Nakra menghela napas panjang. Layar HP-nya masih menyala, menampilkan hasil kekalahan beruntun di Mobile Legends. Sudah jam 2 pagi. Liburan sekolah memang membosankan kalau cuma diisi ranking-rankingan sampai mata merah.
“Capek juga…,” gumamnya.
Ia berdiri, ambil jaket, lalu keluar rumah. Motornya sudah menunggu di garasi. Udara malam masih agak sejuk. Nakra menyalakan mesin, lalu meluncur pelan keliling kota tanpa tujuan. Hanya ingin menyegarkan kepala.
Setelah hampir sejam berkeliling, matanya tertarik pada sebuah toko kecil di gang sepi. Pintunya setengah terbuka, lampu neon ungu redup menyala di dalam. Tidak ada papan nama yang jelas, hanya tulisan kecil di kaca: “Toko Khusus Dewasa – Buka 24 Jam”.
Nakra mengerenyit. “Toko aneh…,” gumamnya.
Tapi rasa penasaran lebih besar. Ia parkir motor, masuk.
Di dalam, rak-rak penuh dengan barang-barang yang membuat pipinya memanas. Dildo berbagai ukuran dan warna, vibrator, plug, bahkan yang berbentuk aneh. Cahaya ungu membuat semuanya terlihat lebih… menggoda.
Seorang karyawan wanita berusia sekitar 30-an menoleh dari balik kasir.
“Malam, Kak. Cari sesuatu?” tanyanya dengan senyum tipis.
Nakra gugup. “A-anu… cuma lihat-lihat.”
“Silakan saja. Kalau butuh rekomendasi, bilang ya.”
Matanya terus tertuju pada satu rak. Ada dildo pink berukuran sedang, permukaan mulus, sedikit melengkung, dengan dasar yang lebar. Warnanya mencolok di antara yang lain.
“Itu… yang pink itu berapa?” tanya Nakra pelan.
Karyawan itu tersenyum. “Yang itu bagus buat pemula. Silikon medical grade, lembut, tapi tetap kokoh. Rp185.000. Mau dicoba dulu di sini? Ada ruang fitting di belakang.”
Nakra menelan ludah. “Fitting…?”
“Iya. Biar tahu pas atau tidak. Tidak apa-apa, banyak yang begitu.”
Setelah berpikir sebentar, Nakra mengangguk. “Oke… saya ambil itu.”
Ia bayar, lalu dibawa ke ruang kecil di belakang toko. Hanya ada sofa kecil, cermin, dan lampu redup. Karyawan itu memberi botol pelumas kecil lalu keluar, menutup pintu.
Nakra duduk di sofa, menatap dildo pink di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah pernah coba jari sendiri, tapi ini… beda.
Tangannya gemetar saat membuka resleting celana. Ia tuang pelumas ke dildo, lalu ke jari-jarinya. Perlahan ia melonggarkan dirinya dulu dengan dua jari.
“Hhnn…,” desahnya pelan, menggigit bibir.
Setelah merasa cukup longgar, ia posisikan ujung dildo pink itu di lubangnya. Napasnya memburu.
“Pelan… pelan aja…,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia dorong perlahan. Ujungnya masuk, meregangkan ototnya.
“Aahh…! Panas…,” desahnya, mata terpejam.
Lebih dalam lagi. Dildo itu meluncur masuk, mengisi dirinya sampai penuh.
“Hnnnghh… dalam banget…,” suaranya pecah.
Ia mulai bergerak pelan, menarik keluar sedikit lalu mendorong masuk lagi. Setiap kali ujung melengkung itu mengenai titik tertentu di dalamnya, tubuhnya tersentak.
“Ahh… di situ… iya…,” desahnya lebih kencang.
Kepalanya mendongak ke belakang. Satu tangan memegang dildo, tangan lain mencengkeram sofa. Ia menambah kecepatan.
“Hhah… ahh… enak… enak banget…,” desahnya berulang, suara semakin tidak terkendali.
Getaran dari gerakan itu membuat pahanya gemetar. Ia bayangkan seolah ada seseorang yang sedang mengisinya, bukan hanya mainan.
“Lebih dalam… mau lebih dalam… ahh—!”
Tubuhnya menegang. Ia dorong dildo sampai dasar, menahan di situ sambil menggigit bibir kuat-kuat. Cairan hangat keluar dari depan, membasahi celana dalamnya yang sudah diturunkan.
Nakra terkulai di sofa, napas masih terengah-engah. Dildo pink itu masih tertanam di dalamnya. Ia menatap langit-langit, wajah merah padam.
“…Gila,” bisiknya. “Kok bisa… seenak ini.”
Setelah beberapa menit, ia pelan-pelan menarik dildo itu keluar. Ada suara basah yang membuatnya malu sendiri. Ia bersihkan barang itu, masukkan ke dalam kotak, lalu berpakaian kembali.
Saat keluar, karyawan wanita itu hanya tersenyum tipis.
“Pas?” tanyanya.
Nakra hanya mengangguk kaku, wajah masih panas. “I-iya… makasih.”
Ia keluar toko, naik motor lagi. Angin malam menerpa wajahnya yang masih basah oleh keringat. Di jok motor, dildo pink itu terasa berat di dalam tas.
Nakra tersenyum kecil sendiri.
Liburan sekolah kali ini… ternyata tidak membosankan sama sekali.
YOU ARE READING
Mainan kesukaan Nakra🔞
Romanceada seorang siswa bernama nakra yg suka mainan dild* dan lain² ...
