ide-ide" ini tentunya.' Rendy tersenyum licik. Dalam pikirannya, tentu saja.
Tetapi ia masih heran. Kenapa Julie meninggalkan bukunya begitu saja? Atau jangan-jangan....
Beep beep beep.
"Ah, udah jam tiga lewat sepuluh."
Rendy pun pergi meninggalkan cafe untuk menjemput adiknya. Pertanyaan tersebut bisa ditunggu, bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
"WOY ANAK MUDA MAIN KABUR AJA!! MAKANANNYA BELOM DIBAYAR!!!"
"Eh, belum dibayar? Tadi bukannya-"
"JANGAN BANYAK ALASAN! KAMU PIKIR SEMUA KARWAYAN DI SINI ORANG KAYA SEMUA, HAH?! ZAMAN SAYA DULU TUH--"
Rendy pun telat menjemput Tomi. His little brother was not amused.
________________________________
"Jadi kakak telat jemput cuma gara-gara diceramahin sama mbak-mbak pelayan di cafe? Menyedihkan sekali."
"Kalau mas-mas yang marah, kakak juga pasti udah main kabur, Tom."
"Oh."
"......."
"......."
"Itu aja?"
"Ssshh. Kalau mau ngalahin aku, kakak perlu konsentrasi."
"Tom, ini catur setengah papan. Santai aja kali."
_______________________________
Apaan nih cerita, gaje :v
Udah lama mau bikin original story, tapi kalo dibiarin jadi draft aja kasian juga, jadi dipublish deh :v
Ceritanya kayaknya bakal nyamping, KAYAKNYA ya.
Thank you for reading! (or not)
YOU ARE READING
Sembilan Puluh Persen
General Fiction"Aku tidak pernah yakin dengan hal yang belum dipastikan kebenarannya." Itulah motto Rendy, anak kuliahan yang biasa-biasa saja. Sangat biasa sampai dia tidak bisa menyadari bakat yang tertanam dalam dirinya... (Buku ini dibuat dan dipublish untuk k...
