Suara dentuman bass dari musik bar yang bising seolah mengejek kegagalan yang baru saja Save alami.
Beberapa jam sebelumnya, di bawah temaram lampu taman kampus, Save akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Tio, cowok yang sudah berbulan-bulan mencuri perhatiannya.
Namun, perasaan itu tidak berbalas. Tio menolaknya dengan jujur. Tidak ada kata-kata kasar atau sikap yang sengaja menyakiti, tetapi tetap saja penolakan itu membuat dada Save terasa sesak.
Save tahu seharusnya ia menerima apa pun jawaban cowok itu. Tio tidak melakukan kesalahan apa pun hanya karena tidak menyukainya. Masalahnya, hati Save tidak semudah itu diajak mengerti.
Mungkin Tio hanya belum mengenalnya cukup lama. Mungkin, suatu hari nanti, perasaan itu bisa berubah. Pikiran itulah yang justru membuat Save semakin sulit menerima kenyataan.
Ia tidak ingin pulang dan berhadapan dengan kamar yang terlalu sunyi. Tidak ingin berbaring sambil terus mengulang percakapan tadi di kepalanya.
Jadi, alih-alih pulang, Save memilih mencari tempat lain untuk mengusir pikirannya. Beberapa menit kemudian, langkahnya membawanya ke sebuah bar remang-remang di sudut kota.
Satu gelas dipesan. Lalu gelas berikutnya. Save menenggaknya sendirian, berharap rasa panas yang menjalar di tenggorokan bisa mengusir sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya. Namun, alkohol hanya membuat semuanya semakin buruk. Semakin banyak yang diminumnya, semakin kabur pula pikirannya, sampai akhirnya kesadarannya menguap entah ke mana.
Tubuhnya terkulai di atas meja bar, sementara gelas terakhir masih tergeletak di hadapannya. Ponsel Save sudah beberapa kali bergetar sejak tadi. Entah sudah berapa kali panggilan Auau masuk, tetapi tidak satu pun berhasil dijawab.
Seolah sudah menjadi ritual setiap kali Save melakukan kebodohan, Auau selalu menjadi orang pertama yang turun tangan dan datang menjemputnya.
"Kenapa sih lo tuh hobi banget nyusahin gue?!" Auau mendengus kesal, mengguncang bahu Save yang sudah terkulai tak berdaya di hadapannya.
Save mengerjap pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang buyar. Wajahnya sudah memerah akibat terlalu banyak menenggak alkohol sendirian. "Ennnggh... Au...?" suaranya cadel dan pelan.
"Udah sering banget dibilangin, jangan minum sendirian. Kenapa sih nggak pernah mau dengar? Ayo bangun, balik sekarang."
Save hanya mengangkat wajahnya sedikit. Matanya yang sudah berat menatap Auau beberapa detik sebelum kembali terpejam "Gak bisa jalan..." jawab Save sambil mengerucutkan bibir.
Auau menatapnya datar. "Makanya gue bilang jangan minum."
"Gendong..."
Auau mendengus pelan, "ck, manja banget." Tanpa banyak bicara, cowok itu membelakangi Save dan berjongkok. "Cepet naik."
Tanpa banyak kesulitan, Save melompat kecil ke punggung Auau. Tangannya langsung melingkar erat di leher, sementara kepalanya bersandar nyaman di bahu lebar sahabatnya itu.
Malam itu cukup dingin ketika mereka keluar dari area bar. Di sepanjang jalan, Save mulai meracau tak jelas. Sesekali ia menggerakkan kepalanya mencari posisi yang lebih nyaman hingga pipinya tanpa sengaja bergesekan dengan leher Auau. Auau meringis geli. "Jangan banyak gerak."
"G-gue sedih banget... Kenapa sih dia nggak suka sama gue..." gumam Save parau, suaranya terdengar seperti mau nangis.
Auau memutar bola matanya, meski Save tidak bisa melihatnya. "Emangnya apa sih yang lo suka dari cowok itu? Jelas-jelas dia bukan cowok bener."
