Author Pov
Hari itu masih pagi, SMP Negeri 3 Purwokerto masih sepi, baru beberapa murid yang berangkat. Akan tetapi, Hana sudah uring-uringan sendiri di kelasnya.
Tangan kanannya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, sementara tangan kirinya sibuk membolak-balik sebuah surat yang, entah kenapa terdapat bekas kissmark berwarna merah menyala. Tidak hanya satu, tapi banyak, lebih dari sepuluh kalau Hana perkirakan.
Selain bekas kissmark, dirinya bahkan sanggup mencium bau parfum yang benar-benar kuat sampai-sampai Hana berpikir kalau surat itu kejatuhan parfum satu liter. Baunya benar-benar membuat Hana pusing, bahkan gadis itu terpaksa menutup hidungnya sejenak.
Hana menarik nafas, dirinya kembali membolak-balik surat tersebut, berharap surat itu salah alamat. Karena, dari penampilannya Hana merasa kalau surat itu sepertinya ditujukan untuk laki-laki di kelasnya. Hanya saja, surat itu malah berada di laci mejanya.
Keningnya semakin berkerut saat melihat tulisan kecil di ujung kanan bagian depan surat tersebut. Agak tersamar, berhubung ditulis menggunakan tinta merah dan kissmark yang juga berada di dekat tulisan tersebut.
For my beloved,
Amaria Hanalita Izzati
P.s. it's a secret, don't let others know ;)
My beloved. Hana merasa ingin muntah saat membaca bagian tersebut. Akan tetapi, keningnya kembali berkerut. Surat ini ditujukan untuknya, tapi kenapa ada banyak kissmark?
Dan...surat ini bersifat rahasia? Memang isinya apa? Kunci jawaban UN? Hana langsung menggelengkan kepalanya, ini hari ke-5 UN SMP selesai!
Semoga suratnya bukan dari seorang lesbian.
Hana baru akan merobek amplop surat tersebut, saat tiba-tiba ekor matanya melihat tiga orang berjalan masuk ke dalam kelas. Perempuan semua, dan teman sekelasnya. Buru-buru, Hana menyimpan surat tersebut di saku roknya.
"Hai, Hana!" sapa ketiga murid tersebut, yang dibalas dengan senyuman Hana. Dirinya bahkan tidak mampu mengeluarkan suara, saking kaget dan paniknya.
Ketiga murid itu, Alma, Vera, dan Bella langsung duduk di kursi masing-masing. Sementara itu, Hana langsung bangkit, dan berjalan keluar dari kelas. Dia sudah penasaran dengan isi surat tersebut.
Sejenak, Hana celingak-celinguk melihat kiri-kanannya. Dan tak lama, gadis itu sudah berjalan menuju toilet perempuan sekolahnya yang terletak di lantai dasar.
***
For my beloved,
Amaria Hanalita Izzati.
Jika kau mendapat surat ini, maka bersiaplah, nantinya kau akan menerima sebuah paket penting.
Ketentuan selanjutnya akan terlampir bersama paket tersebut.
Simpan surat ini, jangan sampai orang lain tahu, ok?
Good luck ;)
L.S.
P.s. Kau harus siap menjadi seorang pemimpin, ok?
Hana terdiam, isi suratnya benar-benar pendek, tapi ditulis di atas kertas folio. Dengan tinta merah sepertinya. Hanya anehnya, kalimat itu tertulis tepat di tengah-tengah kertas folio tersebut.
Sisanya? Kissmark semua. Ada lebih dari 20 bekas kalau dilihat sekilas. Bahkan ada yang tumpang tindih. Hanya saja, warnanya berbeda. Merah menyala, pink, oranye, ungu, cream, coklat, sampai warna hitam, hijau, dan biru pun ada!
Hana benar-benar berharap, orang yang mengirim surat tersebut bukan orang gila yang kaya mendadak.
Hana menghela nafas, kemudian mengendus kertas folio tersebut. Mencoba menerka bau yang ada.
Hana mengernyit. Bau kertasnya benar-benar bertolak belakang dengan bau amplopnya. Dia kembali mengendus kertasnya, dan sama saja.
"Bau ini...darah?"
Hana langsung mengamati tulisan pada kertas tersebut. Dirabanya tulisan tersebut, kemudian Hana mengendus tepat pada bagian tulisan tersebut. Begitu pula dengan amplopnya, dia juga meraba dan mengendusnya pada bagian tulisannya.
"Surat ini...benar-benar ditulis menggunakan darah. Tapi, benar-benar rapi!" gumam Hana tak percaya.
Sejenak, Hana melirik jam tangannya. Hana baru sadar kalau dirinya sudah menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit di dalam kamar mandi.
Bergegas, Hana memasukkan isi surat tersebut ke amplopnya, dan disimpannya surat tersebut ke dalam saku roknya. Gadis itu menghela nafas, kemudian membuka pintu di belakangnya dan berjalan keluar dari kamar mandi tersebut.
