Gadis itu terus menatap langit dengan senyum tipis di bibirnya. Kaki kecilnya berayun pelan di atas kursi kayu basah, tepat di sudut halaman kantor tempatnya bekerja.
"Rin!" teriak seorang gadis berambut keriting dari kejauhan.
Lambaian tangannya membuat Rinjani mengalihkan pandangan.
Kedua gadis itu selalu menghabiskan waktu dengan berbincang sampai bus jurusan rumah mereka tiba. Sore itu hujan rintik-rintik turun, tetapi Rinjani dan Maya tetap bertahan menduduki kursi kayu yang mulai lembab.
Cerita-cerita dari bibir Rinjani selalu berhasil menyihir Maya untuk tetap bertahan di sana, menjadi pendengar yang setia.
Selama dua puluh lima hari terakhir, Maya tak pernah absen mendampingi.
Sebelum akhirnya ia tersadar, bahwa hari-hari yang mereka lewati bersama adalah bagian dari sebuah keputusan besar—sesuatu yang baru benar-benar ia pahami ketika semuanya telah terlambat.
---
Hai semuanya, kembali lagi dengan author yang lama hiatus, nih!
Aku kembali memberikan cerita yang beda konsep dari sebelumnya nya! 😜
Jangan lupa vote, komen dan follow yaww :)
DU LIEST GERADE
Tiga Puluh Malam Sebelum Pagi
Aktuelle Literatur"Di dunia nyata, aku hanyalah cangkang bernapas yang diperas sampai kering. Tapi di dalam mimpinya, aku adalah seorang istri dan ibu yang dicintai sepenuhnya." Bagi Rinjani (24), rumah bukanlah tempat pulang, melainkan neraka tempat keluarganya meme...
