Tepat hari itu, kupikir kita akan menyajikan sebuah pertarungan yang layak dicatat dalam sejarah. Yah, setidaknya itu ekspektasiku.
Ia berdiri di tepi Jurang. Begitu lengang, begitu patuh. Ia menatap kegelapan di bawah sana dalam diam yang kelewat lama—seolah sedang berbisik pada sesuatu yang mengerak di kedalamannya, sesuatu yang tidak seharusnya punya nama, menanti saat yang tepat untuk menjawab. Aku sudah bersiap menyambut badai. Kupikir ia akan mengetuk pintu kesadarannya, menarik tali yang selama ini mengikatnya pada kedalaman itu, dan memanggil sesuatu yang cukup tua untuk membuatku kerepotan.
Namun, tidak ada yang datang. Tidak ada yang menjawab. Tidak ada udara yang bergetar, tidak ada tanah yang retak.
Yang terjadi berikutnya justru menggelikan. Ia hanya membiarkan tubuhnya jatuh. Tanpa perlawanan, tanpa teriakan—menyerahkan diri begitu saja ditelan kegelapan Jurang.
Begitu mudah. Begitu menyedihkan.
Apakah ia akhirnya sadar betapa sia-sianya bertahan, lalu memutuskan untuk melebur dan menjadi bagian dari kedalaman itu? Ah, aku sungguh berharap demikian.
YOU ARE READING
AFTERHUMAN
FantasyKetika Jurang mulai memuntahkan sesuatu yang seharusnya tidak ada, dunia manusia kehilangan bentuknya. Anomali lahir. Sebagian membunuh. Sebagian mengubah manusia menjadi bukan manusia. Sebagian lagi tidak bisa dijelaskan. Biro Investigasi Anomali b...
