Chapter 1

128 16 5
                                        

Seperti biasa pagi ini aku akan pergi ke sekolah, menuntut ilmu, belajar dengan giat, lulus, masuk universitas, kerja, menikah. Oke itu sedikit berlebihan. Ah itu karena aku terlalu berimajinasi menjalani itu semua dengan mudah. Setelah aku siap, aku menuju ruang makan yang berada di lantai dasar rumahku. Rumah orang tuaku tepatnya.
Mereka sudah berkumpul disana siap menyantap sarapan pagi ini.
Aku duduk disamping kakak laki-lakiku. Panggil saja dia Liam, karena memang itu namanya.

Oke aku sudah memperkenalkannya tapi aku belum meperkenalkan diriku sendiri. Perkenalkan namaku Leena Clare Payne, usiaku 16 tahun, Liam Payne kakakku, aku anak bungsu, aku tinggal dengan Mom&Dad ku. Sarapan pagi ini menu spesial buatan Mom and Deyna. Deyna ia adalah orang yang membantu pekerjaan dirumah ini. Setelah sarapan aku mengoles beberapa lembar roti dengan selai kacang yang akan kubawa kesekolah. Setelah sarapan aku dan Liam pamit pada Mom, ya karena Dad sedang diluar kota. Pamit dengan Dayne juga tentunya. Kami bersekolah di lokasi yang berdampingan. Liam ada di Universitas dan aku Senior High School, karena masih satu yayasan jadi berada di lokasi yang sama. Hanya sebuah pagar tembok biasa yang memisahkan antara bangunan SMA dan Kampus. Setelah sampai aku langsung menuju ruang kelasku dan Liam menuju kelasnya juga.
Suasana kelas ketika tidak ada guru, berisik. Anak-anak yang duduk diatas meja, menggambar-gambar di papan tulis kelas, melempar bola-bola kertas, dan yang lain-lainnya.

"Hai Lee" sapa Shawn.

Shawn adalah sahabatku dan aku sangat dekat dengannya. Ia sahabat yang baik, perhatian, dan ia juga pendengar yang baik.

"Pagi Shawn" sahutku.

Ia adalah teman sebangku ku, sejak pertama masuk SMA. Sebenarnya kami berteman sejak SMP.

"Mau roti selai kacang?"
"Terimakasih boleh juga"

Lalu kami berdua makan roti selai kacang yang kubawa dari rumah.

"Lihat anak-anak itu. Mencoret papan tulis dengan lukisan abstrak mereka, menyampah dengang gumpalan kertas, naik dan duduk diatas meja. Mereka terlihat liar." Kataku sambil memperhatikan anak-anak dikelas ini, ¾ dari mereka seperti yang kuucapkan tadi dan sisanya diam, tenang tak banyak ulah, Aku dan Shawn masuk ke kategori ini.

"Ah begitulah. Lihat Dominic dia yang paling ribut" sahut Shawn

"Dia dan gengnya juga pembuat onar. Menindas junior dan memihak senior. Entah apa jadinya kalau dia berada di kelas XII nanti"

"Pasti ia merasa bahwa dirinya serta geng rusuhnya sebagai penguasa"

"Jujur aku tidak suka dengan sikapnya. Senioritas itu tidak adil bagi junior a.k.a kelas X mereka berada di tingkat awal, dan memiliki senior di kelas XI & XII yang suka mem-bully mereka"

Dan tak lama seorang guru datang, semua murid langsung menempati tempat mereka masing-masing. Meninggalkan coretan abstrak mereka di papan tulis kelas. Guru yang melihat coretan itu hanya menggelengkan kepala, mungkin ia sudah lelah meladeni Dominic dan gengnya. Sekumpulan anak laki-laki pembuat onar disekolah. Itu deskripsi singkat tentang mereka.

Dan pelajaran dimulai seperti biasa.

Saat bel istirahat berdering semua murid berhamburan menuju kantin.

Aku dan Shawn berjalan beriringan menuruni tangga menuju kantin yang berada dilantai bawah. Apa aku sudah bilang kalau kelasku dilantai tiga? Agak menyebalkan memang memiliki kelas dilantai paling atas naik turun tangga setiap hari. Sebenaranya ada lift tapi aku jarang menggunakan lift itu karena para guru lebih sering menggunakannya, namun ada juga murid yang menggunakan lift itu. Aku dan Shawn menganggap naik turun tangga sekolah seperti olahraga rutin kami. Meski kadang kalau kepepet aku memakai lift itu.

Death Zone [Slow Update]Stories to obsess over. Discover now