Prolog

31 7 3
                                        

Di sebuah kamar tidur asrama laki-laki, sebuah jam weker di atas meja menunjukkan pukul 10 : 09 PM.

Pintu kamar terbuka.

Zaga masuk seorang diri, kemudian menutup pintu di belakangnya.

Namun, ia tidak menyadari bahwa seseorang telah menunggunya.

Sosok itu berdiri diam di sudut kamar. Mengenakan hoodie, celana panjang, sarung tangan, masker, dan sepatu berwarna hitam senada. Wajahnya sama sekali tidak terlihat.

Zaga baru beberapa langkah berjalan ketika tubuhnya mendadak terasa lemas.

Langkahnya terhenti.

Pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Ia memegangi kepalanya dan mencoba berpegangan pada meja di dekatnya, tetapi tenaganya perlahan menghilang.

"Apa-apaan ini? Aku kenapa?"

"Tiba-tiba pusing..."

Kemudian, ia menyadari sesuatu.

Ada seseorang berdiri tepat di belakangnya.

Zaga berusaha menoleh.

"Si-siapa kamu?"

CRAAASH!!!

Kapak menebas lehernya.

Kepalanya menggelinding terpisah dari tubuhnya dengan mulut menganga dan mata melotot.

Tubuh Zaga tersungkur. Darah mengalir...

Menggenang membasahi lantai kamar, cipratannya hingga mengenai wajah beberapa siswa yang masih tertidur pulas.

Anehnya, tidak seorang pun terbangun.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang menyadari apa pun.

Seolah-olah seluruh kamar itu telah kehilangan kesadarannya.

Sementara itu, jam weker di atas meja terus berdetak.

Satu menit kemudian...

Tepat 10 : 10 PM.

Sosok berhoodie hitam itu berjalan mendekati jam tersebut.

Tangannya mengambil baterai dari bagian belakang jam.

Detik pun berhenti.

Jarum jam membeku tepat pada pukul 10 : 10 PM.

Dan sejak malam itu, waktu di kamar tersebut seolah tidak pernah bergerak lagi.

10 : 10 PMHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora