Jikalau Tuhan bisa memberitahuku bahwa manusia ini sangat merepotkan, sudah sejak awal aku menghindarinya.
Namun, ia terlanjur datang dengan rahang kaku dan mata tajam yang basah. Melemparkan pipihan srip kertas berisi dua garis merah yang kasat mata ke dada.
Membuat pagi yang biasanya terasa tenang, kini penuh gemuruh yang tak terelakkan di dada.
"Lo harus tanggung jawab, bajingan! Gue hamil gara-gara lo." Telunjuknya yang kurang ajar itu menunjuk dadaku, seolah semua masalah memang dirancang untuk kuperbuat.
Namun tak kusangkal ucapannya. Aku benci keributan, jikapun kusangkal, mulut kecil itu akan semakin terbuka lebar seperti malam lalu, beraroma alkohol dan melempar godaan yang membakar dada tanpa ia tau siapa yang menerima.
Test pack itu jatuh ke lantai yang dingin, seolah bukan hanya ia yang membakar keadaan. Fakta bahwa kami saling membenci jika bukan karena sejarah keluarga yang kelam tak mau kubuka lagi. Sialnnya, kami terjebak dalam pusaran dunia terdalam. Membuat kami sadar bahwa takdir keji itu terbawa mengalir dalam tubuh.
"Lo yakin?"
Kenyataan bahwa musuh saling mengenal adalah hal yang tak bisa ditepis. Esa, anak dari keluarga punya yang besar kepala merasa bahwa dunia pun bisa ia beli dengan tangan ayahnya. Tak mungkin kutak mengenal Esa, anak nakal itu selalu bisa berganti pasangan kapanpun dan dimana saja, yang pasti bukan aku seorang yang pernah menyentuh tubuhnya.
Pemuda itu terkekeh seolah pertanyaanku adalah hinaan terbesar di hidupnya. "Kenapa? Orang pengecut kaya lo itu emang nggak mampu bertanggung jawab."
Ah, sialan benar mulut anak ini. Bahkan belum sempat kubalas ucapannya itu, mulutnya sudah terbuka lagi.
"Menurut lo cowok mana lagi yang terakhir tidur sama gue?"
Kan... jelas anak ini pasti sudah dirundung rasa bingung tentang siapa ayah dari bayi di perutnya, sampai-sampai menemuiku.
Helaan nafas akhirnya kubuang, demi membungkam mulut sialannya itu lebih baik kumenyetujuinya. "Oke. Gue tanggung jawab. Tapi sampai bayi itu lahir, lo harus cari bukti kalau bayi itu beneran anak gue. Kalau bukan, lo harus angkat kaki dari rumah ini."
Kejam bukan kedengarannya? Bahkan Esa sampai mengangguk ragu.
Namun nyatanya sampai hari ini-sampai perut Esa mulai timbul membulat-ia masih tinggal di rumahku. Esa sendiri yang memaksa hanya untuk menghindari gosip temannya dan amukan ayahnya yang kecewa.
Sialnya itu malah berdampak padaku. Rasanya rumahku tak lagi memiliki dinding, tetangga-tetangga lewat hanya untuk melihat Esa, mulut-mulut lemas itu hanya berguna menggosipku yang katanya menghamili anak orang.
Sialan benar mereka!
"Sa, masa nasinya habis?" Aku menatap Esa yang menyandarkan pinggulnya di ujung meja makan. Bahunya hanya terangkat sembari menikmati pisang di tangannya.
"Salah siapa masak nasinya sedikit," katanya sebelum berlalu ke ruang tamu menikmati buah pisang terakhir di rumah.
Aku menghembuskan nafas lelah entah keberapa kalinya hari ini. Rasa lelah yang bergelanyut di bahu membuatku enggan menyulut emosi yang bisa membuat Esa ikut meledak.
Jujur saja beberapa waktu terakhir napsu makan Esa melonjak, membuat persediaan makan yang biasanya cukup untuk sebulan kini hanya bertahan dua minggu. Aku tak terlalu bermasalah dengan urusan uang belanja bulanan, tapi sialnya setiap kali pulang kerja pasti makanan yang kumasak atau bahkan nasi sudah habis lebih cepat.
Bahkan sekadar roti, buah, atau susu sudah habis oleh mulut Esa.
•
•
ESTÁS LEYENDO
SIMPLE [Mada.vers]
Ficción GeneralWarning❗️ BL AREA❗️ ○●○●○ Madana hanya ingin hidup sederhana, ringan, dan bahagia. Namun, semua itu hancur oleh pemuda nakal yang dengan entengnya meminta Mada bertanggung jawab atas bayi di perutnya. Madana? Ia hanya bisa menerima nasib karena tak...
![SIMPLE [Mada.vers]](https://img.wattpad.com/cover/416788151-64-k741231.jpg)