Prolog

75 1 0
                                        

Seorang laki-laki berperawakan tinggi berjalan menyusuri koridor sebuah rumah sakit. Pakaian serba hijau, dengan tutup kepala dan masker penutup mulut lengkap ia kenakan. Matanya yang dibingkai alis tebal terlihat sayu, sementara pandangannya kosong. 

Langkah laki-laki itu berhenti di depan sebuah pintu. Tangannya terulur untuk memutar kenopnya. Begitu ia masuk, suara elektrokardiograf menyambutnya, bersama dengan pemandangan seorang perempuan yang terbaring tak sadarkan diri di depannya.

Laki-laki itu menghampirinya, mencoba melihat perempuan itu dari dekat. Keadaannya masih belum juga membaik. Semalam dokter memvonis kalau ia koma. Kini alat-alat medis dipasang untuk menyokong hidupnya. Kepalanya masih dibalut perban putih. Operasi kepala yang dijalaninya semalam membuat rambutnya harus dipangkas habis. Lebam masih terlihat di mata sebelah kiri. Sebuah selang masih terpasang di mulutnya. Sedangkan, lehernya masih ditumpu cervical collar.

Ia menatap kedua mata sang perempuan, seolah mereka terbuka dan juga menatapnya.

"Walaupun keadaan kamu seperti ini sekarang, saya tahu kamu pasti dengar," ujar laki-laki itu buka suara. "Ini saya."

"Maaf. Karena saya kamu harus jadi seperti ini. Maaf. Maafkan saya."

"Saat pertama kali kita bertemu, saya pikir hal itu hanya kebetulan. Kalau melihat bagaimana kamu telah mengubah saya menjadi seperti sekarang ini, mungkin seperti katamu, takdir yang mengatur atas semua ini." Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur emosinya sendiri.

"Satu hal lagi yang kamu rubah dari saya. Barusan saya ke musala. For the first time. Dan itu karena kamu. Katamu Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti mengabulkan permintaan hamba-Nya. Karena itu saya tahu kamu pasti bangun. Kamu harus bangun.." 

Laki-laki itu berhenti, kemudian menunduk. Tenggorokonnya tercekat. Ia gagal mengatur hatinya sendiri. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya, membuat jemari perempuan yang tengah digenggamnya kini basah. 

Setelah bisa menguasai dirinya, ia kembali menatap kedua mata itu.

"Walaupun saat kamu bangun nanti saya sudah nggak ada lagi disini, kamu harus janji sama saya.. kamu harus terus bahagia. Don't let anyone steal your happiness. Kamu jelek banget kalau cemberut," lanjutnya lalu tertawa kecil.

"Kita nggak tahu takdir akan membawa kita kemana di masa depan. Kemana pun itu, semoga saya bisa bertemu lagi sama kamu untuk melunasi hutang saya, ya."

Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah sang perempuan. Tangan kanannya, tanpa ia sadari, sudah menangkup pipi tirus di hadapannya.

"Saya bersyukur bisa ketemu sama kamu. I will miss you, a lot. So, maybe, see you when I see you?" bisiknya sambil sekuat tenaga mengguratkan senyuman. 

Laki-laki itu kemudian menegakkan badannya. Matanya masih terus memandang sang perempuan lekat-lekat. 

Puas memandanginya, ia pun berjalan keluar. Ia berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan rumah sakit itu, dan meninggalkan kota London. Juga meninggalkan sang perempuan, jika tidak ada lagi takdir yang tersurat untuk mereka berdua.

***

The Sun, the Moon, and the Stars.Stories to obsess over. Discover now