Singa dalam diam

68 5 2
                                        


Aku tak tahu kenapa harus menceritakan gadis ini. Lastri, dia gadis miskin di kelas kami, meskipun nasibku tak jauh berbeda, tapi Lastri lebih miskin dari kami. Dia sering tidak naik kelas, bahkan dikehidupannya tak ada yang layak dijadikan contoh, tapi hidup Lastri-ku akan memperlihatkanmu sebuah pelajaran nyata tentang hidup.

Tak ada yang menyayangi Lastri, yang ada hanya rasa iba. Seragamnya tak pernah bersih dan rapi membuatnya tak pernah ada yang mau menemani, karena seperti kebanyakan budaya yang berkembang di tanah kita, yang miskin yang dibully. Sama halnya dengan Lastri, dia selalu menjadi bual-bualan dikelas. Dan anak orang kaya selalu menjadi bintang kelas entah bagaimana ceritanya. Akupun hanya siswa biasa, karena orangtuaku yang biasa. Aku sering duduk didepan kelas bersama Lastri, dia tak pernah membeli makanan saat jam istirahat, karena ia tak pernah membawa uang saku. Ia hanya bermain rumah-rumahan bersamaku, membangun rumah dan kemudian kami hancurkan saat bel masuk telah berbunyi.

Lastri, seperti kebanyakan anak pada umumnya, dia anak yang periang. Tapi senyumnya terhenti ketika seseorang mengolok ayahnya yang tewas ditiang gantungan. Ayahnya terlalu stress menanggung kemiskinan yang berkepanjangan, dan ibunya merasa terpukul atas kepergian suaminya, ia bekerja mencari biji "mindek", biji buah pohon mahoni yang laku dijual murah di pasaran.

Siang ini Lastri memerintahku menjaga rumah-rumahannya agar tidak dihacurkan oleh teman sekelasku yang jahil, karena Mbok Bon telah memerintahnya untuk membersihkan sisa lapak dagangannya. Mbok Bon adalah penjaga kantin sekolah kami, ia perempuan tua dengan rambut ikal dan berkaca mata tebal. Aku tak pernah tahu siapa nama aslinya, semenjak aku kelas satu sekolah dasar semua orang memanggilnya Mbok Bon. Yang kutahu mbok Bon adalah wanita pemarah jika jajanannya tak laku dan tersaingi dengan pendagang baru, ia akan segera berlari menemuinya lalu melabrak dan merusak semua perkakas dagangannya, dia berteriak-teriak bak serigala yang hendak memangsa. Sedang Lastri-ku, dia ditugaskan oleh mbok Bon untuk menyapu dan membersihkan sisa-sisa dagangannya agar tak merusuhi sekolah, dan imbalannya adalah uang sebesar 500,- rupiah dan es lilin sisa dagangan yang tak laku dijual.

Aku yang selalu penasaran dengan kehidupan Lastri pernah suatu hari berkunjung kerumahnya. Lastri memiliki banyak saudara, ada dua adik laki-laki dan perempuan. Rupanya Lastri sangat sibuk, ia tak pernah memiliki waktu untuk belajar, apalagi untuk bermain. Saat itu aku pergi menemuinya usai mengaji di madrasah, aku menjumpainya sedang menggendong adik lelakinya, dengan tubuh yang kecil Lastri sempoyongan.

"kau dari mana Las?" tanyaku.

 "dari rumah Mbah Kaji, bantu bungkus krupuk" jawabnya

"mmm.... Boleh aku kerumahmu?"

"ayo!"

Sore itu kubonceng Lastri dan adiknya dengan sepedaku, yang tinggiku belum sampai sedel. Ku kayuh sepedaku menuju rumah Lastri, dan adik kecilnya tertawa kegirangan saat roda-roda sepedaku melaju diturunan jalan curam yang berbatu. Rumah Lastri terbuat dari bambu, pintunya tertutup dan didepan rumahnya ada pohon jambu besar.

"tak ada orang dirumah, ibuku masih mencari biji mindek"

"kapan pulangnya?"

"nanti menjelang maghrib"

Lastri seorang diri dirumah bersama adik kecilnya, dia segera menyapu dan mencuci baju. Aku bermain bersama adiknya, melihat kayu penyangga rumahnya aku merasa ngeri membayangkan seorang mayat lelaki tua menggantung di bawahnya. Tapi adik Lastri selalu bermain gendong-gendongan boneka dan membuatkan sebuah ayunan yang talinya diikatkan pada tiang penyangga itu. Saat aku berada dibelakang rumahnya, menemani Lastri yang membasuh cucian dibawah pohon asem besar, aku melihat beberapa tumpukan karung yang berisi daun mahoni kering, tapi aku tak berani menanyakannya langsung kepadanya.

