Kamera tidak pernah merekam rasa sakit. Kamera hanya merekam apa yang ingin dilihat orang-orang: gaun bersulam benang emas, riasan wajah tanpa cela, dan senyum 45 derajat milik Ianvansa Chaērly yang terjual habis di pasaran.
Namun, di balik layar 6,1 inci ponsel pintar milik jutaan penggemarnya, Ianvansa tahu satu hal: hal paling mahal dari dirinya adalah kebebasannya sendiri.
---
Melbourne, Tepi Sungai Yarra - Dua Tahun Lalu
"Lo tahu nggak bedanya lo sama lampu-lampu di seberang sungai itu, An?"
Ian tidak menoleh. Dia tetap menikmati dinginnya angin malam yang merusut masuk ke sela-sela mantel tebalnya, membiarkan aroma vanila dari es krim murah di tangannya mengalahkan wangi parfum racikan khusus bernilai puluhan juta yang biasa melekat di kulitnya.
"Gak tahu. Apaan?" tanya Ian, nadanya malas tapi ada sudut bibirnya yang terangkat.
Kanaka-cowok di sampingnya yang rambutnya masih setengah basah habis latihan renang-mengendus pelan sebelum menyahut asal. "Lampu di sana itu terang karena dapet aliran listrik. Kalau lo terang karena di mata gua lo itu... perusak ketenangan."
"Kanaka! Gua kira mau ngomong romantis, anj-"
"Ssstt! Jangan kasar, Nona Model Termahal," potong Kanaka cepat, jari telunjuknya yang dingin menempel kening Ian, mendorong kepala gadis itu pelan. Kanaka tertawa-tawa receh, lepas, tanpa beban yang selalu berhasil meruntuhkan dinding pertahanan Ian hanya dalam hitungan detik. "Lagian, romantis itu mahal. Gua cuma atlet renang yang modal dengkul sama muka ganteng doang."
Ian mendengus, tapi detik berikutnya, dia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Kanaka. Di sana, di antara bisingnya lalu lintas kota Melbourne dan dinginnya Sungai Yarra, Ian menemukan satu-satunya tempat di dunia di mana dia tidak perlu berpura-pura menjadi sempurna. Di sana, dia bukan 'Ianvansa sang Bintang'. Dia cuma Ian, gadis remaja yang lelah dituntut jadi boneka pajangan.
Namun, mereka lupa. Di dunia hiburan, kebahagiaan seorang idola adalah dosa paling besar jika tidak dijual kepada publik.
Klik.
Satu kedipan lensa tele dari jarak seratus meter. Tanpa kilat flash. Tanpa suara.
Hanya butuh satu foto blur yang menampilkan bagian samping wajah Ian yang sedang tertawa di bahu Kanaka untuk menghancurkan segalanya.
---
Dua Hari Kemudian
Dunia internet tidak memaafkan. Bagi para penggemar yang terbiasa memanjakan ilusi parasosial mereka, foto itu adalah bentuk pengkhianatan. Bagi orang tua Ian, foto itu adalah ancaman hilangnya nilai investasi miliaran rupiah.
"Bawa teksnya. Baca tanpa penekanan emosi. Jangan menangis, itu kelihatan murahan," bisik Mama di belakang panggung, jemarinya yang dingin merapikan kerah gaun hitam Ian dengan ketelitian yang mengerikan. "Selesaikan masalah ini sekarang, Ianvansa. Kamu tahu kan berapa banyak harga diri keluarga yang kamu pertaruhkan?"
Ian mematung di depan ratusan lensa media. Cahaya flash membakar matanya, tapi hatinya jauh lebih membara oleh rasa sesak.
Di seberang kota, di sebuah ruang ganti gelanggang renang yang sepi, Kanaka berdiri menatap layar televisi yang menayangkan siaran langsung itu. Cowok yang biasanya selalu punya seribu lelucon garing itu kini melipat tangannya di dada. Matanya terkunci pada wajah Ian yang pucat di layar kaca.
Di depan seluruh negeri, Ianvansa membaca kalimat demi kalimat yang sudah disunting oleh agensi dan ibunya:
"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekecewaan yang saya sebabkan... Pria dalam foto tersebut hanyalah teman masa kecil, dan hubungan kami telah berakhir seiring fokus saya pada karier..."
Di balik siaran langsung itu, tidak ada yang tahu bahwa detik saat Ian mengucapkan kata 'berakhir', Kanaka mencengkeram pinggiran bangku kayu hingga kayu itu menyayat telapak tangannya. Tidak ada darah, tapi ada sesuatu yang pecah berantakan di dalam dadanya.
Malam itu, mereka berdua belajar satu hal tentang dunia mereka:
Gema dari masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk memantul kembali dan menghancurkan benteng yang sudah payah dikembangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING OUR ECHOES
Fanfiction"Minta maaf sama publik, Ian. Bilang kalau cowok itu bukan siapa-siapa kamu." Satu kalimat dari sang ibu menghancurkan segalanya. Ianvansa dipaksa memilih antara impian yang dirancang orang tuanya atau cowok yang membuatnya merasa menjadi manusia. H...
