I'm Yours [Kim Mingyu]

154 16 14
                                        

Persetan dengan kehancuran kelas, aku sedang membaca! Semua orang tahu bahwa aku 'si-gila-novel'. Dan, well, aku tak perduli dengan mereka setitikpun jika aku dihadapkan dengan buku berratus-ratus halaman itu. Sedari tadi jemariku sibuk membolak-balik halaman demi halaman novel yang terpampang didepan mata. Sedangkan netra dan otakku sibuk mencerna tiap kalimatnya.

"Hei, dengar-dengar, Ryu Sujeong mencoba memeluk Mingyu sunbae kemarin sepulang sekolah!"

BUK

Aku menutup paksa novel tebalnya. Menjadikanku sorotan kelas sesaat.

"Ada apa sih dengannya? Aneh sekali..."

"Dia selalu sensitif kalau-kalau ada yang membahas Mingyu sunbae,"

"Kami tahu kalau kau juga menyukai Mingyu sunbae. Tapi janganlah egois, kita berbagi, oke?"

Aku bangkit dari dudukku. Dengan tangan yang memukul meja. Perlahan langkahku menepis jarak antaraku dengan kumpulan gadis-gadis jalang tadi.

"Diam saja jika kau tak tahu apa-apa, idiot!"

Aku berlalu keluar kelas dengan angkuh setelah mengatainya. Tapi demi Tuhan, baru kali ini aku menjadi ganas seperti tadi. Orang-orang bahkan sering bilang iri padaku dan mereka ingin menjadi diriku. Walaupun aku tak yakin mereka masih ingin menjadi sepertiku setelah kejadian tempo detik lalu.

Aku memutar tubuh tepat diambang pintu kelas- menghadap kanan. Dengan pose melipat tangan didada. Lihat-lihat keadaan sepanjang lorong kelas 11. Siapa tahu ada keajaiban misalnya cicak terbang atau dinosaurus terjungkal atau apalah.

"Kau tahu? Kemarin Mingyu sunbae membalas pesanku!"

"Hah? Bukannya Mingyu sunbae hanya mau membalas pesan orang yang dia suka?" aku melepas lipatan tanganku.

"Berarti dia... menyukaiku?"

"Wah, selamat Jung Yein!"

Heol, teori darimana yang menyatakan 'membalas pesan berarti suka'? Yak yak yak yak, sudah gila rupanya dia, Bung.

Susah memang alur hidupku. Tapi inilah aku, seorang gadis si murid biasa yang berpacaran dengan kakak kelas super tenar dan ya- monoton sekali, kau tahu? Layaknya difanfict-fanfict lain.

"Ya! Mingyu sunbae mana sudi suka dengan gadis kumuh sepertimu!" bentakku. Tanganku mengepal.

"Bilang saja kau iri karena tak kunjung dinotice dengannya," jawab Yein- sebenarnya aku tak begitu mengenal manusia itu sih. Lalu pergi meninggalkan sesi bertengkarnya denganku.

Huh! Sialan!

Badmood melandaku~

Kembali ku lipat tanganku didada. Menatap punggung Yein-Yein itu dengan kesal.

"Atap,"

Bisikan yang terlintas diindra pendengaranku. Membuatku penasaran dengan si pelaku, ku tolehkan kepala ke asal suara tadi. Lantas mendapati err- Mingyu sunbae sudah didepanku tengah berjalan mundur sambil tersenyum kearahku.

"Dasar sinting,"

---

Tanganku memutar knop pintu abu-abu ini.

KREK

Terbuka setengah. Langsung ku disapa dengan semilir angin setelah ku pilih untuk mantap memasuki ruangan terbuka yang disebut 'atap' tadi.

Aish, kunyuk ini memang tidak pernah tepat waktu.

Sepanjang waktu menunggunya, hanya ku gunakan untuk duduk melihat sekitar dengan tatapan tertegunnya ala anak kampung- aku belum pernah ke atap sebelumnya.

"Hei," tiba-tiba saja sosok yang kucari itu sudah memposisikan duduknya disampingku.

"Darimana saja kau, huh? Lama sekali," lantas lelaki bersurai cokelat tua itu menyodorkan lengan kirinya padaku. Menampakkan jam tangan berwarna hitam yang melingkar manis disana- hei, itu hadiah dariku!

"Lihat? Aku hanya terlambat tiga menit, sayang," ia menarik lengannya kembali.

"Terlambat tetaplah terlambat!"

Lelaki yang berstatus sebagai kekasihku selama 3 tahun ini hanya memasang wajah mencibir. Dan kau tahu, aku menang banyak dari gadis-gadis jalang penggemar Mingyu sunbae. Ya, karena aku mengenalnya dari masa masih sekolah dasar. Sedangkan mereka? Baru mengenal tiga bulan saja gayanya selangit.

"Kau badmood 'kan?"

"Tidak!"

"Kau bohong!"

"Ya! Kubilang tidak!"

"Aku benar mengenalmu, jangan menyangkal,"

"Ya! Kim Mingyu! Aish, aku tak mau memanggilmu sunbae lagi!"

"Aku tidak mengharap kau memanggilku sunbae,"

"Terserah!"

"Pasti gara-gara Jung Yein,"

"Maksudmu?"

"Ya, tadi aku melihatmu adu mulut dengannya,"

"Sejauh mana kau mendengarnya?"

"Hmm... Kurasa... dari awal sampai akhir?"

Aku membuang nafas kasar, "Apakah benar katanya?"

"Kata Mijoo tadi?" Mingyu tertawa renyah, "Hei, kalau aku membalas pesan tuan penjual tteokbokki apakah artinya aku suka dengannya? Aku bukan makhluk penyuka sesama jenis, ya,"

"Aku membalas pesan Yein karena dia anggota tim voli. Lagipula dia menanyakan jadwal pertandingan. Mana mungkin aku tak menjawab pesannya," Mingyu mengedikkan bahunya.

"Kebanyakan penggemar sih," sindirku kesal.

"Yak, jangan cemburu,"

Tangan kanannya tiba-tiba saja sudah bertengger dibahuku. Menggeretku. Dan kata 'jarak' mungkin sudah tak membatasi kami lagi.

Mingyu mendekatkan wajahnya ketelingaku, "Kan aku kamu punya,"

———————————————————

author bek egen bawa vignette acak adul gak beraturan:v
sebenarnya ini hanya kisah nyata yang difiksikan/? halah apasih bahasanya:v

pokoknya author minta maaf kalo typo bertebaran, penulisan gak rapi, bahasa muter2:v lah yang penting author udh berusaha njelasin sedetail mungkin adegan yang ada.

ok, jangan lupa vomment, tengkyuu:*

-tempe

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 10, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Vignette CollectionStories to obsess over. Discover now