1

188 16 5
                                        

"Besok jangan ada yang ketinggalan satu barangpun, kalo ada yang ketinggalan atau lupa atau apapun alasan kalian nanti, saya pastiin kalian sekelas kena hukuman semua." ucap salah seorang dari empat orang yang berdiri di depan kelas.

Sementara di depan empat orang itu ada 34 murid yang sedang sibuk mencatat apa yang sebelumnya telah ditulis oleh satu dari empat orang yang menggunakan nametag 'PANITIA MOPDB' itu. Dan tanpa mengadah kepala, 34 murid itu mengangguk.

"Dek! Denger nggak sih orang ngomong?! Kalo orang di depan ngomong di lihat, kalo ditanya, jawab! Kalian nggak bisu, kan?!" salah satu orang yang lain dari empat orang ber-nametag PANITIA MOPDB itu berbicara dengan nada tinggi.

Suara itu berhasil menyita seluruh perhatian para murid. Bahkan yang tadinya sedang mencatatpun langsung melepas pulpennya dengan tegang. Dan sekarang, suasana kelas sangat mencekam.

"NGERTI NGGAK?!" orang itu meninggikan lagi suaranya lagi.

"Ngerti, kak!!" ucap 34 murid itu bersamaan tanpa lepas dari suara tegang mereka.

Dan detik demi detik, berlalu, menit, berlalu, dan sekarang sudah waktunya bagi mereka untuk pulang kerumah mereka. Tapi bukan perempuan namnaya jika tidak ada obrolan disetiap aktivitasnya.

"Eh, Shaf? Inget tadi, gak?" yang bertanya itu namanya Mawar. Yang ditanya tadi namanya Anyadinda Shafa, tapi maunya dipanggil Shafa.

"Yang mana ya, War?" Shafa balik bertanya untuk memastikan.

"Yang tadi, kak Uchi bentak kita." jawab Mawar memberi kepastian pertanyaan.

"Oh.. inget, kenapa emangnya?" Shafapun penasaran dengan arah pembicaraan Mawar.

"Ituloh, kan jelas jelas Kak Puji nggak ngasih pertanyaan,kan. Kak Puji-kan Cuma memperingati kita biar gak lupa. Tapi kak Uchi malah bentak, udah gitu bilangnya kita ditanya lagi, jadi sebel gue" jelas Mawar panjang. Dan Shafa pun mengangguk-angguk jelas.

"Mungkin Kak Uchi salah tangkep kali. Udah ah jangan di bahas, nggak baik." jawab Shafa sekenanya.

"Kamu mah, Shaf. Jadi anak baik banget. Aku bingung mama kamu kasih apa sampe kamu sebaik ini. Walaupun kita baru kenal enam jam, sih" puji Mawar akan ucapan Shafa sebelumnya.

"Hahaha. Awas, suatu saat aku juga bisa jadi jahat," canda Shafa. "omong omong, War. Rumah kamu ke arah mana?" Lanjutnya.

"Oh? Rumahku kearah kanan dari depan sekolah. Tapi rumahku jauh. Rumah kamu sendiri dimana, Shaf?"

"Aku gak jauh dari sini, kok. Belok ke kanan, tapi." jawab Shafa. Shafa memang sengaja memilih sekolah yang tidak jauh dari rumahnya, agar tidak terburu jika kesiangan.

"Enak ya.." gumam Mawar, "cari perlengkapan buat MOS bareng mau, gak?" ajak Mawar.

"Boleh, kapan?" Shafa yang telah menyetujui langsung bertanya.

"Besok sih, maunya. Soalnya hari ini mau di ajak jalan sama Mamaku. Hehe.."  ucap Mawar lalu terkekeh.

"Yaudah besok aja, ketemuan di sekolah aja, atau gimana?" tanya Shafa.

"Hm... Iya besok ketemuan di sekolah aja. Nantu aku minta anter sama supirku aja kali, ya?" Jawab Mawar yang lebih bertanya pada dirinya sendiri.

