Gedung Wijaya Group. 87 lantai. Jakarta.
Tanganku dingin. Keringat dingin.
Di depanku duduk pria yang katanya akan jadi "suamiku" selama 1 tahun.
Arka Wijaya.
Jas hitam yang harganya bisa buat bayar UKT ku 10 semester. Jam di tangannya 80M. Dan mata itu... hitam. Kosong. Menatapku seperti aku barang lelang.
"Tanda tangan."
Suaranya datar. Tanpa basa-basi.
Di atas meja marmer ada map hitam. Tebal.
KONTRAK PERJODOHAN
Jantungku berdetak kencang saat membuka halaman terakhir. Mataku langsung tertuju ke Pasal 9.
Pasal 9: Selama masa kontrak 1 tahun, Pihak Kedua wajib memenuhi segala kebutuhan Pihak Pertama. Termasuk kebutuhan biologis.
"Tanganku gemetar," gumamku pelan.
"Normal." Dia menyandarkan punggung. Dua kancing kemejanya terbuka. "Takut?"
"Aku... aku tidak mau ini." Suaraku pecah.
"Kamu tidak punya pilihan, Adelia." Dia berdiri. Tinggi. 185cm. Bayangannya menutupiku semua. "Papa kamu hutang 10M ke perusahaanku. Mau dia dipenjara?"
Air mataku jatuh.
Arka mengeluarkan pulpen Montblanc. Tidak diberikan padaku. Tapi ujung pulpen itu malah ia usapkan ke nadi di pergelangan tanganku. Pelan. Dingin.
"Gampang kan? Tanda tangan. Lalu mulai malam ini kamu ikut aku pulang. Beres."
Aku mengangkat wajah. "Kalau aku menolak?"
Dia tersenyum. Tapi matanya tidak tertawa sama sekali. "Hukumannya berat, sayang. Dan aku jamin kamu tidak akan suka."
Dengan tangan gemetar aku menulis: Adelia Putri
Saat tinta kering, dia langsung menyambar. "Bagus. Anak pintar."
"Arka--"
"Panggil aku Tuan." Potongnya tajam. "Mulai sekarang."
Di dalam Maybach hitam, selama 30 menit perjalanan tidak ada suara.
Hanya ada tangannya. Sesekali mengelus pahaku. Di atas rok. Tepat di bawah tatapan supir yang pura-pura fokus menyetir.
Penthouse 87. Pintu terbuka. Baunya mahal. Gelap. Hanya lampu kota Jakarta yang masuk dari jendela kaca.
"Lepas jasmu." Perintah pertamanya malam ini.
"Di sini?" bisikku.
"Di sini." Dia duduk di sofa kulit. Bersandar. Kakinya disilang. "Aku mau memeriksa barang yang baru aku beli."
Tanganku gemetar melepas blazer. Tinggal kemeja putih tipis dan rok pensil hitam.
Mata Arka menelusuri tubuhku dari atas sampai bawah. Lambat.
"Maju."
Aku maju satu langkah.
"Satu langkah lagi."
Saat sudah di depannya, Arka menarik pergelangan tanganku. Kuat.
Aku jatuh duduk di pangkuannya. Napasnya panas di leherku.
"Dari malam ini, Adelia..." bisiknya di telingaku. Tangannya mulai membuka kancing kemejaku. Satu. Dua. "Kamu milikku."
Jarinya berhenti di kancing ke-3. "Dan aku tidak suka barangku disentuh orang lain."
Jantungku hampir copot.
Ini baru malam pertama.
Napas Arka berat. Tangannya berhenti di kancing ketiga, tapi belum dilepas.
Dia malah mengangkat daguku dengan dua jari. Paksa aku menatap matanya.
"Takut?" bisiknya.
Aku menggeleng. Bohong.
"Bagus." Sudut bibirnya naik tipis. "Aku nggak suka istri yang penakut."
Jasnya dia lepas. Dilempar sembarangan ke lantai. Kemeja putihnya sekarang yang terlihat. Otot lengannya kelihatan jelas tiap dia bergerak.
"Berdiri."
Aku menurut. Kakiku lemas.
Arka ikut berdiri. Jarak kami cuma sejengkal. Dia tinggi banget. Aku harus mendongak buat lihat wajahnya.
Dia berjalan memutari ku. Pelan. Seperti sedang menilai barang.
Tangannya menyentuh rambutku, lalu turun ke punggungku. Berhenti di resleting rok.
"Tata tertib rumah ini cuma satu." Suaranya rendah, tepat di belakang telingaku. "Patuh."
Resletingnya ditarik turun. Pelan. Suara zipper itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
"Dan mulai malam ini, tubuhmu milikku sepenuhnya."
Rok pensilku melorot ke lantai. Tinggal kemeja dan dalaman.
Aku memejamkan mata. Malu. Dingin. Tapi nggak berani nolak.
Tangan Arka memutar tubuhku menghadap dia. Matanya gelap. Menatapku tanpa berkedip.
"Lihat aku."
Aku buka mata. Air mata ngegantung di pelupuk.
Dia mengusap pipiku dengan jempol. Kasar, tapi hati-hati.
"Jangan nangis di depanku, Adelia. Aku benci air mata."
Lalu tanpa aba-aba dia mengangkatku. Mudah. Seolah aku nggak ada beratnya sama sekali.
Aku terkejut dan refleks melingkar ke lehernya.
"Arka-- Tuan--"
"Shh." Dia membawaku ke arah kamar. Pintu kaca otomatis kebuka. "Kamu udah tanda tangan kontraknya. Jadi sekarang jalani."
Di atas ranjang king size, dia menurunkan ku pelan. Tapi tatapannya nggak pernah lepas dari wajahku.
"Malam pertama kita, sayang." Jarinya mengait kancing keempat kemejaku. "Dan aku mau kamu ingat setiap detiknya."
Lampu kota Jakarta jadi satu-satunya saksi malam itu.
BERSAMBUNG KE PART 02: ATURAN MAIN
YOU ARE READING
KONTRAK TUBUH DENGAN CEO
RomanceAku dijual untuk melunasi hutang 10M papaku. Imbalannya? Menjadi istri kontrak Arka Wijaya selama 1 tahun. Di atas kertas ini perjodohan. Di dunia nyata... ini perbudakan. Aturannya cuma 3: 1. Tinggal di penthouse nya 2. Ikuti semua perintah...