Mendengar itu, Save langsung menegakkan kepalanya, protes tidak terima. "TAPI DIA GANTENG, AU!!!" teriaknya melengking, berhasil membuat Auau jantungan dan nyaris oleng.
"Lo buta, ya? Jelas-jelas gantengan gue ke mana-mana."
PLAK!
Save langsung memukul kepala Auau dengan telapak tangannya cukup keras.
"Sakit, anjir!" gerutu Auau. "Turun nggak lo?! Gue turunin di sini baru tau rasa!"
"Gak mau...." cicit Save manja. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di leher Auau dan mempererat pelukannya, sama sekali tidak berniat turun.
Auau cuma bisa menghela napas panjang. Mau semarah apa pun dia, pada akhirnya ia tetap nggak tega.
Tak lama kemudian, napas Save mulai terdengar teratur. Ia benar-benar tertidur di punggung Auau. Untungnya, apartemen mereka tidak jauh dari bar.
Auau melirik ke samping, memastikan Save tidak terjatuh. "Dasar," gumamnya pelan.
Auau terus berjalan menyusuri trotoar malam hingga akhirnya sampai di gedung tempat mereka tinggal. Sesampainya di lobby, Auau langsung menuju lift. Save masih menempel di punggungnya, sesekali menggumamkan sesuatu yang tidak lagi bisa dipahami.
Begitu tiba di lantai unit Save, Auau berhenti tepat di depan pintu apartemen sahabatnya itu. Dengan satu tangan tetap menopang kaki Save, tangannya yang lain memasukkan kode yang sudah dihafalnya sejak lama.
Klik.
Pintu terbuka. Save memang sudah memberikan kode itu kepadanya sejak mereka tinggal di gedung yang sama.
Auau membawa Save ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang berseprai abu-abu. Save langsung merosot nyaman begitu punggungnya menyentuh kasur, matanya terpejam rapat.
Auau berdiri di sisi ranjang, melipat tangan di dada sambil menatap sahabatnya itu dengan ekspresi campur aduk antara gemas dan sebal.
"Bikin repot mulu kerjaannya," gumam Auau pelan. Ia membungkuk untuk melepas sepatu Save, lalu merapikan selimut hingga batas dada.
Setelah memastikan Save sudah nyaman, Auau hendak beranjak. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Tatapannya kembali jatuh pada ranjang.
Save sudah tertidur lelap. Napasnya terdengar teratur, wajahnya jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit lalu.
Di bawah temaram lampu tidur, wajah yang biasanya menyebalkan dan suka membantah itu terlihat begitu polos. Sisa rona merah akibat alkohol masih tampak di pipinya.
Auau terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mendekat. Tangannya terulur pelan, lalu jemarinya menyibakkan helaian rambut yang jatuh menutupi dahi Save.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang tidak pernah ia tunjukkan ketika Save sadar.
"Kapan lo lihat gue, Save?" bisiknya pelan, nyaris tenggelam di antara sunyinya malam.
_to be continued _
Author's note:
Ekhm... test ombak. 👀
Gimana menurut kalian tentang bab pertama ini? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, ya. 💕
Dan jangan lupa kasih vote sebagai bentuk dukungan kalian buat author, biar aku makin semangat bikin lebih banyak cerita AuauSave. 🥰
YOU ARE READING
More Than Friends [AUAUSAVE]
FanfictionHanya kisah Auau dan Save yang katanya sahabatan(?) ฅ^•ﻌ•^ฅ ฅ^•ﻌ•^ฅ ฅ^•ﻌ•^ฅ ฅ^•ﻌ•^ฅ "Lo bisa nggak... tetap sama gue aja?" Kalimat itu seharusnya terdengar biasa. Kalau saja Save tidak mengatakannya kepada sahabat yang diam-d...
![More Than Friends [AUAUSAVE]](https://img.wattpad.com/cover/415992467-64-k244263.jpg)