"Boleh deh. Biar irit ongkos. Hehe" jawab Shafa.

"Eh, iya, Shaf. Aku dijemputnya masih lama. Mampir kerumah kamu dulu boleh, nggak?" pinta Mawar.

"Mau kerumah ku? Ayo ayo. Gapapa. Biasanya jam segini orang tua ku belum pulang kerja. Paling cuma ada Hanif, adik aku." Shafa menyetujui permintaan Mawar.

Shafa adalah tipikal anak yang mudah beradaptasi di lingkungan yang ia sukai. Tapi jika ia merasa kurang nyaman, ia akan benar benar kikuk dan bisa merusak suasana.

"Serius? Ayo deh sekarang biar mainnya bisa agak lamaan" Mawar sangat bersemangat untuk berkunjung ke rumah Shafa. Pasalnya, ia tidak mempunyai banyak teman saat SMP.

"Ayo, tapi jalannya pelan pelan aja ya. Soalnya di daerah sini itu adem. Kalo buru buru nggak berasa deh udaranya" Saran Shafa.

"Iya. Iya" balas Mawar.

~~~

Ketika sampai di rumah Shafa, Shafa langsung mengajak Mawar ke kamarnya. Alasan mengapa Shafa mengajak Mawar ke kamarnya adalah satu; Hanif itu rusuh. Meskipun mereka sama sama perempuan, kakak beradik itu tidak pernah akur sedikitpun. Selalu ada saja hal yang membuat mereka saling berteriak mengejek.

"Kenapa nggak dibawah aja, Shaf?" tanya Mawar beberapa detik setelah menjatuhkan bokongnya di kasur kesayangan Shafa itu.

"Ada Hanif, lagi nggak mau ribut sama dia," ucap Shafa sekenanya.

"Emang kenapa sama adik perempuan kamu itu?" tanya Mawar, lagi.

"Dia itu rusuh. Dia bakal gangguin kita pasti deh. Percaya sama aku" Jawab Shafa menjelaskan. "ngomong ngomong, kamu dari SMP mana, War?" Shafa yang bertanya kali ini.

"Oh, itu. Aku dari SMP Pramawardhana. Tapi waktu kelas tujuh sama delapan, aku homescholling. Kamu sediri dari SMP mana, Shaf?"

"Aku dari SMP deket sini, kok. Kamu tadi lihat SMPN 143 didepan komplek, nggak? Nah aku disana," jawab Shafa detail.

"Iya, iya. Aku lihat, bagus ya. Hijau banget sekolahnya," puji Mawar.

"Begitu, deh. Aku betah diasana. Saking betahnya 3 tahun berasa 3 bulan. Hahaha" Shafa-pun menjelaskan akan kekagumannya pada sekolahnya dulu.

Shafa memang sangat mengincar SMP itu dari dia masih kelas 3 SD. Sekolah itu tetap memukau Shafa walau ia sudah pernah 3 tahun disana. "Masih kurang", katanya.

Sekolahnya dipuji seperti itu membawa Shafa pada memori bahagianya disana.

Di sana ia mempunya banyak teman. Banyak yang kagum dengan sifatnya yang ramah. Semua adik kelas, bahkan alumni, mereka mengenal Shafa. Shafa bagai ratu disana. Tapi ia tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seorang ratu.

Siapa yang tak kenal Shafa. Pemegang ranking paralel 1 berturut turut selama enam semester di SMP. Selain cerdas, jiwa sosialnya pun tinggi. Kegiatan amal yang ia cetuskan saat mendaftarkan diri sebagai ketua OSIS, masih dilakukan oleh sekolah itu sampai sekarang.

Shafa yang serba bisa.

Itu yang ada dimata orang. Tapi sesungguhnya dari seluruh kejadian bahagia di Menengah Pertamanya. Ada satu kejadia yang ia benar benar lupa. Lebih tepatnya dibuat lupa.

-----

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 15, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Remember UsStories to obsess over. Discover now