Tidak terasa sudah pagi. Untung saja hari ini aku ada kerjaan. Aku sangat tidak sabar bertemu dengan Ali. Setelah kejadian kemarin, aku jadi sadar siapa aku ini. Benar, Ali sudah mempunyai seseorang dihatinya. Dan aku harus tau diri aku ini siapa.
"Oh iya, nelfon Ali. Gue lupa" seruku lalu membuka hape. Aku mencari nomor hape Ali lalu menelfonnya. Aku harap hari ini adalah hari yang baik.
"Halo bos?"
"Halo, apa Prill?"
"Jangan panggil Prill dong, panggil Ily aja"
"Terserah gue dong, gue 'kan bos lo!"
"Ya, ya serah dah serah"
"Ngapain lo telfon?"
"Lo lupa? Katanya lo ada misi"
"Misi?"
"Iya, misi"
"Hem... oh iya, gue lupa. Hari ini gue jemput lo deh!"
"Oke, jam berapa?"
"Jam 10an deh"
"Oh, masih lama dong"
"Iya"
"Yaudah deh, gue tutup"
"Iya"
"Iya, lo aja yang tutup"
"Iya, gue tutup"
"Kok belum ditutup hehe"
Jangan ditutup deh, masih kangen.
"Lo duluan aja deh" ujar Ali.
"Ih, 'kan lo dulu"
"Lo aja deh"
"Gue dulu ya"
"Iya"
"Yaudah gue tutup"
"Oke. Duaaar telfonan sama siapa lo? E... eh, gue tutup ya!" Ujar Ali terburu-buru karena ada suara seorang perempuan yang tiba-tiba berbicara di telfon.
Tuut
Tuut
Tuut
"Eh, Li? Ali? Halo? Bos? Yah, dimatiin. Tadi suara siapa ya? Kok kayak suara cewe sih?" Tanyaku kebingungan. Sebenarnya disitu aku sangat cemburu. Aku sangat rindu kepada Ali. Walaupun beberapa jam tapi seperti sudah setahun bahkan lebih.
Yasudahlah, lebih baik aku jogging saja.
Ali POV
"Ah, jongging dulu deh! Biar sehat" ucapku sambil ganti baju.
Miss chubby is calling.
"Prilly? Kebetulan banget nih gue lagi kangen sama dia" ujarku sambil tersenyum melihat hape lalu duduk diatas kasur.
"Halo bos?"
ANDA SEDANG MEMBACA
Detektif✔
Fiksyen PeminatKehilangan ayah kandungnya, membuat Prilly mengikuti kelompok detektif yang aktif di sekolahnya. Ia di pertemukan dengan Ali yang ternyata adalah ketua tim detektif di sekolahnya. Ia mengalami beberapa kesulitan saat ingin mengikuti tim detektif ter...
