Di perpustakaan kelurahan yang kecil dan berdebu, ada satu buku yang selalu kembali terlambat. Judulnya *Catatan Musim yang Tidak Selesai*. Setiap bulan, buku itu dipinjam oleh orang yang sama: perempuan berambut pendek bernama Alma. Dan setiap bulan pula, Alma mengembalikannya dua atau tiga hari melebihi batas waktu.
Petugas perpustakaan, Haris, sudah hafal kebiasaan itu. Awalnya ia hanya mencatat denda. Lalu suatu hari ia bertanya, "Kenapa selalu buku ini?"
Alma tersenyum tipis. "Karena saya belum selesai membacanya."
Haris tahu itu alasan yang aneh. Buku itu hanya 180 halaman. Tapi ia tidak mendesak. Ia hanya mengangguk dan menerima buku itu kembali.
Minggu-minggu berlalu. Alma tetap datang. Kadang ia duduk di pojok ruangan sampai sore, membaca halaman yang sama berulang kali. Haris memperhatikan dari meja petugas. Suatu sore ia memberanikan diri duduk di meja sebelah.
"Halaman berapa yang membuatmu stuck?" tanya Haris pelan.
Alma menoleh. "Bukan stuck. Saya hanya... belum siap sampai di akhir."
Haris terdiam. Lalu berkata, "Saya pernah seperti itu. Ada buku yang saya baca sampai halaman terakhir, lalu menyesal karena ceritanya selesai."
Alma tersenyum lebih lebar. "Tepat."
Sejak percakapan itu, mereka mulai berbicara lebih sering. Alma bercerita bahwa ia sedang menulis novel, tapi selalu berhenti di bab yang sama. Haris bercerita bahwa ia sebenarnya lulusan sastra, tapi memilih bekerja di perpustakaan kecil karena tidak tahan dengan dunia yang terlalu cepat.
Suatu hari Alma tidak datang selama dua minggu. Haris merasa meja pojok itu terlalu kosong. Saat akhirnya Alma muncul lagi, wajahnya pucat.
"Ibu saya meninggal," katanya singkat.
Haris tidak bilang "turut berduka". Ia hanya menyodorkan buku itu lagi. "Ambil. Tidak usah dipinjam. Bawa saja."
Alma menatapnya lama. "Kenapa?"
"Karena kadang kita butuh cerita yang tidak selesai. Supaya masih ada alasan untuk kembali."
Alma membawa buku itu pulang. Tiga hari kemudian ia mengembalikan dengan catatan kecil di dalamnya: "Saya sudah sampai halaman terakhir. Tapi saya ingin mulai lagi dari awal. Bersamamu."
Haris membaca catatan itu berkali-kali. Malam itu ia menulis balasan di selembar kertas dan menyelipkannya di buku yang sama.
Keesokan harinya Alma datang. Mereka tidak banyak bicara. Hanya duduk di meja pojok, membuka halaman pertama bersama-sama.
Beberapa bulan kemudian, buku itu tidak lagi dipinjam. Ia tetap di rak, tapi sekarang ada dua nama yang tertulis di kartu peminjaman terakhir: Alma dan Haris.
Dan setiap sore, mereka masih duduk di pojok yang sama. Kadang membaca. Kadang hanya diam. Tapi tidak ada lagi yang terlambat.
Karena akhirnya mereka mengerti:
beberapa cerita memang tidak perlu selesai.
Cukup dimulai berulang kali, bersama orang yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buku yang Selalu Terlambat
Non-Fictionjangan lupa untuk follow, like, dan komentar
