"lima orang dan laut"

11 1 0
                                        


LIMA ORANG DAN LAUT

"WOI, DHO!"

Aku menoleh.

"APAAA?!"

Raka berlari dari arah warung sambil membawa lima bungkus nasi dan dua botol minuman.

"Pegang!"

Satu bungkus nasi dilempar ke arahku.

Hampir saja jatuh ke pasir.

"Anjing, Raka!"

"HAHAHAHA!"

Aku menatapnya kesal.

"Kalau jatuh gimana?"

"Ya tinggal makan pasir."

"Tai."

Dari belakang, Bima langsung mengambil satu bungkus nasi dari tangan Raka.

"Udah, jangan ribut. Lapar gue."

"Lu dari tadi yang paling banyak makan," sahut Fahri.

"Terus?"

"Ya nggak apa-apa."

Jovan yang sejak tadi tiduran di atas pasir tiba-tiba membuka mata.

"Guys."

Kami semua menoleh.

"Apa?"

Jovan menunjuk ke arah laut.

"Bagus banget."

Kami diam.

Matahari mulai turun. Langit berubah warna menjadi jingga, sementara ombak datang dan pergi seperti tidak pernah bosan.

Aku tersenyum kecil.

Lima orang.

Lima kepala yang berbeda.

Tapi entah bagaimana, kami bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Ridho.

Raka.

Bima.

Fahri.

Jovan.

Kami bertemu sejak SMA.

Awalnya cuma kebetulan duduk satu tongkrongan.

Lalu jadi teman.

Lalu sahabat.

Dan akhirnya...

entah sejak kapan, kami seperti keluarga.

"Eh, Dho."

Raka menyenggol bahuku.

"Hm?"

"Lu masih inget nggak janji kita?"

Aku mengernyit.

"Janji apaan?"

Raka langsung melotot.

"Anjir. Lupa?"

Bima tertawa.

"Memang dasar Dho."

Fahri ikut tersenyum.

Jovan bangkit dari tidurnya.

"Yang kalau kita udah tua, harus balik ke sini?"

Aku terdiam.

Aku ingat.

Janji yang kami buat bertahun-tahun lalu.

Kalau suatu hari nanti hidup membawa kita ke tempat yang berbeda, kita harus kembali ke laut ini.

Aku memandang mereka satu per satu.

"Masih lama, goblok."

Raka tertawa.

"Siapa tahu besok kita udah kaya."

"Lu mah besok masih ngutang di warung," kata Bima.

Kami semua tertawa.

Tidak ada yang tahu...

bahwa suatu hari nanti, kami benar-benar akan kembali ke laut ini.

Tapi bukan dengan lima orang.

Karena salah satu dari kami...

tidak akan pernah bisa kembali.

⸻

"Jadi sekarang gimana?" tanya Jovan.

"Gimana apanya?" Raka balik bertanya.

"Ya malam ini."

"Malam ini ya malam."

"Tai. Maksud gue, kita pulang atau lanjut nongkrong?"

Bima langsung menjawab, "Pulang."

Empat kepala langsung menoleh kepadanya.

"Apaan?" Bima mengernyit.

"Lu sakit?" tanyaku.

"Kenapa gue sakit?"

"Biasanya lu yang paling susah diajak pulang."

"Itu biasanya."

"Nah, sekarang kenapa?"

Bima terdiam sebentar.

"Nyokap gue nyuruh pulang."

Raka langsung tertawa keras.

"HAHAHA! ANAK MAMA!"

"Diam lu!"

"Anak mama takut dimarahin!"

"Gue timpuk kepala lu pakai batu!"

"Jangan batu, anjir," kata Fahri santai. "Mati dia."

"Memangnya kenapa kalau mati?" sahut Raka.

Aku menggeleng sambil tertawa.

Begitulah kami.

Kalau sudah berkumpul, tidak ada percakapan yang benar-benar normal.

Semua hal bisa dijadikan bahan ejekan.

Mulai dari masalah cinta, keluarga, uang, sampai hal paling memalukan yang pernah kami lakukan.

Dan tidak ada yang aman.

Termasuk aku.

"Dho."

Aku menoleh ke arah Jovan.

"Hm?"

"Lu kenapa?"

Aku mengernyit.

"Kenapa apanya?"

"Dari tadi bengong."

"Emang muka gue begini."

"Jelek?"

"Tai."

Yang lain langsung tertawa.

"Serius," lanjut Jovan. "Lu kenapa?"

Aku terdiam sebentar.

Angin sore menerpa wajahku.

"Gapapa."

"Jawaban orang yang lagi kenapa itu selalu gapapa," kata Fahri.

Aku menoleh kepadanya.

"Lah, sok ngerti."

"Ya karena gue kenal lu."

Kalimat itu membuatku diam.

Aku memandang laut.

Sebenarnya, memang ada yang sedang kupikirkan.

Tentang rumah.

Tentang masa depan.

Tentang hidup yang belakangan ini terasa.

Laut Itu LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang