Prolog

3.2K 163 16
                                        

Sudah 10hari orang tua Jessica Veranda meninggal dunia. Baik mama maupun papa nya meninggal karena sebuah kecelakaan kereta. Andai saja saat itu jadwal perjalanan dapat dibatalkan, mungkin sampai sekarang Ve masih bisa berkumpul dengan keluarga. Namun sayang, maut tidak dapat dihindarkan. Kini gadis berumur 20tahun itu hanya bisa mengutuki nasib buruknya.

Ve terduduk di bibir ranjang dengan sebuah laptop di pangkuannya. Gadis itu tidak berkutat sedari tadi. Matanya terlalu fokus pada layar laptop yang menyilau. Ada sekitar 20website lowongan kerja online yang Ve telusuri. Mulai dari lowongan menjadi maid restaurant hingga sekertaris di perusahaan besar ia daftarkan. Semoga saja gadis itu mendapatkan pekerjaan dalam minggu - minggu ini. Ini saatnya Ve memulai sebuah perjuangan sendiri. Karena Ve hidup seorang diri dan tidak ada yang bisa membiayai hidupnya kecuali dari usahanya sendiri, yaitu berkerja mencari pundi - pundi rupiah.

*Ting.. Tong..*

Seseorang menekan bel dari luar. Lantas Ve bangkit dari ranjang dan keluar kamar untuk menerima tamu.

Ve mengintip dari celah gordyn yang sedikit terbuka, tepat di depan pintu rumah terdapat seorang pria berjas hitam sedang berdiri dengan gagah. Pria itu tampak membawa tas hitam serta beberapa dokumen di tangannya. Sudut mata Ve menyipit, dia terheran akan siapakah pria berpenampilan bak bos itu. Apakah dia seorang bos yang akan menerima Ve untuk bekerja di perusahaannya? Perasaan gadis itu baru mulai melamar kerja dari kemarin sore. Cepat sekali responnya.

Sudut bibir Ve seketika tersungging,

Siapapun pria itu, aku harap ini adalah sebuah pertanda baik.

Pun Veranda membukakan pintu dan menyambut pria itu dengan sopan. Ve langsung mempersilahkannya untuk duduk di kursi tamu. Rasa penasaran Ve nyaris tidak dapat ditahan setelah ia membaca "Putra Company" di sebuah map berukuran besar.

"Apakah anda anak dari Rovero Tanumiharja?"

Ve mengangguk "Iya, benar. Ada apa ya tuan?" Tanya Ve heran.

Pria itu tersenyum "Tepat sekali. Saya ingin menunjukkan ini" Lalu ia menyodorkan beberapa dokumen ke hadapan Ve.

"Rovero mempunyai hutang sebesar 500juta pada perusahaan kami. Saya harap anda sebagai anak dari Tuan Rovero dapat melunasi semua hutang - hutang orang tua anda" tambahnya selagi Ve membaca dokumen yang baru dia berikan.

"AーApa?" Mata Ve seketika terbelalak menatap lembaran kertas di tangannya. "Bagaimana bisa papa saya berhutang sebesar ini? Buat apa uang sebanyak itu?!"

"Saya kurang tahu persisnya, disana sudah tertera nama orang tua anda beserta tanda tangannya di atas materai"

"Saーsaya tidak sanggup melunasi hutang sebesar ini tuan..."

"Tuan Steffen Brawijaya Putra" ucap pria itu.

Ve menunduk sambil menyerahkan kembali lembaran kertas tersebut kepada tuan Steffen, pemilik perusahaan putra company.

"Kalau begitu saya selaku pemilik perusahaan putra company, akan mengambil kebijakan agar hutang piutang ini dapat segera terlunaskan"

Ve mengernyit, "Kebijakan apa tuan? Saya seorang pengangguran dan saya tidak akan mampu membayar hutang sebesar itu"

"Anda saya angkat sebagai sekretaris perusahaan Putra Company. Gaji akan dibotong sebesar 50% untuk menyicil hutang. Bagaimana?"

Ve mengangguk, menyetujui tawaran Steffen. Semua ini Ve lakukan demi melunasi hutang papanya yang telah lalu. Toh dengan bekerja di Putra Company, dirinya tidak perlu repot - repot lagi mencari pekerjaan. Ya, meskipun Ve harus berlapang dada jika kenyataan berkata bahwa gajinya dipotong 50%. Tapi setidaknya gadis itu mendapatkan uang perbulannya. Walaupun sedikit.

Imperfect WeddingWhere stories live. Discover now