Suara ketukan penggaris kayu melayang di udara, nyaris mengenai hidung Freya yang sedang tertidur lelap di atas meja kelas 11 IPS-2.
"Freya! Bangun! Jangan mimpi jadi keong racun jadi-jadian terus!" seru sang guru dari depan papan tulis.
Gita, yang duduk tepat di sebelah Freya, hanya mengunyah permen karetnya dengan santai tanpa mengalihkan pandangan dari buku sketsa.
"Udah aku bilang, Fre, tidurnya senyap aja. Jangan pakai gaya kayang gitu."
"Bensin aku abis, Git..." gumam Freya dengan mata setengah terpejam, membetulkan letak seragamnya.
Di sudut lain kelas, situasi sama sekali tidak kondusif. Jessi dan Olla sedang asyik bertaruh siapa yang bisa melempar penghapus karet tepat ke dalam tas Eli.
Eli sendiri sibuk berdebat sengit dengan Muthe tentang warna jepit rambut yang cocok untuk gaya aesthetic minggu ini.
Sementara itu, Christy sedang asyik menyuapi Zee yang berpura-pura lumpuh demi mendapatkan potongan kue bolu.
Suasana gaduh 11 IPS-2 mendadak terhenti ketika pintu kelas didobrak dari luar.
Adel dan Oniel masuk dengan napas terengah-engah, disusul Lulu, Fiony, Indah, Marsha, dan Kathrina dari kelas 11 IPS-3.
"Gawat! Kondisi darurat!" teriak Oniel sambil memegang dadanya.
"Kenapa? Ada razia HP?" tanya Olla panik, refleks memasukkan ponselnya ke dalam kaus kaki.
"Bukan!" potong Adel dramatis. "Lapar! Kantin kehabisan batagor karena diborong anak kelas 10!"
Lulu menimpali dengan wajah memelas, "Sumpah, anak-anak kelas 10 IPS-3-si Ella, Greecel, Amanda, dan komplotannya-mereka baris di depan kasir kayak formasi baris-berbaris. Kita nggak disisaan satu pun!"
Gita menghela napas, menutup buku sketsanya. "Urusan perut emang selalu memicu perang saudara."
Saat perdebatan soal batagor semakin memanas, langkah kaki yang berwibawa terdengar di koridor.
Ci Shani dan Ci Gracia, dua siswi senior kelas 12 IPA-1 yang disegani, lewat di depan kelas ditemani Ka Feni, Ka Jinan, Ka Anin, Ka Sisca, dan Ka Cindy.
"Kalian yang di dalam, suara tawanya tolong dikondisikan ya. Kelas 12 lagi ada pemantauan," tegur Ci Shani lembut tapi penuh tekanan, membuat seluruh penghuni kelas 11 IPS-2 dan IPS-3 langsung duduk tegap seolah sedang ujian nasional.
"Sap, Cici!" sahut Zee cepat, menyembunyikan bolunya di bawah meja.
Namun, kedamaian buatan itu tidak bertahan lama. Dari arah gerbang luar sekolah, terdengar suara dentuman keras, disusul teriakan histeris para murid yang berada di lapangan basket.
KREEEKK! GUBRAK! GEDEBUK GEDEBUK!
Pagar besi depan sekolah roboh. Beberapa orang luar dengan pakaian bersimbah darah, kulit pucat, dan mata merah menyala berlari masuk dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Gerakan mereka patah-patah namun sangat agresif.
Di lorong lantai bawah, rombongan anak kelas 10 IPS-3 Lia, Lyn, Oline, Delyn, Nala, dan Nachia tampak berlari ketakutan sambil berteriak. "TOLONG! ADA ORANG GILA GIGIT PAK SATPAM!"
Seorang pria terinfeksi mendobrak jendela koridor lantai dua. Kaca pecah berhamburan. Pria itu menggeram keras, mengunci pandangannya ke arah gerombolan murid di depan kelas 11 IPS-2.
"Itu... manusia apa zombie?!" teriak Muthe sambil memeluk Fiony.
"Zombie kok larinya kayak atlet sprint?!" balas Kathrina histeris.
Makhluk itu meloncat menerjang. Tanpa berpikir panjang, Freya mengambil sapu ijuk di samping pintu dan mengayunkannya seperti pemukul bisbol, tepat mengenai wajah sang zombie hingga terpental ke dinding.
"Nice shot, Fre!" puji Olla.
"Jangan cuma dipuji, bantu mikir!" gerutu Freya, napasnya memburu saat melihat puluhan makhluk serupa mulai memanjat tangga menuju lantai mereka.
Ci Gracia dan Ka Feni dengan cepat menarik murid-murid kelas 10 ke dalam area aman, sementara Ci Shani berdiri di depan, mengomandoi situasi. "Semua masuk ke dalam ruangan! Kunci pintu!"
Gita menatap Freya, lalu beralih menatap belasan sahabatnya yang mengelilingi mereka di tengah koridor yang mulai kacau balau. "Kelihatannya jam pelajaran hari ini resmi dibatalkan."
Freya memegang erat gagang sapunya, menatap barisan zombie yang makin mendekat. "Dan sepertinya, nilai kelulusan kita ditentukan dari cara kita bertahan hidup hari ini."
Jangan lupa votenya
YOU ARE READING
R.A.G.E. VIRUS
FanfictionLabolatorium rahasia Aegis Corp tidak hancur oleh ledakan bom atau serangan teroris, melainkan oleh secangkir kopi. Seorang peneliti junior yang mengantuk secara tidak sengaja menyenggol cangkirnya, menyiram konsol utama, dan memicu system purge oto...
