Pagi ini suasana cerah, sangat. Tapi berbeda dengan Tisha yang sedang mengalami mendung.
Erza sedang pacaran di depan kelasnya, itu membuat suasana hati Tisha sangat kontras dengan langit pagi ini.
"Alay banget sih gue! Emang gue siapanya?" Batin Tisha mencemooh dirinya sendiri.
Dia kira Erza single, ternyata Erza sudah punya pacar dan Tisha baru mengetahuinya.
Tapi menurut Tisha ini wajar karena cowo seganteng Erza pasti banyak yang menyukai dan punya fanbase tersendiri.
Yah wajar aja sih lagian seorang cewe normal pasti ga akan bisa menolak pesona Erza jika dia tersenyum, apalagi menampakan deretan giginya yang rata itu.
Erza tinggi, atlet olahraga, ketua ekskul basket, ga ada yg kurang dari dia. Tapi bisa jadi hal yg mungkin juga sih, kecuali kalo dia pacaran sama Shawn Mendes.
Jam istirahat pun akhirnya tiba. Tisha yg sedari tadi memang sedang bad mood di tambah pelajaran Pa Rasyid, membuat kepalanya jadi pusing dan tampangnya tambah kusut.
Ratih yang sedari tadi berceloteh ria sambil menggandengnya berjalan ke kantin hanya di tanggapi Tisha dengan gumaman.
"Kusut banget tuh muka kaya bajunya Tejo*," Kata Alifa diiringi tawa Syarifah dan Zahra, sementara Ratih sedang fokus bergelut dengan baksonya.
*Tejo, anak bandel yang mungkin ga pernah mandi.
"Dialah, ga segitunya kelezz," Tisha menenggelamkan mukanya di dalam kedua tangannya yg terlipat di meja.
"Sha, lu jadi ga masuk tempat les gua? Ada noh yg kosong satu, soalnya Della pindah," Tanya Syarifah, membuatnya ingat sesuatu yg di sampaikan Mamanya.
Dia harus cepat memperbaiki nilai agar dapat jalur undangan ke UI walaupun dia masih bimbang memilih masuk jurusan apa.
"Jadi, nyokap bilang udah boleh masuk hari ini, tapi kayaknya gue baru bisa masuk jumat, soalnya ada kerja kelompok," Balas Tisha dengan mood yg lebih baik.
Tisha sekolah seperti hanya main saja tanpa ada ilmu yg nyantol di otaknya, itu semua karena gurunya begitu, ga ada yg bener, ada yg sambil kumur kumur kalo ngomong, ada juga yg turun ke bawah alasannya sih haus tapi ga balik balik.
Apa mungkin otak Tisha yg bebel jadi ga ada satu pun ilmu yg masuk ke otak, istilahnya mau masuk tapi mampet jadinya keluar lagi.
"Lo sekelas sama gue aja Sha," Ajak Ratih senang dan ternyata baksonya sudah ludes.
"Mending sama gue Sha, jangan mau sama Ratih," Kata Syarifah.
"Sha mending jangan sama Syari, entar lu enggak pinter pinter, becanda mulu," Ucap Zahra dengan mulut penuh roti.
"Ga tau gue mau yg mana," Tisha berkata seakan sedang menentukan nasibnya. Dia sedang malas berfikir untuk berdebat.
"Udah elah ga usah les, mending private kaya gua, gurunya ganteng lagi, mahasiswa cuyy," Alifa berkata dengan wajah yg berbunga bunga dengan seburat merah di pipinya.
"Yeh dasar lo," Tisha menjitak kepala Alifa bersama dengan Ratih dan Zahra. Sementara Syarifah dengan botol aqua nya yg sudah kosong.
.
.
.
.
"Sha nih ke perpus, ambil buku yang ada didaftar ini yak," Ucap Maya yang baru menyalakan laptopnya.
Tisha berjalan sendirian ke perpustakaan, karena anggota kelompok hanya bertiga jadi ya gaada yang bisa diajak nemenin dia karena sudah memiliki tugas masing-masing.
