Chapter 6

3.3K 308 24
                                    

Aku berjalan memasuki kelas dan menerima kenyataan bahwa Gigi sedang tidak ada kelas dan justru aku sekelas dengan Harry dan Niall. Dua orang yang sama-sama menyebalkan meskipun Niall hanya sedikit sedangkan Harry sangat menyebalkan.

Aku duduk menempati bangku yang berada di tengah karena bangku depan sudah dipenuhi oleh orang lain. Hari ini aku memang telat karena permainan semalam. Harry yang selalu saja mengoceh dan menyalahkanku atas permainan bodoh ini hingga pada saatnya dia menghancurkan permainannya dan pulang sehingga semuanya ikut pulang seperti Harry. Aku ditinggal sendiri lagi dan aku memutuskan untuk tidur dan aku terbangun dengan jam yang salah. Aku bahkan mengira bahwa aku datang lebih cepat daripada siapapun. Namun pada kenyataannya malah aku lah yang terlalu lama datang dan terlambat.

"Jadi, kalian bisa buat kelompok untuk mengerjakan ini."

Aku terbangun dari lamunanku soal semalam dan melihat ke arah Mr. Fraser Bond karena aku sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan dan dia bicarakan. Aku hanya terdiam sedangkan anak-anak lain sibuk memilih teman untuk satu kelompok bersama.

"Apa kau belum dapat kelompok?" Aku menawarkan diriku pada gadis yang terdiam dan terlihat dari sorot matanya bahwa dia berharap mendapat kelompok terbaik dengan orang-orang pintar dan terkenal di dalamnya.

Dia mengangguk dan tanpa persetujuan apapun aku langsung menariknya untuk berada di kelompok ku. Aku mencari satu orang lagi dan aku menemukan orang yang sama. Orang yang terbuang dan tidak di anggap.

"Kalian berada di kelompok ku."

Mereka semua mengangguk dan bergabung bersama. Aku memerhatikan dua gadis ini menarik kursi untuk di duduki dan menunggu mereka untuk bersiap-siap. "Baiklah, jadi apa yang tadi Mr. Bond katakan? Aku sama sekali tidak tahu dan tidak mendengarkan perkataannya. Kau tahu, sangat membosankan."

"Kita hanya akan membuat tugas soal berita. Kita hanya akan disuruh menulis berita saja dan kita harus membuatnya sesuai fakta dan sesuai kejadian nyata."

Aku mengangguk mengerti. Hal mudah yang bisa di kerjakan secara cepat. "Sebelumnya, siapa namamu?"

"Aku Emily Thorne." Aku mengangguk melihatnya. Dia cantik dan rambut coklatnya yang tergerai membuatku iri dengan kecantikan yang dimilikinya. Herannya, mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku Jenny Henley."

Aku mengangguk lagi dan tersenyum. "Aku Kendall."

***

Aku berjalan keluar kelas dan hendak pulang. Rencana, Jenny dan Emily akan datang ke apartementku dan membahas soal berita apa saja yang akan kami tulis dan kami susun. Sepertinya itu semua batal karena aku melihat Harry berjalan mendekat ke arahku dan terlihat sekali dari wajahnya bahwa dia menahan emosi. Aku sudah sangat siap sekali mendengar ocehannya dan sifatnya yang selalu saja menyalahkanku.

"Ikut aku." Benar bukan? Sekarang dia menarik tanganku secara paksa dan membawaku ke parkiran. Dia membuka pintu mobilnya untukku. "Cepat masuk."

"Sabarlah." Aku sama sekali tidak menolak untuk di bawa pergi. Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku menolak. Itu semua hanya akan sia-sia dan percuma sehingga membuang tenaga dan energi ku saja.

Aku memakai sabuk pengaman dan pintu di banting sangat kencang. Harry pun ikut masuk dan dia memakai sabuk pengaman dengan cepat. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.

Setelah 5 menit perjalanan, kami pun sampai. Apa ini rumahnya? Jika ya maka aku akan sangat kagum. Bagaimana lelaki semacam dia bisa memiliki rumah? Aku pun membuka pintu mobil tanpa perintah darinya. Aku tidak peduli jika nanti dia akan mengomeli ku.

The GameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang