1

376 63 2
                                        


Suara ketukan pualam dari sepatu pumps berbahan kulit premium bergema lembut di koridor lantai teratas Kim Corp.

Jennie Kim merapikan blazer kasmir hitam yang membungkus tubuh proporsionalnya. Wanita berusia dua puluh lima tahun yang kini menjabat sebagai Wakil CEO di perusahaan milik ayahnya itu dikenal bertangan dingin, tegas, dan sangat profesional di lingkungan kantor.

Ia baru saja menyelesaikan presentasi evaluasi investasi kuartalan di depan dewan direksi, sebuah posisi strategis yang berhasil ia raih dengan sempurna berkat gelar Magister Bisnis yang diselesaikannya di luar negeri.

"Laporan yang sangat presisi, Wakil CEO Kim. Jabatan ini memang sangat layak untukmu. Saya bangga," ucap Kim Jiyong, Direktur Utama Kim Corp, berdiri di ambang pintu ruang kerja utamanya. Pria paruh baya yang berwibawa itu menepuk bahu putri sulungnya dengan bangga.

"Terima kasih, Presdir Kim. Saya hanya menerapkan strategi yang sudah disepakati bersama dewan komisaris," sahut Jennie dengan nada suara formal dan tenang.

"Baiklah. Sekarang jam kerja sudah usai. Segera pulang dan bersiap-siap," ujar Jiyong melembutkan intonasinya kembali menjadi seorang ayah. "Mommy-mu tadi siang sudah wanti-wanti agar kamu tidak terlambat berganti pakaian."

"Iya, Dad. Pesta ulang tahun Rosé baru dimulai jam delapan malam. Masih ada cukup waktu," sahut Jennie tersenyum hangat, mengecup pipi ayahnya sebelum membereskan dokumen di mejanya.

Kediaman keluarga Kim di kawasan elite tampak tenang saat mobil Jennie memasuki halaman. Begitu tiba di rumah, sisi dingin profesional Jennie meleleh sepenuhnya, berganti menjadi sosok putri sulung yang manja, hangat, dan penuh kasih sayang kepada keluarga.

Di dalam kamar mewahnya yang berdesain modern elegan, Jennie mematut diri di depan cermin besar. Gaun malam berwarna emerald green memeluk tubuhnya dengan sangat pas, terlihat sederhana namun memancarkan keanggunan seorang wanita berkelas.

Suara langkah kaki yang renyah terdengar mendekat sebelum pintu kamarnya terdorong pelan. Adiknya, Kim Ella, melangkah masuk dengan mata berbinar.

"Wah, Unnie!" seru Ella terperangah. "Unnie cantik banget! Serius, warna emerald green ini pas banget di kulit Unnie. Semua tamu pasti terus melirik Unnie!"

Jennie tertawa renyah sambil bermanja-manja merangkul bahu adiknya. "Ella, ini pesta ulang tahun Rosé yang ke-24, bukan panggung runway Unnie."

"Tapi kamu benar-benar kelihatan anggun dan berkelas," puji ibunya, Lee Chaerin, yang menyusul masuk ke kamar. Wanita paruh baya yang selalu tampil elegan itu mendekat, membantu merapikan lipatan gaun di bahu Jennie.

"Mommy selalu bangga setiap kali melihat putri sulung Mommy tampil memesona seperti ini."

Kim Jiyong bersandarkan bingkai pintu kamar dengan senyum hangat penuh kasih sayang di wajahnya. "Putri Daddy memang selalu cantik. Kamu juga cerdas dan selalu bikin bangga."

Jennie tersenyum manis lalu memeluk lengan ayahnya manja. "Makasih, Dad, Mom."

"Kamu berangkat sama siapa malam ini, Sayang?" tanya Chaerin penasaran.

"Jemput sahabat-sahabatmu dulu atau langsung ke hotel?"

"Jennie tadinya mau menyetir mobil sendiri, Mom. Nanti langsung ketemu Joy dan Irene di lokasi," terang Jennie seraya meraih clutch peraknya.

"Tidak boleh menyetir sendiri malam-malam, Jennie," potong Jiyong cepat dengan nada tegas penuh perlindungan.

"Daddy tidak mengizinkan kamu pergi sendirian tanpa pengawalan. Apalagi setelah pengumuman jabatan barumu sebagai Wakil CEO Kim Corp, faktor keamananmu harus tetap nomor satu. Kamu harus berangkat bersama sopir dan didampingi bodyguard pribadi."

Falling to My Bestfriend's DadStories to obsess over. Discover now