Pagi hari, matahari menyinari The Greatest Veyloria. Bangunan-bangunan megah berdiri menjulang, menunjukkan betapa maju dan makmurnya kota tersebut.
Cahaya pagi mulai menerobos masuk melalui jendela kamar sang tuan putri. Langit-langit yang tinggi dihiasi ukiran indah, sementara sebuah piano berdiri di samping tempat tidurnya. Setiap sudut kamar itu menunjukkan kemewahan dan kedudukan tinggi sang putri.
Sang putri yang bernama Aurevielle Rosenthal bangun dari tidur lelapnya
sang maid bernama Elira Vane yang selalu membantu tuan putri berkata
"selamat pagi tuan putri bagaimana tidur anda?"
sang putri pun menjawab
"tidak banyak yg berubah elira, hanya saja mimpi ku ini yang selalu menghantuiku sudah semakin jelas..."
ucap sang putri dengan muka yang tampak lebih segar. Elira pun menjawab " saya turut senang tuan putri bahwa mimpi yang selalu menghantui anda sudah mulai terlihat jelas tuan putri. sarapan, bak mandi air hangat pakaian seperti biasa sudah siap nona."
Aurevielle Rosenthal, merupakan putri semata wayang dari Tuan Rosenthal dan istrinya, yang berasal dari keluarga bangsawan terpandang di The Greatest Veyloria. Sejak lahir, Aurevielle telah menjadi pewaris utama keluarga Rosenthal dan dipersiapkan untuk meneruskan kedudukan keluarganya.
Aurevielle terkenal sangat pintar dan juga berbakat di umur yang begitu muda, dia bisa menciptakan sebuah teknologi yang membantu banyak orang. Kecantikan serta kebaikan hatinya membuat para rakyat merasa bahwa Aurevielle adalah sebuah cahaya bagi mereka.
Tapi tidak semua orang menyambut pagi yang baik. Di sebuah kota yang tidak jauh dan tidak dekat dengan The Greatest Veyloria berdiri kota bernama Ravenmoor, kota yang semakin hari semakin tahun termakan usia bahkan terkadang cahaya matahari tidak menyinari seluruh isi kota karna sebuah.....
Di sudut kota yang redup, hidup seorang pemuda bernama Riven Hale hidupnya biasa biasa saja hanya berfikir apakah ada hari untuk besok?
Kejadian sama seperti putri Aurevielle.
Riven selalu bermimpi buruk yang selalu menghantuinya, bahkan terkadang dia berfikir untuk menyerah karna sudah lelah dengan semua beban yang ada. tetapi dia selalu bertahan untuk sang adik yang terkena penyakit yang tidak dapat di sembuhkan di teknologi kota mereka. Satu-satunya cara untuk mengobati sakit adiknya hanya teknologi yang berada di kota yang tidak jauh dari mereka The Greatest Veyloria.
Riven Hale mulai memikirkan berbagai macam cara untuk bisa pergi menuju kota yang teknologinya sedang pada masa puncaknya. Riven selalu berusaha sekuat dirinya, setiap hari dia selalu bekerja sampingan untuk membantu adiknya sembuh dari penyakit yang bahkan dirinya tidak tahu jenis penyakit apa yang sedang adiknya alami.
Riven tidak selalu sendiri dalam bekerja sampingan. Dia mempunyai seorang teman yang bisa diandalkan dan juga memiliki nasib yang sama. Noah Varen namanya, seorang anak laki-laki yang bernasib sama dengan Riven. Dia bekerja untuk membantu ibunya.
Riven tidak sengaja bertemu dengan Noah dalam perjalanan pulang menuju rumah, lalu berbicara dengannya.
"Noah, kira-kira menurutmu bagaimana jika kita ke Veyloria?"
Ucap Riven dengan lantang, dengan nada yang bercanda dan juga serius.
"Aku juga berpikir seperti itu, Riven. Tapi menurutmu bagaimana cara kita menuju kota Veyloria yang berjarak puluhan mil?"
Tutur kata Noah dengan harapan yang tidak terlalu tinggi. Bahkan dengan hasil kerja mereka berdua, uang untuk ongkos menaiki kereta termurah saja tidak cukup untuk pergi ke kota itu.
Mereka terus berjalan dalam keheningan.
Tiba-tiba riven berenti dan menghentikan langkah Noah, riven langsung melihat sebuah poster di dinding tua
"DIBUTUHKAN PEKERJA"
"Kesempatan bekerja di kota The Greatest Veyloria"
"Bagi siapa pun yang tertarik bekerja di kota Veyloria, segera temui kami di distrik belakang."
Riven membeku menatap poster itu dengan wajah serius, bahkan panggilan noah pun tidak di tanggapi.
Riven berperang dengan pikirannya sendiri, bahkan tidak memedulikan panggilan Noah yang semakin keras.
"Ini adalah kesempatan yang sama sekali tidak boleh aku lewatkan. Bagaimanapun juga, aku harus segera mendaftarkan diri untuk bekerja di kota itu, demi adikku dan juga nasibku."
Akhirnya, Riven selesai berpikir cukup lama. Dia sudah memutuskan untuk mengajak Noah.
Tanpa memperdulikan panggilan Noah, Riven pun mulai menghampirinya.
"Noah, apa kamu lihat poster itu? Itu adalah kesempatan yang tidak bisa kita dapatkan setiap hari."
Noah langsung menghampiri poster yang diberitahu Riven.
"Kamu benar, Riven. Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk mengubah nasib di kota Veyloria."
Segera mereka berdua langsung berlari menuju rumah, rumah susun yang menjulang ke langit dan begitu padat, tanpa adanya cukup penerangan untuk melihat jalan dengan jelas.
Mereka berlari sekuat yang mereka bisa untuk sampai ke rumah untuk memberi tahu kabar kepada keluarga mereka.
Di tengah perjalanan, Riven dan Noah bertemu dengan seorang pria tua yang sudah lemah. Mereka pun berhenti untuk menanyakan kabar apa yang terjadi pada pria tua tersebut.
"Pak Tua, Anda kenapa? Bagaimana bisa Anda berakhir di tempat seperti ini?"
Tanya Riven dan Noah yang bingung.
"Pria tua itu menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah-olah, kedatangan mereka bukanlah sebuah kebetulan."
BAB 1 SELESAI
KAMU SEDANG MEMBACA
Why me?
Mystery / ThrillerPada tahun 2030, berdiri sebuah kota bernama The Greatest Veyloria, sebuah kota yang bersiap mengembangkan teknologi masa depan yang dapat mengubah kehidupan setiap orang. Dengan kemakmuran dan kemajuan teknologinya, tidak ada kota lain yang mampu m...
