Bisa jadi ini hanya sebuah kisah remaja pada umumnya. Tentang persahabatan dan merawat mimpi di tengah dinamika identitas diri dan keluarga.
Barangkali ini hanya sebuah kisah penemuan jati diri biasa. Tentang remaja yang kehilangan impian yang sejak...
Aku ingin melewati kehidupan pertengahan SMA dengan serius tapi menyenangkan. Melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler yang begitu padat dan mencoba banyak hal yang mungkin rugi jika terlewatkan. Tidak lupa menu pentingnya, belajar.
Sayangnya, ceritanya begitu monoton dan membosankan, itu menurutku. Klimaksnya aku malah kebingungan di tengah jalan. Tidak tahu harus terus berjalan, putar haluan, atau malah jauh menyimpang.
Namaku, Minggu Lentera. Panggil saja Ming. Bukan keturunan kekaisaran bukan pula idola dengan suara menawan. Setelah Bapak meninggal, sekejap aku harus menjadi lelaki dewasa yang berani mengambil keputusan. Siap tidak siap. Termasuk keputusan memilih jenjang pendidikan SMA, jauh dari rumah, di luar kota, tinggal di kos-an, dan yang terpenting masa depan.
Kalau dulu ditanya, setelah lulus SMA mau apa? Aku bisa jawab dengan yakin, kuliah. Justru karena itulah aku masuk SMA. Ibu mendukungku dengan pasti.
Kalau sekarang? Jarak pandangku pendek sekali, tujuanku mengabur di tengah jalan. Aku berusaha meraba, mencari keseimbangan. Apa salah jika tidak kuliah? Ibu akan marah besar, menangis, lalu kecewa diam-diam. Hendak bekerja? SMA tidak menghasilkan lulusan siap kerja. Lalu, kalau kuliah, kuliah di mana, prodi apa?
Adakah spoiler bagaimana kisahku akan berjalan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.