FAREWELL

1.4K 70 20
                                        

Saat itu salju turun dengan derasnya, langit gelap gulita tanpa sinar rembulan. Aku terseok-seok menyusuri jalan setapak, darah segar mengalir dari hidungku, sementara kakiku terasa membeku. Namun aku memaksakan diri untuk terus berjalan tanpa tahu kemana aku akan berhenti. Tiba-tiba angin berhembus hingga menusuk tulang, kepalaku terasa berdenyut-denyut, pandanganku seketika buram. Dingin. Itulah yang aku rasakan. Tubuhku terasa kaku dan napasku terasa sesak.

Saat itulah aku bertemu dengannya. Seorang pemuda bermata teduh menangkapku sebelum aku terjatuh, kulihat ia memandangku iba, lantas membiarkanku terkulai lemah di atas punggungnya. Hangat, itulah yang kurasakan. Ia menggendongku dan membawaku ke apartemen miliknya. Dalam kondisi setengah sadar, aku merasakan ia membaringkanku di atas kasur yang empuk. Lalu kurasakan ia mengobati lukaku, membersihkan wajahku dan menyelimuti tubuhku yang gemetaran. Hingga aku tersadar, ia tak mengusirku untuk pergi. Selama aku tak mempunyai tempat tujuan untuk pergi, ia membiarkanku tinggal di apartemennya.

Kebaikannya tak berhenti sampai disitu, ia membuatku terasa kembali hidup setelah jiwaku mati karena kecelakan yang menewaskan kedua orangtuaku hingga membuatku hidup seperti gelandangan. Ia mengulurkan tangan dan mengajakku bangkit. Aku pun menyambut uluran tangannya. Hari itu juga, jiwaku terasa terlahir kembali.

Selama tiga bulan aku mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikanku yang sempat tertunda. Setiap hari kami bekerja bersama-sama, melewati setiap detik dengan rasa kasih sayang yang luar biasa. Setiap detik pula perasaanku padanya terus tumbuh. Hingga aku menyadari bahwa aku benar benar mencintainya. Dan bagiku, cinta pertama dan terakhir hanya terjadi sekali seumur hidup. Aku berharap ia akan menjadi cinta pertama sekaligus cinta terakhirku... Entah ia akan membalasnya atau tidak, aku tidak peduli. Yang kutahu, aku takkan pernah menyesal memiliki perasaan ini.

*

Dari balik jendela, aku menatap ke arah luar dimana kelopak sakura luruh bersama rintikkan air hujan, sesaat aku melemparkan pandanganku ke arah kanvas yang masih bersih tanpa coretan. Sebelum kuas di tanganku bergerak, kuhirup aroma tanah yang di basahi oleh hujan ke dalam rongga dadaku.

Perlahan-lahan kuas itu menari-nari di atas kanvas hingga membentuk sebuah lukisan yang tergambar jelas di otakku. Meskipun aku tak mahir dalam seni, namun aku ingin mencobanya. Dan kali ini, aku membuatnya dengan sepenuh hati. Karena lukisan itu menggambarkan mimpiku. Mimpi yang sederhana.

Kulirik Jin Woo yang masih berkutat dengan kuas, palet, dan alat-alat lukis lainnya. Ia terlihat sangat serius, aku ingin tahu apa yang ia lukis hingga mata teduhnya tak melirik ke arah manapun.

"Hei, kau sudah selesai?" tanyaku begitu ia bangkit dari duduknya. Aku segera berlari ke arahnya namun ia buru-buru menahanku.

"Kenapa?"

"Kau tidak boleh melihatnya sampai hari ulangtahunmu."

"Hei, itu kan masih lama." protesku. Ia tetap menggeleng dan tak membiarkanku melihat bahkan menyentuh lukisannya. Bibirku mengerucut kesal, namun ia sama sekali tak menghiraukanku dan malah mendudukanku di depan easel dimana lukisanku berada.

Ia menyibak kain yang menutupi kanvas milikku, seketika lukisan seorang pria dan wanita berseragam dokter terlihat mencolok lantaran background yang kugunakan adalah atap gedung dimana sakura dan langit terlihat membentang indah. Kulirik Jin Woo yang masih terdiam, mata teduhnya menatap lukisan miliku dalam-dalam.

"Inilah mimpiku," ucapku pada Jin Woo. "Mimpi yang sederhana. Mimpi agar kita bisa menjadi seorang dokter di rumah sakit yang sama."

Jin Woo terperangah dengan ucapanku, kulihat ia mengulas senyum. Senyum yang tenang seperti air yang mengalir, namun tatapan teduhnya berubah menjadi sendu.

FAREWELLWhere stories live. Discover now