1. Di jodohkan?

289 13 2
                                        

Sudah tiga hari aku tidak keluar kamar. Alasannya karena si Papih main ngejodohin aku sama anak temannya, yang ternyata teman sekelasku. Ehm.... ralat kami hanya sekelas ajah, tidak berteman. Waktu itu, aku dan keluargaku sedang makan malam dirumah seperti biasa. Lalu, papih bertanya apakah aku kenal Rey. Terus aku bilang kami sekelas, dan si papih bilang kalau dia menjodohkan aku dengan Rey. Pokoknya, gitu cerita singkatnya.

Ihhh naudzubilah.... Masa yang kaya gitu Di jodohin sama aku sih. Rey itu cowok cupu. Walaupun tidak dengan kacamata tebal, rambut belah tengah, celana kedodoran, dan baju yang dikancingkan sampai atas. Rey memakai kacamata minus biasa, rambut disisir kesamping dengan rapi. Dan itu sudah cukup membuat Rey dicap cupu. Apa lagi Rey orangnya jarang bergaul, dan payah dalam olahraga. Hobinya cuma baca. Waktu istirahat aja dia cuma pergi ke perpustakaan atau diam di kelas.

Keesokan paginya, Aku menatap cermin melihat wajahku yang nelangsa. Mataku sembab. Lalu aku menguncir rambutku, dan mengambil tas ransel ku. Tadinya, aku mau bolos sebulan, gara-gara ngambek sama si papih. Tapi, mau gimana lagi. Si Papih malah balik marah, dan kalau si papih marah gak ada yang bisa ngebantah. Si mamih aja yang udah papih anggap belahan jiwanya, gak berani. Pokoknya kalau papih marah parah banget deh.

Aku menuruni tangga, menuju ruang makan.

"Chessa berangkat dulu" aku pamit tanpa cium tangan terlebih dahulu, maklum orang lagi marah.

"Gak sarapan dulu ches" tanya mamih

"Nanti ajah, disekolah"

"Hati-hati yah ches" ucap papih

Cuih. Tuhkan? Papih mah gak merasa bersalah sedikit pun. Orang tua durhaka.

Diperjalanan aku hanya diam meratapi nasibku. Sesampainya di kelas aku melihat Rey sudah duduk di kursinya sedang membaca buku tebal, entah apa judulnya. Tapi sepertinya bukan buku pelajaran. Aku langsung menaruh tasku di meja dan mendekapnya dengan kedua tangan lalu menelengkupkan wajahku.

"Woy ches, lo kenapa?" Tanya Ryan sahabatku. Maklum cewek jagoan temenannya sama cowok. Ia bertanya sambil menendang kaki meja, sehingga posisiku terganggu.

"Apaan sih ganggu aja" Aku bangkit dan membetulkan posisiku. Lalu menghadap Ryan untuk memarahinya karena telah menggangguku

"MATA LO KENAPA? ABIS NANGIS YAH?"

"LO NANGIS?" Hendra yang duduk di depanku langsung berbalik

"Huahahaha"
Lalu mereka tertawa bersama

Sialan

"Woy gak perlu teriak-teriak kali"

Tepat pada saat itu bu Idah Datang. Fiuh, selamet. Aku gak akan di buly lagi.

*Bel istirahat*
"Ke kantin yok" ajak Ryan

"Duluan aja, nanti gue nyusul" balasku

Ryan keluar kelas bareng Hendra. Aku melihat sekeliling kelas. Sip, udah gak ada siapa-siapa, hanya aku dan Rey. Aku menghampiri meja Rey dan berdiri di sampingnya.

"Eh cupu"
Rey menatapku tanpa menunjukan ekpresi apapun. Aduh, kok jadi bingung gini yah. Gimana bilangnya,

"Gue di jodohin" Ucapku. Tapi Rey hanya diam. Kok aku jadi kaya orang bego ya, kalau Rey belum tau gimana? Kan kesannya jadi aneh.

"Hm. Jadi lo udah tau." Ucap Rey tak peduli.

Ternyata dia udah tau. Tunggu. Tapi kok, dia gak ada muka keberatan sedikitpun kaya aku. Apa jangan-jangan dia setuju lagi? Gimana kalau sebenarnya dia ada rasa? Aish, brengsek banget, berani-beraninya dia suka sama aku. Tadinya mau langsung ku hajar nih orang, tapi gak jadi.

"Gue gak mau di jodohin sama lo" Erangku

"Terus?" Ucapnya santai. Sejujurnya aku heran. Kenapa Rey selalu terlihat santai.

"Terus apanya" balasku sedikit emosi

"terus loe mau apa" Balasnya
Gue juga gak tau

"Pokoknya semuanya harus batal" Ucapku dengan keyakinan penuh

"Caranya?" Dia menatapku dengan menaikan sebelah alisnya.
Nah ini permasalahnya

"Gue juga gak tau" Aku menjawab dengan sedikit hembusan nafas. Menandakan ada sedikit kepasrahan.

Rey hanya mendengus. Mungkin saat ini dia menganggap aku orang yang paling bodoh di dunia.

Hey, Nerd!!!Where stories live. Discover now