ACHA'S STORY 1

127 3 0
                                        

Jam menunjukkan pukul tiga pagi ketika Acha mulai merasakan sesuatu. Awalnya hanya seperti mimpi basah. Tubuhnya digerayangi tangan kasar yang hangat. Puting kanannya dipelintir pelan, lalu digosok dengan ibu jari. Di bawah, ada sesuatu yang basah dan hangat menempel di bibir memeknya—lidah. Suara slurpp... slurpp... pelan tapi jelas terdengar di kesunyian kamar. Lidah itu menjilat dari bawah ke atas, menekan klitoris, lalu masuk sedikit ke liang yang masih basah bekas colmek tadi.

Acha mengerang dalam tidur, pinggulnya bergerak tidak sadar mencari lebih banyak. Ia masih mengira ini hanya mimpi karena masa ovulasinya. Tapi sensasinya terlalu nyata. Lidah itu bergerak lebih berani, menghisap klitorisnya, lalu menjilat dalam seolah ingin menelan seluruh cairan yang keluar. Tangan yang tadi di dada sekarang meremas kedua payudaranya bergantian, memelintir puting sampai sedikit sakit tapi nikmat.

Acha membuka mata perlahan.

Cahaya layar ponsel yang masih menyala menerangi wajah pria di antara pahanya. Rambut tipis, wajah berkerut, kumis tipis, dan mata yang gelap menatap ke atas. Pak Heru. Bapak kosnya yang berusia empat puluhan akhir, biasanya hanya terlihat saat menagih uang sewa atau memperbaiki lampu rusak.

Acha membelalak. "Pa—Pak Heru...?!" suaranya serak, kaget.

Pak Heru tidak menjawab dengan kata. Ia naik ke atas tubuh Acha dengan cepat, lututnya menekan seprai di sisi pinggang gadis itu, lalu mencumbui bibir Acha dalam-dalam. Bau rokok dan sedikit keringat memenuhi hidung Acha. Acha mendorong dadanya, mencoba memalingkan wajah.

"Jangan. Ahh, lepas... Pak!"

Tapi dua jari panjang dan kasar Pak Heru sudah menerobos masuk ke liang memeknya tanpa peringatan. Jari-jari itu menekan dinding dalam yang masih sensitif, menggaruk titik yang membuat Acha tersentak. Tubuhnya menegang, lalu melemas. Protes di bibirnya berubah jadi erangan tertahan saat jari itu bergerak keluar-masuk, ibu jarinya menggosok klitoris bersamaan.

Acha menggeleng, tapi pinggulnya sudah bergerak mengikuti jari itu. "Nggak... ini salah... ahh..."

Pak Heru menarik jarinya keluar, lalu merobek celana dalam Acha dengan sekali tarikan. Kain tipis itu sobek di bagian selangkangan. Ia membuka resleting celana sendiri, mengeluarkan kontol yang sudah tegang sempurna—tidak terlalu panjang tapi tebal, urat-uratnya menonjol, kepala sudah mengkilap oleh precum. Ia menggesekkan kepala kontol itu di bibir memek Acha yang basah kuyup, naik-turun, membasahi seluruh batangnya.

Acha masih mencoba menolak dengan tangan yang lemah. "Pak... tolong... jangan..."

Tapi saat Pak Heru mendorong masuk, seluruh protesnya hancur. Kepala kontol itu meregangkan liangnya pelan tapi pasti. Acha mendesah panjang, kepala terlempar ke belakang. Rasanya penuh, panas, dan sangat dalam. Pak Heru tidak menunggu sampai Acha terbiasa. Ia langsung menyodok sampai pangkal, menghentak keras sampai panggul Acha terangkat dari kasur.

"Ahhh—! Pelan... Pak..."

"Kamu basah banget," gumam Pak Heru sambil mulai bergerak. "Dari tadi basah karena nonton bokep ayah-anak. Sekarang rasain yang beneran."

Ia menunggangi Acha dengan tempo sedang dulu, setiap sodokan dalam dan penuh. Bunyi becek basah memenuhi kamar kecil itu bercampur desahan Acha yang semakin tidak tertahan. Payudara Acha bergoyang setiap kali tubuhnya diguncang. Pak Heru meremas keduanya kasar, memelintir puting sampai Acha menggeliat, lalu membungkuk dan menghisap salah satunya sambil terus mengentot.

Acha memejamkan mata. Awalnya masih ada rasa takut dan salah, tapi setiap hentakan kontol tebal itu mengenai titik di dalam yang membuat kakinya gemetar. Ia mulai mengangkat pinggul melawan, mencari lebih dalam. Tangan yang tadinya mendorong sekarang mencengkeram lengan kemeja Pak Heru yang masih setengah terpakai.

"Lebih dalam... ahh... di situ..." desahnya pelan, hampir tidak terdengar.

Pak Heru tersenyum miring. Ia menarik keluar hampir seluruh batangnya, lalu menyodok masuk sekuat tenaga. Acha menjerit pelan, memeknya kejang mengapit kontol itu. Tempo semakin cepat. Kasur berderit keras. Pak Heru mengangkat kedua kaki Acha ke bahunya, lipat tubuh gadis itu hampir menjadi dua, lalu menggempur lebih dalam lagi. Dari posisi itu, Acha bisa melihat jelas bagaimana kontol tua itu keluar-masuk, mengkilap oleh cairan mereka berdua, meregangkan bibir memeknya yang merah dan bengkak.

"Lihat," perintah Pak Heru. "Lihat memekmu dimakan kontol bapak kos."

Acha menatap, wajahnya merah, air mata di ujung mata karena nikmat yang terlalu intens. Ia menggigit bibir, desahan berubah jadi isakan kecil setiap kali kepala kontol menumbuk mulut rahimnya. Pak Heru menggeser sudut, menyodok ke atas, menggosok dinding depan tanpa ampun. Acha merasakan orgasme kedua mulai naik—lebih kuat dari yang tadi saat colmek.

"Mau keluar... Pak... ahh jangan berhenti..."

Pak Heru mempercepat, menghentak pendek-pendek tapi dalam. Satu tangan turun menggosok klitoris Acha dengan kasar. Itu cukup. Tubuh Acha melengkung, paha bergetar hebat, memeknya menyempit dan berdenyut kuat menghisap kontol yang masih bergerak. Cairan membasahi paha Pak Heru dan seprai. Acha hanya bisa mengerang panjang, matanya juling ke atas dengan bibir terbuka.

Belum sempat ia turun dari puncak, Pak Heru membalik tubuhnya menjadi tengkurap. Ia menarik pinggul Acha ke atas sampai Acha berlutut dengan dada menempel kasur—posisi doggy. Tanpa basa-basi, kontol itu masuk lagi dari belakang, lebih dalam dari sebelumnya. Pak Heru memegang pinggang ramping Acha, jari-jarinya menekan daging lunak, lalu mengentot dengan tempo kasar dan cepat.

Bunyi kulit bertemu kulit—plak plak plak—mengisi kamar. Acha mencengkeram bantal, wajahnya tenggelam, desahan teredam. Setiap sodokan membuat pantatnya bergoyang, dan sesekali Pak Heru menamparnya pelan sampai merona. Satu tangan Pak Heru meraih rambut Acha, menarik kepala gadis itu ke belakang sampai punggungnya melengkung.

"Desah yang kenceng," bisiknya. "Biar bapak tahu kamu suka."

***

Selengkapnya bisa dibaca di:
✅ lynk.id/apelmerahijo ✅
Judul: ACHA

SCANDALStories to obsess over. Discover now