✪ Prolog ✪

597 75 3
                                        

Sorot lampu putih yang menyilaukan menghantam panggung utama. Ribuan lightstick berwarna hijau neon bergoyang seirama di kegelapan stadion, menciptakan lautan cahaya yang megah. Gemuruh teriakan puluhan ribu penonton menyerukan satu nama yang sama, sebuah nama yang menguasai takhta tertinggi industri musik Korea saat ini.

Lee Jeno.

Di atas panggung itu, Jeno tersenyum. Senyum sempurna yang telah dilatih ribuan kali di depan cermin. Setiap gerakannya memancarkan pesona, setiap nadanya disambut jeritan histeris. Bagi dunia luar, ia adalah sosok idola tanpa cela. Mahakarya bernyawa yang dipuja, didekati, dan dicintai oleh jutaan orang.

Namun, hanya beberapa meter dari sana, dibalik tirai hitam tebal yang memisahkan keajaiban panggung dari kenyataan yang dingin seorang pria berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding beton yang lembap.

Lee Haechan memegang HT di tangan kirinya. Matanya yang kelelahan menatap lurus pada punggung tegap sang solois yang tengah berdiri di puncak dunianya. Tidak ada rasa kagum di mata Haechan. Yang ada hanyalah denyut pening di pelipis dan rasa pahit yang tertahan di tenggorokan.

Bagi publik, Lee Jeno adalah sang dewa panggung.
Namun bagi Haechan, pria itu tak lebih dari sebuah bencana berbalut pakaian desainer mewah. Seorang manusia arogan, perfeksionis tanpa perasaan, dan musuh terbesarnya.

Tiba-tiba, musik berhenti. Lagu berakhir dengan dentuman kembang api yang membumbung tinggi ke udara. Penonton bersorak riuh saat Jeno membungkuk dalam-dalam, mengakhiri pertunjukan spektakulernya malam ini.

Jeno berbalik, berjalan meninggalkan panggung menuju kegelapan belakang panggung. Begitu langkah kakinya melewati batas tirai tebal, senyum menawan yang baru saja ia tunjukkan kepada dunia luntur seketika. Raut wajahnya kembali dingin, tajam, dan tak tersentuh.

Ia berjalan lurus menghampiri Haechan. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata staf yang berlalu-lalang, Jeno menghentikan langkah tepat di hadapan pria yang paling ia benci sekaligus paling ia butuhkan diwaktu yang bersamaan.

Jeno mencengkeram botol air mineral di tangannya, menatap Haechan dengan mata kelam yang sarat akan dominasi dan kelelahan yang tersembunyi.

"Lagu terakhir tadi..." suara Jeno terdengar berat, pelan, namun sanggup menghentikan napas Haechan seketika. "...aku menyanyikannya untukmu. Puas?"

Haechan terkekeh sinis, mendongak membalas tatapan intimidasi itu tanpa rasa takut. "Jangan gila, Jeno-ssi. Jangan mencampurkan urusan pribadimu ke atas panggung." Lagipula, Haechan tidak akan tiba-tiba merona hanya karena tindakan Jeno tadi diatas panggung.

Jeno maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma keringat dan parfum mahal milik sang idola mengepung indra penciuman Haechan.

"Aku memang sudah gila," bisik Jeno dingin, tepat di samping telinga Haechan. "Dan kau orang pertama yang harus bertanggung jawab atas hal itu."

Di tempat ini, di balik kilatan lampu panggung dan kebohongan industri yang kejam, sebuah permainan berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang membakar dan cinta yang menghancurkan, mereka tahu tak ada satu pun dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang.


















Tbc.

Cerita ini lahir karena Haechan usil sama Manajer Noona, jadi kubuat Haechan mengatakan I love my job~

Enemy (Nohyuck)Des histoires addictives. Découvrez maintenant