POV ARSEN
°°°°°°°°°°°
D
unia tempat gue tinggal itu sederhana, tapi aneh. Lu pernah nggak nonton TV kabel zaman dulu yang layarnya tiba-tiba berubah jadi abu-abu bersemut, lengkap sama suara lengkingan statis yang bikin telinga pengin pecah? Nah, kurang lebih kayak gitu cara otak gue ngeproses realita setiap harinya.
Flat. Monoton. Hitam putih.
Nama gue Arsen. Bukan tipe cowok edgy yang sengaja menyendiri di pojokan kelas sambil mendengarkan lagu melankolis pakai headphone, bukan.
Gue tetep nongkrong, tetep ketawa kalau ada jokes garing temen-temen, dan muka gue-menurut cewek-cewek di SMA Nawasena-masuk kategori "ganteng tajam yang meresahkan." Ditambah lagi, tiap kali gue senyum tipis, Lesung pipi di pipi kiri gue bakal tercetak lumayan dalam.
Kata orang, itu charm point yang bikin cewek-cewek barisan depan pas upacara suka mendadak oleng.
Tapi buat gue? Semua itu cuma akting. Gue kayak aktor yang hapal naskah, tahu kapan harus senyum, tahu kapan harus pamer lesung pipi biar dapet es teh gratisan dari kantin, tapi di dalam diri gue sendiri? Hampa.
Nggak ada warna, nggak ada getaran yang bikin jantung gue berdegup lebih cepet dari impuls normal.
Gue hidup cuma karena paru-paru gue masih mau mumpa oksigen, that's it.
"Sen, lu melamun lagi? Biji mata lu udah kayak mau lepas merhatiin lapangan," teguran dari Bagas, temen sebangku gue yang bau minyak angin, mendadak membubarkan bayangan abu-abu di kepala gue.
Gue cuma mendecak, memutar kaleng soda dingin di telapak tangan. "Gak melamun. Cuma males aja liat anak-anak kelas sebelah olah raga. Bikin gerah."
"Bensin lu abis ya? Padahal kemarin lu abis menang balap liar di trek baru. Taruhan dapet tiga juta, tapi komuk lu tetep kayak orang mikirin utang pinjol," racau Bagas lagi sambil menyendok bakso.
Gue cuma senyum tipis. Nah, boom, lesung pipi gue muncul, dan Bagas langsung geleng-geleng kepala.
Gue emang suka nyari sensasi ekstrim-balap liar tengah malam, tawuran antar sekolah kalau terpaksa, sampai panjat atap gedung tua-cuma buat nyari satu hal: rasa. Gue pengin tahu gimana rasanya panik, gimana rasanya takut, atau gimana rasanya seneng yang meledak-ledak.
Tapi tetep aja, pas desingan mesin motor gue menembus garis finish, yang gue rasain cuma hembusan angin dingin.
Tetep abu-abu.
Semua rutinitas membosankan itu jalan terus, sampai hari di mana bumi gue dipaksa bergeser dari porosnya. Hari itu, hujan gerimis baru aja reda, menyisakan bau tanah basah yang lumayan menusuk hidung di lorong kelas XII.
Gue berdiri di depan mading, pura-pura baca pengumuman lomba basket yang sebenernya nggak peduli-peduli amat.
Lalu, dia lewat.
Gue gak bakal nulis kalimat klise kayak "dunia seakan berhenti berputar" atau "daun-daun berguguran secara slow-motion", kagak.
Tapi secara objektif, penciuman gue menangkap wangi samar kayu cendana yang campur aroma mint segar. Gue nengok, dan mata gue langsung tertuju sama cowok yang baru keluar dari ruang Kepala Sekolah.
Parah. Itu kata pertama yang terlintas di otak gue.
Dia punya paras yang jujur bikin serba salah. Manis, tapi di saat yang sama ada garis rahang tegas yang bikin dia kelihatan cakep banget. Kulitnya bersih, matanya tajam tapi bulu matanya lentik, dan gaya jalannya santai banget dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Seragamnya rapi, tapi kancing paling atas sengaja dibuka.
Waktu mata kita nggak sengaja tabrakan di udara selama dua detik, dadaku mendadak kerasa dihantam sesuatu yang gaib.
Deg.
Sesuatu di dalam diri gue yang tadinya mati, mendadak nyala. Kayak ada setruman voltase rendah yang merambat dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.
Gue ngacungin alis, langsung masang Mode Arsen: tebar pesona dengan senyuman miring kepercayaan gue. Lesung pipi gue sengaja gue pamerin penuh, mata gue menatap dia dari atas ke bawah dengan tatapan dominan yang biasa bikin cewek atau cowok bottom di luar sana mendadak salah tingkah atau nunduk malu-malu.
Gue mbatin dalam hati, 'Set, cantik amat nih budak. Lembut begini komuknya, tipe-tipe manis yang gampang ditarik ke dalam pelukan. Pasti anak penurut yang butuh dilindungi.'
Gue udah kebayang gimana skenario di kepala gue: Gue, Arsen, si cowok maskulin tampan bertubuh atletis ini, bakal jadi pihak yang memegang kendali penuh. Gue bakal jadi pelindung buat cowok manis yang kelihatan hangat ini.
Untuk pertama kalinya, warna merah dan emas menyapu kanvas abu-abu di otak gue. Gue jatuh cinta. Anjir, geli banget kedengerannya, tapi emang itu kenyataannya. Gue ngerasain apa yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Gue sempet denger wali kelas nyebut nama lengkapnya waktu ngenalin dia di depan kelas sebagai murid pindahan dari Jakarta.
Gamma Regasvatra Abimana.
Nama yang bagus. Gagah, tapi pemiliknya manis banget kayak permen kapas.
Gue makin yakin kalau Gamma ini adalah sosok bottom atau uke impian yang bakal melengkapi garis hidup gue. Gue udah siap-siap mau masang strategi buat mendekati dia, memperlakukan dia dengan lembut, dan jadi top paling keren buat dia.
Tapi, astaga... betapa naifnya pikiran gue waktu itu.
Gue gak pernah tahu kalau di balik wajah manis, senyum menawan, dan aura lembutnya itu, Gamma Regasvatra Abimana menyimpan sesuatu yang sama sekali di luar nalar gue.
Gue gak tahu kenapa dan gimana kejadiannya, sampai di suatu malam yang kacau beberapa bulan setelahnya, gue bisa berakhir di atas ranjang yang sama bareng anak ini.
Dan yang paling bikin dunia gue hancur berkeping-keping sekaligus gila... perkiraan gue salah total.
Cowok manis yang gue kira bottom pasrah yang butuh dilindungi itu... ternyata adalah top dominan yang sama sekali gak bisa dikendalikan.
Dan malam itu, posisi gue yang tadinya merasa paling berkuasa, justru berbalik seratus delapan puluh derajat di bawah terkaman dingin seorang Gamma.
[TBC]
Cokk pokoknya gw gatau lagi dah yang penting nih cerita ngusir ke-gabutan gue😘😘😘
BẠN ĐANG ĐỌC
HITAM DAN PUTIH
Lãng mạntentang Arsenio, yang memiliki kehidupan hitam dan putih, tetapi semenjak bertemu dengan pemuda manis sekaligus tampan di hidupnya awalnya membuat dia merasa hidup, tetapi semenjak dia tau pemuda itu bukan bottom seperti yang ia kira, pemuda manis y...
