0. Awal dari Segalanya

43 4 0
                                        

Jika ada yang bertanya sejak kapan Freya Azahra menjadi "pawang" seorang Rea Anastasya, jawabannya adalah sejak usia lima tahun.

Hari itu di halaman TK Bina Bangsa, Rea kecil bertubuh paling mungil di kelasnya sedang menangis sesenggukan di bawah perosotan. Es krim rasa stroberi miliknya jatuh ke tanah akibat tersenggol anak cowok lain.

"Es krim akuuu... jatuh..." isak Rea kecil, pipinya belepotan cokelat dan air mata.

Freya kecil yang saat itu sudah lebih tinggi setengah kepala dari teman-sebayanya, berjalan mendekat. Dengan wajah datar tanpa senyum–ciri khasnya sejak dini. Freya menyodorkan es krim rasa cokelat miliknya yang masih utuh ke tangan Rea.

"Nih. Jangan menangis lagi, bising," kata Freya kecil dengan gaya bicaranya yang sok dewasa.

Rea mendongak, matanya yang membulat menatap es krim cokelat itu, lalu menatap Freya dengan binar kagum. "Beneran buat aku? Tapi kamu makan apa?"

"Aku gak suka manis," bohong Freya pendek. Padahal ia sudah mengantre sepuluh menit demi es krim itu.

Rea langsung tersenyum lebar, menghapus air matanya kasar pakai lengan baju, lalu melahap es krim itu sampai hidungnya ikut kena cokelat. Tangannya yang mungil dan agak lengket tiba-tiba meraih ibu jari Freya, menggenggamnya erat.

"Freya baik banget! Nanti kalau udah besar, kita harus tinggal bareng terus ya! Kalau ada yang nakal sama aku, Freya harus pukul!" cerocos Rea polos.

Freya kecil hanya menatap jarinya yang digenggam tangan lengket itu. Bukannya risih, dada kirinya justru berdesir aneh untuk pertama kalinya. "Iya, Nanti ku pukul semua yang nakalin kamu."

•••

Tahun-tahun berlalu, dan janji anak-anak itu berubah menjadi kenyataan yang sedikit menyakitkan.

Saat mereka menginjak kelas 2 SMP, orang tua Rea mulai sibuk menaklukan dunia bisnis. Rumah megah di sebelah rumah Freya perlahan kehilangan kehangatan.

Lampu-lampunya sering mati, dan Rea kecil sering duduk sendirian di teras rumahnya yang gelap, menunggu mobil orang tuanya yang tak kunjung pulang.

Melihat itu, Ibu Freya selalu menarik Rea masuk ke rumah mereka. Mengusap kepalanya, menyuapinya sarapan, dan memberinya tempat di atas kasur Freya.

Namun, titik balik sesungguhnya-kejadian yang mengubah seluruh arah angin di hati Freya-terjadi di suatu sore musim hujan.

Hari itu, berita duka menghantam keluarga Freya. Ayahnya, seorang perwira militer yang sangat ia kagumi, gugur saat bertugas di luar pulau. Rumah Freya yang biasanya tenang mendadak dipenuhi orang-orang berseragam dan tangisan histeris Ibunya.

Freya yang saat itu berusia 14 tahun tidak menangis. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Sebagai anak tunggal seorang prajurit, ia menahan seluruh rasa hancurnya demi berpura-pura tegar di depan sang Ibu. Ia berdiri kaku di sudut kamar, menahan sesak di dadanya hingga napasnya terasa kram dan sakit luar biasa.

Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka pelan. Rea-yang saat itu juga sedang kebingungan dan sedih-masuk dengan langkah ragu. Gadis cilik itu tidak mengucapkan kalimat belasungkawa yang formal atau berbelit-belit seperti orang dewasa lainnya.

Rea cuma berjalan mendekati Freya, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangan mungilnya di pinggang Freya. Ia menyandarkan kepalanya tepat di dada Freya, meluk tubuh tinggi sahabatnya itu erat-erat.

"Freya... jangan ditahan," bisik Rea pelan, suaranya bergetar. "Kalau sakit, nangis aja ke aku. Gak ada yang lihat kok..."

Runtuh sudah seluruh pertahanan Freya.
Aroma sabun mandi dan hangatnya tubuh mungil Rea yang merengkuhnya membuat pertahanan baja Freya hancur berkeping-keping.

Freya jatuh berlutut di lantai kamar, menyembunyikan wajahnya di balik leher Rea, dan menangis sejadi-jadinya untuk pertama kali dalam hidupnya.

Rea tidak mengeluh saat seragamnya basah oleh air mata Freya. Tangan kecil Rea cuma terus mengusap rambut belakang Freya dengan penuh kasih sayang.

"Aku di sini, Fre. Aku gak bakal ke mana-mana," bisik Rea berulang kali.

Sore itu, di tengah kehancuran dunianya, Freya menyadari satu hal: Rea bukan lagi sekadar sahabat kecil yang harus ia lindungi. Rea adalah tempatnya pulang. Dan juga Rea adalah alasan jantungnya masih mau berdetak di tengah kegelapan.

Sejak hari itu, cara Freya memandang Rea berubah total. Setiap kali Freya melihat Rea tertawa konyol, setiap kali Freya merapikan kuncir rambutnya, atau setiap kali ia memapah Rea yang kecapekan-itu bukan lagi murni rasa sayang seorang teman. Ada cinta yang begitu besar, dalam, dan terlarang yang mulai berakar di dada Freya.

Freya sadar, Rea yang polos dan random hanya menganggap semua perhatian ekstra itu sebagai wujud "persahabatan sejati".

Dan Freya memilih diam. Ia rela mengubur rapat-rapat perasaannya, berpura-pura hanya menjadi "pawang" yang galak tapi perhatian, demi satu tujuan; agar Rea tidak pernah merasa asing dan melangkah pergi darinya.

"Biar aja kamu gak pernah tahu perasaan ini, Ce. Asal aku bisa terus ada di samping kamu... itu udah lebih dari cukup."

"Aku selalu bersyukur, bahwa dirimu pernah dilahirkan, gadis kecil ku."

Freya and her Little GirlStories to obsess over. Discover now