Setelah membuat kartu perpustakaan, dia mulai menyisiri beberapa bilik dan baru menemukan 2 buku dari 5 buku yang harus dicari.
Setelah agak putus asa akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada lelaki berhodie yang sedang duduk membelakanginya.
"Em, sori, tau buku Sastra di mana?" Tanya Tisha sambil menoel-noel pundak cowo itu.
"Oh, sastra. Bilik kedua sebelah kanan," Balas lelaki itu yang ternyata Erza.
Tisha kaget, dia tidak mengira kalo Erza akan ada di perpus. Dia kira cowo seperti Erza sukanya main basket atau futsal dilapangan.
Rasa kagumnya pun bertambah saat melihat Erza membaca buku mungkin sekitar >700 halaman dan buku yang covernya terlihat tua.
Dilain sisi sebenarnya Erza ga suka diperpustakaan, jika bukan karena menunggu Aron, Lebih baik dia ke lapangan bermain basket bersama anak lainnya.
Dan sejujurnya dia sangat bosan dan ingin beranjak pergi karena orang yang ditunggunya sangat lama, bahkan Aron menitipkan buku-buku jadul yang saat Erza buka adalah buku sejarah. How bored his life? Batin Erza untuk Aron.
"Mma kasih Za," Ucap Tisha agak grogi.
Erza membalas dengan senyuman! Tisha jadi grogi banget, mungkin ini yang orang bilang 'senyummu mengalihkan duniaku', tatapannya itu loh beuh udah kaya laser.
.
.
.
.
.
Setelah mendapatkan semua buku, Tisha langsung kembali ke kelas daripada melihat Erza terus, apalagi tadi Erza menanyakan namanya dan sempat meminta Tisha menemaninya.
Tapi dia sadar, Erza udah punya pacar!! Kenapa sih orang ganteng laku semua?!. Akhirnya Tisha menolak daripada dicakar pacarnya.
"Ketemu semua ga Sha?" Tanya Maya.
"Iya May, ada semua kok," Jawab Tisha mantap.
Mereka semua mengerjakan tugas masing-masing, tapi Tisha malah bengong dan mengetukan-etukan pulpennya di meja membuat suara yang berisik.
"Sha, Tisha," Ucap Gisel membuat Tisha tersadar bahwa daritadi dia hanya bengong. "Kok bengong, mikir apa sih? Ketemu cogan ya di perpus?" Lanjut Gisel sambil tersenyum menggodanya.
"Eh? Enggak mikir apa-apa kok, cuman kalo cogan perpus bener hehe," Balas Tisha.
"Ohh, pasti Aron kan?" Cetus Maya yang langsung melupakan tugas yabg dia buat.
"Bukan bukan, namanya Erza." Ucap Tisha membenarkan.
"Erza?" Ucap Maya bingung.
"Erza IPS 2?" Tanya Gisel ga percaya.
"Emang ada Erza lain?" Tanya Tisha ragu-ragu.
"Salah orang kali Sha, Erza keperpus tuh mungkin sekali setahun. Itupun balikin buku doang," Ucap Gisel sambil tertawa.
"Dia alergi perpus malahan Sha," Ucap Maya kemudian tertawa bersama Gisel.
"Lebayy, ga segitunya kali may," Tisha malah ikutan tertawa.
"Lo masih baru Sha, kita udah setengah tahun, beda pemikiran," Ucap Maya yang dilanjutkan dengan anggukan Gisel.
Tisha hanya tersenyum dan mengangguk, walaupun pikirannya memikirkan banyak hal.
•ו
Bersambung
DU LIEST GERADE
REGRET
JugendliteraturDia membuat duniaku berubah jungkir balik. -M.Aron Adriansyah Dia membuatku tertarik saat mengenalnya. -Erza Rahardinan Semua kesalahanku. -Latisha Pradipta Utami
