Part 1 Topeng Cahaya

68 9 1
                                        

Lampu-lampu kamera meledak seperti kembang api.

"Sakura! Sakura, di sini!"

"Sakura-san, lihat ke kiri sebentar!"

Haruno Sakura melangkah di atas karpet merah dengan gaun sutra berwarna merah muda pucat yang jatuh sempurna di tubuhnya. Rambutnya tergerai lembut, bibirnya melengkung dalam senyum yang sudah dilihat jutaan orang di seluruh dunia. Senyum yang anggun, hangat, dan sedikit malu-malu.

Senyum yang sama sekali bukan dirinya.

Tiga jam lagi, batin Sakura sambil melambai ke kerumunan. Tiga jam lagi dan aku bisa melepas sepatu hak sialan ini.

"Kau baik-baik saja?" bisik Ino yang berjalan di sampingnya, tetap tersenyum manis ke arah kamera tanpa menggerakkan bibir.

"Kakiku menjerit," balas Sakura pelan.

"Kau bisa membanting tiga pria dewasa ke lantai, tapi kalah oleh sepatu hak sepuluh senti?"

"Diam, Ino-pig."

Ino nyaris tertawa. Nyaris. Ia buru-buru menutupnya dengan lambaian anggun ke arah fans.

Tiga jam itu berlalu seperti sekejap: satu konser penuh, lima belas lagu, dua kali ganti kostum, dan puluhan ribu suara yang meneriakkan namanya tanpa henti. Ino, yang tampil sebagai bintang tamu di duet ketiga, sudah pulang lebih dulu sambil mengeluh soal jadwal syuting jam lima pagi. Sakura sendiri masih memakai sepatu hak itu. Tim kostum terlambat membawakan sandalnya, dan dia terlalu lelah untuk menunggu.

***

Lampu neon di lorong parkir bawah tanah Konoha Entertainment Center berkedip lemah, seolah enggan menyala penuh. Jam sudah menunjukkan pukul 23.47. Gema tepuk tangan dan sorak puluhan ribu penonton yang tadi memenuhi arena kini telah lama sirna, digantikan sunyi yang berat, hanya sesekali dipecah derum mobil kru yang satu per satu meninggalkan area itu.

Di tengah sunyi itu, langkah kaki Sakura menggema pelan di lantai beton. Gaun panggungnya, merah muda pucat yang tadi berkilau gemerlap di bawah sorotan lampu panggung, kini terlihat pudar dimakan bayang-bayang lorong. Rambutnya yang panjang, tergerai hingga ke pinggang, sedikit lengket oleh keringat yang belum sempat kering. Namun wajahnya tetap sempurna—bibir merah yang lembut, mata yang masih berbinar seperti berlian, seakan lelahnya malam itu tak berhak menyentuh permukaannya.

"Nona Haruno."

Suara itu datang dari balik salah satu pilar beton. Sakura berhenti melangkah, tapi tidak menoleh cepat-cepat seperti orang yang ketakutan. Dia hanya diam sejenak, mendengarkan.

Ada tiga orang. Dia bisa menghitung dari gema langkah kaki yang berbeda—satu dari kiri, dua dari belakang. Amatir, pikirnya. Orang yang benar-benar profesional tidak akan membiarkan langkah mereka terdengar sejelas itu.

"Manajer saya menunggu di lantai atas," katanya tenang, suaranya masih semanis yang biasa didengar jutaan penggemarnya di layar kaca. "Kalau kalian penggemar, saya sarankan datang saat sesi fan meeting resmi."

Seorang pria berbadan besar melangkah keluar dari bayangan, menyeringai. "Kami bukan penggemar, Nona Idol. Kami cuma butuh... jaminan. Bos kami bilang kau berharga banget buat diculik semalam."

Dua orang lainnya muncul dari belakang, mengepung. Salah satu dari mereka memegang tali, yang lain sebuah kain—kloroform, mungkin.

Sakura menghela napas pelan. Bukan karena takut, tapi karena capek—seperti orang yang harus bersih-bersih rumah untuk kesekian kalinya.

"Kalian benar-benar nggak riset dulu, ya," gumamnya.

Belum sempat pria itu bereaksi, Sakura sudah bergerak. Dia mengangkat kakinya cepat, dan hak sepatunya yang tadi terlihat rapuh menghantam rahang pria pertama. Kepalanya terpental ke samping, tubuhnya limbung menabrak tembok beton di belakangnya.

The Celebrity BodyguardNhững tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