BAB 1

62 16 1
                                        

***


Renjun sedang berjongkok di balik tembok sekolah ketika ia menyadari satu hal.

Persahabatan terkadang membuat seseorang melakukan tindakan yang sangat memalukan.

"Chenle, kau yakin tidak ada yang melihat?"

"Diamlah, Ge."

Chenle mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Renjun tidak bergerak. Kepalanya kemudian menoleh ke kiri, lalu ke kanan.

Ia berhenti selama dua detik.

Menoleh ke kiri lagi. Kemudian ke kanan.

Renjun menatapnya dengan wajah datar.

"Lele."

"Apa?"

"Kalau kau terus menoleh seperti itu, lehermu akan patah."

"Aku sedang mengawasi keadaan!"

"Kau terlihat seperti satpam yang kehilangan akses kamera pengawas."

Chenle mengabaikan komentar tersebut. Ia kembali mengintip dari balik tembok, hanya menyisakan sebagian wajahnya di atas permukaan semen.

Di seberang pagar sekolah, seorang penjual makanan sedang sibuk menyiapkan pesanan. Aroma telur goreng, saus manis, dan daging panggang mengambang di udara, menyusup melewati celah pagar, lalu membuat perut Chenle berbunyi.

Krucuk.

Chenle menunduk. Renjun menatapnya.

"Kau lapar?"

"Tidak."

Perut Chenle kembali berbunyi.

Krucuk.

Renjun mengangguk pelan.

"Sepertinya perutmu sedang menyampaikan pendapat yang berbeda."

Chenle menekan perutnya dengan telapak tangan.

"Itu bukan lapar. Itu bentuk protes."

"Protes terhadap apa?"

"Ketidakadilan sistem pendidikan."

Renjun mengangkat alis.

"Karena kau belum makan?"

"Karena sekolah melarang kita membeli makanan yang layak."

Renjun hampir tertawa. Namun, ia menahannya karena Chenle sedang berusaha mempertahankan martabatnya sebagai siswa yang tengah menjalankan operasi rahasia.

Mereka berada di sisi belakang gedung pengajaran, tempat tembok sekolah membatasi halaman dalam dengan jalan kecil di luar kompleks. Biasanya, area tersebut tidak terlalu ramai. Namun, sejak sekolah memperketat aturan makanan dari luar, tempat itu berubah menjadi lokasi transaksi paling sibuk selama jam istirahat.

Para siswa menyebutnya Pasar Gelap Kantin. Meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar gelap selain bayangan tembok. Dan tidak ada yang benar-benar ilegal selain kenyataan bahwa semua orang tahu mereka sedang melanggar aturan sekolah.

"Di sana!" bisik Chenle tiba-tiba.

Renjun mengikuti arah pandangannya.

Seorang siswa dari kelas lain baru saja berlari kecil menuju pagar. Ia mengeluarkan uang dari saku, kemudian menerima sebungkus makanan melalui celah jeruji.

Transaksi berlangsung kurang dari sepuluh detik.

Siswa itu pergi. Chenle memandangnya dengan iri.

"Profesional."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BITTEN BY YOUStories to obsess over. Discover now