1. Tentang Aurelia

350 14 3
                                        

~Happy reading~

"Dia Aurel?"

"Iya, dia kan ketua tim basket."

"Dia pinter juga, lhoo."

"Eh, dia anaknya Mc. Jasson kan?"

"Iya, siapa sih yang gak kenal ayahnya?"

"Keren ya? Ayahnya pengusaha terkenal, ibunya model papan atas."

"Kakaknya juga famous gitu di sekolahnya."

"Kakaknya ketua tim futsal di SMA Tunas Bangsa, kan?"

Gadis-gadis itu sibuk bergosip di taman sekolah seraya menunjuk ke suatu arah. Gadis yang namanya di sebut-sebut itu sedang duduk di bangku taman berwarna putih, di dekat air mancur. Di tangannya ada sebuah novel yang sedang di bacanya.

Ia jengah dengan pembicaraan itu. Diambilnya earphone dari dalam tasnya lalu menghubungkan ke ponselnya. Tak ingin kegiatannya terganggu. Gadis itu kembali membaca novelnya.

Dia Aurelia Nadeeva Mc. Jasson, lahir di keluarga Mc. Jasson. Pandai dalam bidang akademik dan hobi basketnya membuat Arel -sapaannya- menjadi kebanggaan di sekolahnya. Duduk di kelas 2 SMA Jaya Sakti.

Ibunya Clarissa Rhea Alika, Alika seorang model papan atas, dengan paras ayu dan tubuh proposionalnya. Tak lupa Alika adalah seorang ibu yang baik.

Rizaki Alger Mc. Jasson, Mc. Jasson seorang ayah yang tegas, kepala keluarga yang hebat, dan seorang pemimpin perusahaan yang bijaksana. Namun, sifat protektifnya terkadang membuat kedua anaknya jengah.

Fathan Aditya Mc. Jasson, seorang kapten tim futsal berwajah tampan dan berperawakan atletis itu duduk di kelas 3 SMA Tunas Bangsa. Seorang kakak yang begitu melindungi adiknya, Arel.

Hidup di keluarga yang sempurna, begitu menyenangkan. Tetapi Arel terkadang tidak nyaman berada di sana. Ayahnya begitu mengekang. Ia seperti tokoh yang di arahkan semau sang dalang. Siapa yang tidak mempunyai cita-cita? Semua orang pasti punya. Seperti dirinya. Namun ayahnya telah menentukan bahwa Arel harus menjadi penerus perusahaannya.

Seseorang menepuk bahunya, membuat Arel terlonjak kaget. Di lepaskannya headset dari telinga. "Rel, pulang yuk," ajak seorang gadis di sebelah Arel.

"Emang udah boleh pulang?" tanya Arel sembari membereskan barang-barangnya.

"Udah, guru-guru kan mau acara perpisahan sama guru pensiun, kita di pulangin," kata gadis itu. Dia Kirana Marcelia Madison atau Kiran, sahabat karib Arel sejak sekolah menengah pertama.

"Rel, jalan-jalan dulu yuk," ajak Kiran dengan semangat

"Aku ada bimbel, Ran," Arel bangkit dari kursinya.

"Masih pagi, Rel. masa iya kamu bimbel jam segini," Kiran membujuk Arel. Arel melirik jam tangannya. masih pukul 09.00, bimbel nya di mulai nanti sore.

"Ah iya, aku lupa hari ini pulang lebih awal, biasanya kan jam 2 baru pulang, Ran," ujar Arel di iringi cengirannya.

"Nyengir lagi, udah yuk jalan-jalan," Kiran menarik tangan Arel, mereka berjalan menuju warung makan langganan mereka di dekat sekolah.

"Kamu gak di cariin ayah over protective mu itu?" tanya Kiran saat mereka berdua sedang menjelajahi trotoar.

"Udah santai aja, masih jam sekolah,"

Sesampainya di warung padang langganan Kiran dan Arel, mereka langsung memesan makanan dan minumannya.

"Ran, aku kangen deh jalan-jalan sama kamu, kita selalu sibuk masing-masing," Arel membuka percakapan.

"Iya, jadwal makin padat aja, kalo aku lagi ada waktu pasti kamu ada jadwal basket kalo enggak bimbel, giliran kamu ada waktu, aku ada rapat OSIS lah, ekstra PMR lah, aduh yang udah jadi anak SMA," Kiran dan Arel tertawa.

"Dulu sih waktu SMP, kita sering kabur waktu pelajarannya Pak Kuswanto gara-gara kalo ngajar topik nya gak jelas," timpal Arel.

"Iya tuh, waduh kalo sekarang kabur-kaburan mah gak bakal bisa ya, kan?" Kiran meminta persetujuan.

"hmmm bener banget," obrolan di sela oleh ibu pedagang nasi padang yang mengantar makanan.

"Terimakasih, Bu," ucap Kiran dan Arel.

Setelah keduanya menghabiskan makanan, mereka memutuskan untuk pergi ke PERPUSDA -perpustakaan daerah-

"Ran, hidup kita lempeng banget ya, enggak ada ngawur-ngawur nya," kata Arel setelah memilih gazebo di depan Perpustakaan.

"Iya, kalo yang lain sibuk sama pacarnya kita mah dua-duaan sama tugas, huft," keluh Kiran.

"Harusnya sih orang tua kita bangga ya? Anaknya gak pernah keluar jalur," Arel mengeluarkan laptop nya.

"Iya, bangga. Tapi kita kan suntuk, masa iya pacarannya sama proposal tiap hari," Kiran menelentangkan badannya di atas kayu gazebo.

"Kalo kamu sama proposal, aku sama naskah yang selalu macet di otak," keluh Arel.

"Kamu nekat ya, Rel. padahal ayah kamu pasti enggak setuju kalo kamu jadi penulis," ujar Kiran.

"Selama enggak ketauan sih, enggak masalah Ran. Buktinya 2 novelku udah terbit," jari-jari Arel menari di atas keyboard.

"Iya juga," Kiran memberi jeda "Tapi ya, Rel. menurutku mending kamu lanjutin perusahaan ayah kamu dari pada buat novel, yang penghasilannya enggak seberapa," sambung Kiran.

"Cita-citaku kan bukan jadi penulis, Ran. Aku itu pengen jadi pilot. Menjelajah awan," sanggah Arel

"Sambil nulis novel gitu?" tanya Kiran.

"Gak gitu juga, aku nulis cuma ngisi waktu aja sih," terang Arel.

"Keren loh jadi penulis sekaligus pramugari, tapi terserah kamu aja sih," keduanya terdiam, hanya terdengar suara keyboard laptop Arel.

"emang kamu mau nerusin perusahaan ayahmu, Ran?" tanya Aurel akhirnya.

"Ya, terpaksa Rel. sebenernya aku kepengen jadi dokter, cuma mau gimana lagi," Ran menatap langit-langit gazebo.

"Lahir di keluarga mampu itu susah juga ya, Ran," Arel menyingkirkan laptop lalu ikut berbaring dengan Ran

"Kamu masih enak, Rel. kamu punya kakak, dia bisa ambil alih  perusahaan ayahmu," ada jeda pada kalimat Kiran "Sementara aku? Aku anak tunggal, semua perusahaan aku yang pegang, Rel,"

"Rumit ya, Ran?" tanya Arel.

"Begitulah,"

"Ran, kalo udah lulus SMA aku mau sekolah di Eagle Airline school, bisa enggak ya?" Arel menerawang.

"Bisa aja, kalo kamu kabur dari rumah," Ran bermaksud bercanda.

"Ide bagus," Aurel terduduk "aku kan punya uang di tabungan, hasil penerbitan novel, mungkin bisa buat kabur dari rumah terus sekolah penerbangan," Arel menatap Kiran dengan berbinar.

"Jangan nekat, Rel," Kiran mendengus geli melihat sikap Arel itu.

"Ya habis gimana lagi? Rasanya gak mungkin minta ayah masukin aku ke sekolah penerbangan," Arel meniup poninya.

"Bisa aja kalo di kasih jampi-jampi," balas Kiran seraya terkekeh.

"Ya kali," Arel memutar bola mata malas.

"Aku jadi kepengen sekolah kedokteran, Rel," Kiran mengambil posisi duduk

"Kedokteran itu mahal, Ran."

"Iya juga, udahlah aku jadi penerus papa aja," ujar Kiran pasrah.

"Labil," cibir Arel

"Balik yuk, udah jam 1 nih," Arel hendak beranjak.

"Rel, tunggu" Kiran mencegah "Itu Chiko bukan?" tanya Kiran selanjutnya seraya menunjuk seorang pria di depan pintu masuk.

"Chiko? Chiko yang mana?" tanya Arel bingung.

"Itu loh, Chiko Ananta Ichiro, temen SMP kita" jawab Kiran menggebu

"Chi- Chiko?" Arel tertegun.

~Thanks for reading~

Aurelia Where stories live. Discover now