Bab 5. Bagaimana Jika Aku Mati

44 15 4
                                        


Seminggu lalu, tanpa pengetahuan Sangga maupun Ayah, remaja itu mengumpulkan sisa keberaniannya untuk mendatangi rumah sakit ini sendirian guna mencari jawaban atas kakinya yang semakin sering tersandung tanpa sebab dan potongan ingatan yang perlahan mengabur tanpa alasan.

Hari ini, jawaban itu tersaji di atas meja kerja Dokter Annie dalam bentuk lembaran kertas putih berisi istilah-istilah medis yang terangkum tanpa bisa Dastan pahami.

"Dastan, hasilnya sudah keluar." Dokter Annie memberi tahu.

"Jadi, gimana, Dok?" tanya Dastan seraya meremas ujung almamaternya pelan.

"Dari hasil pemindaian dan pemeriksaan saraf terbaru, penumpukan lipid di jaringan otak kamu sudah mulai memicu kemunduran fungsi motorik dan kognitif yang signifikan," jelas Dokter Annie seraya membalik lembar medis tersebut. "Gejala tersandung yang sering kamu alami belakangan ini adalah penanda ataksia atau gampangnya kita sebut gangguan koordinasi gerak tubuh. Penurunan daya ingat kamu juga bukan sekadar lupa biasa, melainkan tanda awal penurunan kognitif akibat penyakit NPC Type-C ini."

Dastan terdiam. Sorot matanya menatap amplop rontgen di atas meja. "Jadi, udah separah itu, ya, Dok?"

"Iya, Das."

"Tapi aku masih bisa hidup, kan, Dok?"

"Tentu," sahut Dokter Annie tanpa jeda.

"Sampai kapan?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, polos namun menyayat hati. Dokter Annie menghentikan jarinya yang meremas pulpen. "Dastan, nggak ada yang tahu soal tanggal pasti kematian seseorang. Tapi, kalau penyakit ini sudah sampai tahap progresif, artinya sudah semakin fatal dan bisa menyebabkan kematian."

"Kenapa begitu?"

"Biar saya kasih tahu ayah kamu saja, ya? Khawatir kamu malah kepikiran," tawar Dokter Annie, tidak tega melihat binar cemas di mata remaja enam belas tahun itu.

"Ke aku aja," sela Dastan tegas, menegakkan posisi duduknya. "Aku juga berhak tahu kondisiku."

Satu desahan napas pasrah lolos dari Dokter Annie. "Kamu keras kepala, ya. Rata-rata, penyebab kematian paling banyak dari penyakit ini adalah komplikasi seperti infeksi paru-paru atau pneumonia aspirasi karena sulit menelan, atau sederhananya kegagalan pernapasan. Selain itu, Niemann-Pick Type C ini juga bisa menyebabkan komplikasi ke organ dalam lain seperti hati dan limpa."

Keheningan sempat merayap di antara mereka. Dastan menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut kaku di atas paha.

"Kalau gitu, aku mohon banget sama Dokter. Tolong jangan kasih tahu Ayah atau Abang soal perkembangan medis terbaru ini. Cukup kita berdua aja yang tahu, Dok."

Dokter Annie meletakkan pulpennya keras-keras di atas meja. "Dastan, ini bukan masalah sepele. Kondisi kamu ini sudah tergolong kegawatdaruratan medis secara berkala. Saya punya kewajiban moral dan medis untuk memberitahu Ayah kamu sebagai penanggung jawab!"

"Dok, aku mohon..." Dastan memajukan tubuhnya, jemarinya meremas tepi meja konsultasi. "Kalau mereka tahu, Bang Sangga dan Ayah pasti bakal mengekang aku lebih jauh."

"Tapi kamu butuh pengawasan ketat, Dastan! Kondisi ini bisa makin parah tanpa terapi," tegas Dokter Annie dengan nada yang mulai meninggi karena cemas. "Kamu bisa tersedak, kehilangan keseimbangan tiba-tiba, atau bahkan kejang sewaktu-waktu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa di rumah tanpa ada orang yang tahu gejalanya?"

Dokter perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Saya tanya, apa alasan kamu yang sebenarnya sampai ingin merahasiakan ini dari ayah kamu?"

Senyum tipis terukir di bibir pucat Dastan. "Hubungan aku dengan Tristan nggak baik, Dok. Tristan sering berantem sama Ayah dan Bang Sangga cuma gara-gara penyakit ini. Aku nggak mau keluarga aku makin hancur cuma karena sakitku. Lagi pula, mau Ayah tahu atau nggak, takdirku nggak bakal berubah, kan? Aku tetap bakal mati."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐒𝐚𝐤𝐢𝐭 𝐈𝐧𝐢 𝐔𝐬𝐚𝐢Stories to obsess over. Discover now