***
Hana Pov
Hai, aku Amaria Hanalita Izzati, cukup panggil aku Hana. Bisa dibilang, aku adalah orang yang baru dibuat pusing dengan sebuah surat yang entah sejak kapan ada di laci mejaku.
Aku tidak bohong, surat ini benar-benar membingungkan sekaligus menyebalkan, sumpah! Kissmark-nya banyak banget, tulisannya sedikit banget, bau amplopnya benar-benar memusingkan...
Dan tentu saja, isi surat yang ditulis menggunakan darah, juga bau darah yang khas dari kertasnya.
Kalau soal tulisan sih, kemungkinan besar ditulis menggunakan ujung dari bulu unggas (tahu maksudnya, kan?) karena ujungnya tajam tapi agak lebar, sesuai lah dengan ukuran pulpen. Soal darah, yah, sepertinya tidak jauh-jauh hubungannya dengan binatang yang baru dia cabuti bulu-bulunya.
Tapi tetap saja, ini menyebalkan! Dari kissmark-nya saja, sudah bisa dipastikan kalau orang yang mengirimkan surat ini adalah perempuan. Hanya saja, kenapa dia repot-repot membuat surat dengan "jejak" yang banyak banget?
Satu lagi, inisial namanya, L.S. yang kemungkinan adalah nama samaran. Dan lagi, bisa kupastikan pelakunya bukan orang-orang sekolah.
Jawabannya simpel, cewek-cewek sekolahku nggak bakal punya lipstik dengan aneka warna seperti ini. Kalaupun ada, tapi nggak bakal ada yang punya lipstik dengan warna hitam, hijau, atau biru, kan?
Guru-guru? Oh ayolah, sejak kapan guru-guru di sekolahku punya lipstik dengan aneka warna yang aneh-aneh? Nggak bakal ada, kan?
Yang jelas, pelakunya adalah orang luar. Tapi, kalau orang luar, bagaimana caranya masuk ke dalam sekolah? Sekalipun kuakui, tingkat keamanan di sekolahku tergolong standar.
Yang pasti, bagaimana caranya orang ini tahu letak mejaku? Kalau cara masuk ke dalam kelas, okelah, mungkin dia masuk lewat jendela kelas, karena di kelasku jendelanya ada yang pecah dan dibiarkan terbuka begitu saja.
Mata-mata? Jelas mustahil. Nyuruh murid lain? Yang benar aja, mana ada yang mau disuruh ngasih surat yang banyak kissmark-nya? Masa iya, orang ini pakai jurus setan?
Arrghh...sialan! Pikiranku jadi keruh gara-gara surat sialan nan terkutuk ini!
Sudahlah, lebih baik kulanjutkan nanti saja! Di rumah sekalian!
***
**
*
Hai, saya pendatang baru! Yah, nggak baru-baru amat, sih. Selama ini sih, saya sudah sibuk menjadi silent reader lantaran nggak ada waktu buat vomment. Baru akhir-akhir ini ngasih vomment.
Dan, yah, sekarang cuma pengen coba-coba buat cerita, kira-kira bagus apa nggak. Oh ya, sebagai pengingat, latar cerita saya ini pada bulan Mei tahun 2016, karena settingnya ngambil pas habis UN SMP, biar gampang buatnya.
Cerita ini terinspirasi dari geng Five Brothers yang ada di sekolahku. Geng yang anggotanya 5 cowok populer di sekolahku. Anaknya sih, nggak ganteng-ganteng amat, tapi banyak cewek yang suka, sampai ada yang dari sekolah lain, lho! Dan, yah, saya pinjam namanya, ya!
Selain itu, saya juga terinspirasi sama satu video yang mereka buat, dan diunggah ke Instagram. Sumpah, itu video bikin ngakak abis! Saya sendiri nggak tau mereka berlima masih waras apa nggak *dilempar sandal.
Oke, silahkan vomment, ya! Silahkan mau dikomentari sepedas apapun, saya terima kok! Soal jadwal update, masih belum tahu, mungkin untuk update yang selanjutnya agak berantakan waktunya, maklum, udah mau masuk sekolah lagi, dan saya sendiri sudah kelas 9!
Okelah, daripada kebanyakan curcol, lebih baik saya stop di sini. Sekali lagi, ditunggu vomment-nya!
Salam,
Diptya Pradya
YOU ARE READING
The Deadly Games
Mystery / ThrillerMereka hanya bisa terpaku, melihat kendaraan-kendaraan yang sudah tidak berbentuk lagi. Saling bertabrakan satu sama lain. Entah sudah berapa kali mereka menyaksikan kejadian serupa dengan ini, menjadi saksi utama sekaligus orang pertama yang meliha...
