Lima

2.7K 196 4
                                        

"Life will not be colored if there is no challenge in it." -author.

Author's POV (begitu seterusnya)

"Hai. Kok kamu diem aja? Kamu ga suka ya duduk sama aku?" Tanya seorang gadis yang duduk tepat di sebelah kanannya. Ia lirik matanya yang terlihat sedih.

"Aku hanya membutuhkan teman. Kamu gak mau ya jadi temanku? Kalo gitu, aku pind-" Belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya, Vano memotongnya dengan cepat.

"Well, karena kasus gue sama lo sama jadi gue mau jadi temen lo." Katanya dengan wajah datar dan melanjutkan membaca bukunya. Sejujurnya, Vano sangatlah tidak mau berteman dengan perempuan lagi. Karena ia trauma jika teman perempuannya itu menghianatinya bahkan mengecewakannya. Namun, jika melihat tatapan sedihnya tadi, Vano tak sampai hati membiarkan gadis tersebut sendirian. Apalagi dengan statusnya yaitu 'anak baru'.

Bel istirahat pertama berbunyi. Semua murid meninggalkan kelas untuk menikmati istirahatnya. Terkecuali Vano, ia bingung apa yang akan ia lakukan selama satu jam ke depan.

"There is no better place than right by your side.. I had a little taste.."

Vano mengerutkan dahinya. Siapa yang bernyanyi saat semua orang tidak ada di kelas?

Ia tau, pasti Safa-lah yang bernyanyi barusan.

"Lo tau lagu itu?" Tanyaku dengan suara yang sedikit serak karena aku belum meminum apapun dari pagi.

"E-eh iya aku tau. A-aku ganggu kamu, ya?" Jawabnya gugup.

Tiba-tiba munculah ide untuk menghilangkan rasa jenuh untiluk satu jam ke depan.

"Ikut gue." Dan ya, aku menarik tangannya keluar menuju kelas dan membawanya menuju tempat favoritku.

Setelah melintasi 5 kelas dan menaiki 15 anak tangga, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Tempat yang sangat disukai Vano.

"Ruang musik?" Tanyanya kagum sekaligus terkejut.

Tanpa aba-aba, dia membuka slot pintu tersebut. Pandangannya menyapu seluruh isi yang ada di dalamnya. Dari mulai piano, gitar, drum, hingga biola. Safa mengambil salah satu dari alat musik tadi dan memainkannya.

"Wow. Gue ga nyangka lo bisa main gitar juga." Puji Vano kagum. Dia tak tahu bahwa gadis sepolos Safa ternyata bisa memainkan alat musik.

"Well, karena disini ada dua gitar. Let's play together!" Ajaknya pada Safa.

"Depapepe? I mean, Canon?" Balasnya penuh semangat. Dan mereka menghabiskan jam istirahatnya di ruang musik.

Hari itu adalah hari terbaik bagi dirinya dan Safa. Mereka berdua terlihat sangat terhibur dengan permainan gitar tadi. Bahkan, ini baru beberapa jam Vano duduk sebangku bersama Safa namun dia sudah cukup nyaman berada di sampingnya. Begitu pun dengan Safa.

******

Matahari mulai bergerak ke arah barat. Vano melajukan motornya menuju minimarket dekat sekolahnya. Ia disuruh oleh Bundanya untuk membeli selai dan juga mayonaise. Setelah mengambil bahan-bahan yang Bundanya perintahkan dan juga sedikit snack yang ia butuhkan, Vano berjalan menuju kasir. Ia menyapu pandangannya ke arah sekolahnya. Sepi memang. Namun ia melihat sesuatu di depan sekolahnya. Vano memicingkan matanya. Safa masih ada disana. Dahinya berkerut. Mengapa jam segini ia belum pulang? Padahal jam sekolah sudah berakhir 2 jam yang lalu. Maka setelah ia membayar belanjaannya, Vano memutuskan untuk menemui Safa di depan sekolah.

Vano sudah berada di hadapan Safa. Namun dia terlihat asik dengan pikirannya sendiri. Vano melambaikan tangannya di depan wajah Safa, dia tetap diam dan tak berkedip.

"Safa? Hei, jangan ngelamun." Ucap Vano pelan sambil menepuk bahunya.

Safa tersadar dari lamunannya. Ia mengerjapkan matanya. Terlihat wajahnya yang sedikit terkejut atas keberadaan Vano.

"Kamu kok ada disini?" Tanyanya heran. Ia memang sedang menunggu papanya datang. Tapi ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Vano yang datang.

"Gue ga sengaja liat lo dari minimarket sana." Tangannya menunjuk sebuah minimarket yang tadi ia datangi untuk membeli kebutuhannya dan Bundanya.

"O-oh iya. Aku lagi nungguin papa." Balasnya singkat tanpa ingin melihat lawan bicaranya.

Setelah itu, Vano duduk di sebelahnya. Ia menghela napas. Vano merasa ada yang tidak beres dengan gadis di sampingnya ini. Tak lama setelah itu, Jip hitam berhenti tepat di sebrang mereka. Sang pemilik jip yang Vano kira berusia 40 tahunan keluar dari mobilnya dengan tatapan datar dan aura dingin. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Vano menatap Safa dengan pandangan lo-kenal-orang-ini? Namun, Safa tidak menjawab pertanyan Vano. Ia hanya fokus terhadap lelaki sang pemilik jip hitam tadi. Ternyata itu adalah papanya.

"Pa, kenalin ini temen Safa namanya Vano. Va-no, kenalin ini papa aku." Ucapnya sedikit gugup karena ia tahu bahwa suasana sekarang sangatlah canggung.

Vano hanya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan lelaki tadi setelah Vano memperkenalkan dirinya. Namun lelaki tersebut tidak bereaksi apa-apa. Tatapannya terlihat sangat marah. Dan benar saja, lelaki tersebut menarik tangan Safa menuj jipnya dengan paksa.

"Ayo cepat pulang!" Kata lelaki tersebut dingin. Safa hanya mengaduh karena tangannya yang ditarik sangat kuat oleh papanya.

"Maaf om, tapi om jangan kasar sama perempuan. Apalagi anak sendiri. Safa kesakitan om." Terang Vano kepada lelaki itu. Vano sedikit berani karena ia merasa kasihan dengan Safa. Tanpa ada yang menduga, lelaki tersebut berbalik badan dan-

"Jangan dekati anak saya lagi atau Anda tahu sendiri akibatnya!" Jelas lelaki tadi sambil membawa Safa masuk ke dalam mobil. Dan dari situ Vano tau bahwa ia akan terus mendekati Safa dan hidupnya akan penuh dengan ancaman.

---------------------------------------------------------------------------------

A/n

Bersyukurlah karena hari ini libur jadi bisa update deh hehe

Sejauh ini, menurut kalian gimana sama ceritanya? Ngeboseninkah? Atau seru? Atau gimana? Comment ya sarannya, sangat dibutuhkan sekali (:

Salam hangat,

awdallaz


Love Between UsWhere stories live. Discover now