~Awal☘️

18 3 0
                                        

haii kalian semua......
aku baru aja mencoba hal baru untuk mulai nulis cerita yang lumayan ringan untuk dibaca..
cerita yang aku buat sedikit terinpirasi dari kisah nyata, tapi bakal ada cerita yang aku tambahan dan aku kurangin bukan hanya murni kisah nyata saja.
Penasaran? yaa
Langsung aja ke ceritanya......
Semoga suka
Bantu vote dan komentar ya karena aku butuh saran dari kaliann semuaa....

~Happy Reading~

***

Terasa singkat kebersamaan kita namun perasaan ini masih menjadi pengagum rahasia yang terpendam tanpa sepengetahuan mu.

Hari demi hari terus bergati hingga belasan tahun lamanya semua masih sama tentang mu begitu indah kisah pengagum rahasia ini, hingga tak bisa terganti oleh orang yang mencoba datang dan menawarkan cinta.

Anindya percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk tinggal selamanya.

Bukan karena mereka berjanji dengan sungguh-sungguh, bukan pula karena dunia menjamin mereka akan selalu bersama. Hanya karena saat itu, dunia mereka masih sederhana.

Sesederhana sore yang dihabiskan di halaman rumah, suara tawa yang memenuhi jalan kecil, dan dua anak yang merasa bahwa kebersamaan mereka tidak akan pernah berakhir.

Anindya dan Bumantara tumbuh bersama.
Mereka mengenal satu sama lain bahkan sebelum memahami arti kehilangan.
Hampir setiap sore, keduanya selalu bertemu di tempat yang sama sebuah taman kecil di dekat rumah mereka. Kadang mereka bermain hingga matahari hampir tenggelam. Kadang hanya duduk di bawah pohon, berbagi cerita tentang hal-hal kecil yang bagi mereka terasa begitu penting.

Tentang cita-cita.

Tentang sekolah.

Tentang siapa yang paling cepat berlari.

Tentang siapa yang akan lebih dulu menjadi orang dewasa dan menikah.

Dan tentang janji-janji kecil yang dibuat tanpa pernah mereka pikirkan akan sesulit itu untuk ditepati.

"Kalau nanti kita sudah besar, jangan jadi orang asing, ya." ucap Anindya.

Anindya masih mengingat kalimat itu.
Sangat jelas.
Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Saat itu Bumantara mengulurkan kelingkingnya, dan Anindya menyambutnya dengan senyum kecil.

"Janji." jawab Bumantara tanpa ragu.

Mereka mengaitkan kelingking.

Sesederhana itu.

Bagi Bumantara, mungkin itu hanya janji masa kecil yang akan hilang bersama waktu.

Namun bagi Anindya, entah mengapa, janji itu tinggal lebih lama.

Mungkin karena sejak saat itu, tanpa pernah ia sadari, Bumantara bukan lagi sekadar teman bermainnya.

Ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam hati Anindya.

Perasaan yang awalnya hanya berupa rasa nyaman ketika Bumantara berada di dekatnya. Perasaan yang membuatnya selalu mencari sosok itu di antara keramaian. Perasaan yang membuat setiap perhatian kecil dari Bumantara terasa jauh lebih berarti daripada seharusnya.

Antara kita dan duluStories to obsess over. Discover now