"Anda yakin sudah membuat janji terlebih dahulu Nona?" Janna menganggukan kepala dengan yakin dan tersenyum lebar untuk pertanyaan yang telah ditanyakannya sebanyak empat kali kepadanya. Dan ia masih melihat keraguan pada raut wajah respsionis tersebut.
"Baiklah, sebentar nona, aku akan menghubungi Manajer Kim," Resepsionis itu terlihat menyerah dan memencet tombol telepon. Jika bukan karena kakak dan abang iparnya, ia takkan mau mengahabiskan waktu liburan satu bulan di Korea Selatan hanya untuk ini. Kemudian ia melihat Sang Resepsionis Wanita itu berbicara dan menganggukan kepala kepada lawan bicaranya serta mengakhiri sambungan teleponnya. "Nona Jannata, maaf sudah menunggu. Silahkan naik ke lantai empat, ruang kelima sebelah kanan setelah elevator. Semoga hari anda menyenangkan"
"Ah, terima kasih," Janna mengangguk dan segera berjalan mencapai elevator. Sialnya ketika pintu elevator berdenting terbuka, Sekitaran empat orang pria berbadan tegap langsung memenuhi elevator dan yah, tanpa seorang wanitapun. Ia bisa melihat mereka menunggunya untuk masuk dan tak diragukan lagi bahwa mereka sedang terburu-buru.
"Maafkan saya, silahkan anda naik lebih dulu, saya akan naik elevator yang ehm..belum penuh," Serentak para pria itu mengerutkan kening dan memandangnya dengan aneh, kemudian memandangi ruangan elevator yang jelas sekali masih terlalu lebar untuk 4 orang. Tapi, tanpa menjawab, salah satu dari 4 pria tersebut yang berjas abu-abu langsung mengambil alih untuk memencet tombol tutup pintu elevator sambil memasang raut muka jengkel kepadanya. Untung saja mereka dalam keadaan terburu-buru Janna, jika tidak mungkin kau telah di marahi habis-habisan, Janna kembali menggumam di dalam hati.
Setelah sampai di lantai empat, jantungnya hampir berhenti berdetak. Padahal ia hanya perlu membantu abang iparnya, tapi rasa gugupnya, yang tentu saja manusiawi, terus saja membuat kakinya gemetaran. Ia menyelusuri koridor gedung tersebut dan mendapati dirinya berhenti tepat di pintu yang kelima yang bertuliskan Cho Jin Wook.
Kim Min Ho menutup telepon dari resepsionisnya sambil menghembuskan nafas berat. Sekarang ia merasa sedikit bersalah terhadap adik iparnya yang mau menggantikan pekerjaannya untuk satu bulan ke depan. Ia memang tidak bisa meninggalkan pekerjaanya begitu saja walaupun untuk kelahiran putri pertamanya. Awalnya, ia hanya meminta izin cuti selama satu bulan untuk kelahiran putrinya, akan tetapi Jin Wook malah memberikan izin cuti dengan syarat ia bisa mendapatkan orang yang menggantikannya untuk sementara waktu dengan tepat dan bertanggung jawab. Ketika ia menceritakan persyaratan ini kepada istrinya, tiba-tiba Jannata, adik dari istrinya yang kebetulan sedang ada dirumahnya, menyanggupi persyaratan yang dibebankan. Adik iparnya yang kebetulan sedang libur kuliah selama kurang lebih satu bulan itu tersenyum kearah kakaknya dan dirinya dengan senyuman meyakinkan. Ia tidak pernah ragu terhadap kemampuan maupun kebaikan adik iparnya, ia hanya khawatir dengan sikap Jin Wook. Menjadi manager dari penyanyi terkenal Cho Jin Wook bukanlah perkara yang mudah. Bahkan bisa dikatakan merupakan sebuah perkara diluar kemampuan dan akal sehat manusia.
"Jin Wook-ah, berjanjilah kau takkan menyakitinya oke?" Ia berbicara dengan khawatir kepada Jin Wook yang sedang bermain fruit ninja di tabletnya.
"Tenang saja hyung , asalkan ia bekerja dengan baik, aku akan baik-baik kepadanya-" Jin Wook menggodanya kemudian kembali melanjutkan, "-aku bercanda, tentu saja aku takkan bersikap jahat kepada adik iparmu hyung, apalagi ia seorang wanita" Ia melihat mata Jin Wook berubah jail ketika mengatakan seorang wanita. Seketika nadi dikepalanya berdenyut.
"Dengar anak muda, kau tak bisa sembarangan dengannya. Ia tidak seperti wanita kebanyakan yang ada di Korea, lebih baik kau kurungkan niatmu," Ia menatap Jin Wook dengan tatapan memperingatkan. Dan bisa ia lihat Jin Wook terkekeh sambil meletakkan tabletnya diatas meja.
YOU ARE READING
Heaven in Seoul, Jannata #OnGoing
Teen FictionMenjadi manager dari seorang artis yang sering melanggar persyaratan memang sangat menyebalkan. Rasanya satu bulan kontrak kerja terasa seperti satu juta abad! Cobaan terhadap imannya terus mendatangi dirinya bagai semut mendatangi gula. Dari a...