Esoknya saat sekolah telah dimulai, Fao teman lelaki sekelas kami tiba-tiba mengumpat didepan kelas kepada Lastri karena kertas ulangannya yang terjatuh dilantai terinjak oleh kaki Lastri yang baru saja masuk kelas. Fao bak lelaki yang kesurupan, ia mendorong tubuh Lastri hingga tersungkur, kemudian mukanya dihantam dengan pukulan dari tangan kecilnya, tubuhnya ditendang hingga darah tak karuan mengucur dari hidungnya. Aku menjerit-jerit dan keluar melaporkannya pada guru, sedang teman-temanku hanya bersorak sorai seolah menyaksikan pertandingan smackdown yang lawannya kalah telak.

Tapi aku kecewa siang itu, guruku datang ke kelas dan melerai keduanya, membawanya ke kantor dan esoknya seolah tidak ada apa-apa. Tidak ada teguran untuk Fao yang semena-mena. Aku mengantar pulang Lastri siang itu dengan sepedaku, hingga aku pulang larut sore dan tidak berangkat mengaji di madrasah. Sesampainya dirumah Lastri, aku memberi es batu pada lukanya, aku menangis terisak saat melihat mukanya penuh dengan lebam.

Esoknya Lastri tak kunjung datang ke sekolah, "mungkin ia sakit" pikirku, tapi pada hari-hari berikutnya ia tak pernah masuk sekolah, hingga wali kelas kami mengatakan bahwa Lastri telah keluar dari sekolah. Sorenya usai mengaji di madrasah aku pergi berkunjung kerumahnya, namun aku tak menjumpai Lastri ada dirumah dan adik lelakinya yang paling besar memberiku sepucuk surat.

Surat Lastri sangat panjang,

Untuk temanku,

Terimakasih, karena telah menjadi teman baikku bukan karena belas kasihanmu padaku, terimakasih karena telah melihatku sebagaimana layaknya manusia yang hidup.

Hari ini aku telah pergi merantau, pergi ketempat yang belum pernah aku injakkan kakiku disana. Tanah yang selalu aku gadang-gadang dapat menghasilkan pundi-pundi uang. Aku tak pernah merasa gamang, bagaimana rasa tanah itu aku tak berani menebaknya.

Dan Fao tak pernah salah, justru ia adalah manusia yang paling jujur kepadaku, ia berani mengungkapnya kepadaku, menghajarku tanpa rasa iba, baginya aku hanyalah seekor binatang najis yang menyentuh bendanya saja harus dibasuh tujuh kali, tapi sialnya yang kuinjak adalah kertas yang akan hancur jika terkena air, wajar jika siang itu ia menghajarku. Dan yang membuatku sakit bukan pukulan Fao, tapi beberapa kata yang keluar dari mulut-mulut yang tak pernah aku ketahui, dan kata-kata itu terus saja aku dengar seolah menghunus seperti pedang dan mengarah tepat di jantungku.

Sekarang aku tahu kenapa ibuku semakin menggila, bukan karena kematian ayahku yang memalukan, tetapi karena kata-kata itu yang selalu ia dengarkan. Dia tak pernah tahu kepada siapa rasa sakitnya dilampiaskan. Dan beberapa tumpukan karung yang kau lihat dibawah pohon asam dibelakang rumahku, itu adalah daun-daun mahoni kering yang dibawa ibuku pulang, jadi cerita tentang ibuku mencari biji mindek dan dijual dipasar, itu adalah kebohonganku.

Aku pergi dari rumahku bukan karena aku menghindari nasib buruk, tapi aku tak sanggup melihat adik-adikku yang terus saja kelaparan, aku ingin melihat adik-adikku makan layaknya manusia lainnya, bukan nasi setengah basi yang tiap pagi aku goreng atau nasi karak kering yang aku masak kembali, aku ingin adik bungsuku tau bagaimana rasa susu, bukan air tajin atau air garam yang aku berikan padanya.

Jangan salahkan siapapun ketika aku berhenti sekolah, karena seharusnya sudah dari dulu aku melakukannya. Ibuku akan menggila jika aku tak bekerja, bagaimana aku berfikir mengenai belajar dan sekolah? Cita-cita? Membayangkannya saja aku tak berani.

Ma'af, jika salam terakhirku melalui sepucuk surat ini, sebab mengatakannya langsung kepadamupun, aku tak berani.

Salamku,

Sulastri

 Mataku memerah membacanya, tak kuduga ternyata air mata mulai meleleh dari sudut mataku, kulipat kembali surat ini dan kusimpan dalam kaleng susu dilemariku.

                                                                                        -oOoOo- 

Pertama Nulis di Wattpad, semoga banyak yang ngritik teman-temans... ^_^

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 10, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SulastriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang