PART 1: PASIR ITU MASIH BASAH

87 5 1
                                        

Hujan baru saja reda ketika aku berdiri di halaman rumah gadang milik keluarga Abi. Tanah merah Kabupaten Agam masih basah, meninggalkan genangan genangan kecil yang memantulkan langit senja.

Aku menggenggam pasir di telapak tangan. Pasir yang masih basah, lengket di kulit, seperti luka yang tidak pernah kering.

"Raka! Masuaklah! Ummi alah masak gulai paku!" suara Ummi memecah lamunanku.

Aku menoleh. Perempuan itu berdiri di pintu dapur, memakai kain batik dan baju kurung sederhana, senyumnya merekah seperti biasa.

"Iyo, Ummi. Sabanta lai" jawabku.

Pasir itu kumasukkan ke dalam kantong plastik kecil. Bukan untuk apa apa. Hanya untuk kuingat. Bahwa di tanah ini, aku pernah menjadi bahan bisikan.

---

Rumah gadang milik keluarga Abi berdiri kokoh di pinggir jalan desa. Atap gonjongnya melengkung tajam ke langit, seperti menantang zaman. Di depannya, sawah terbentang luas, menghijau sejauh mata memandang. Di kejauhan, Gunung Marapi menjulang biru, diam dan megah.

Aku duduk di tangga batu di depan rumah, memandangi jalan setapak yang mulai basah lagi oleh gerimis. Dulu, di jalan inilah aku sering diejek anak anak kampung.

"Raka anak haram! Raka anak ndak barado!"

Tawa mereka masih terngiang di telingaku, meski sudah bertahun tahun berlalu. Dulu aku sering pulang menangis, berlari ke kamar, mengunci pintu. Ummi selalu mengetuk pelan, membawakan teh hangat dan pisang goreng.

"Jan dipikia, Nak. Mereka ndak paham. Hati urang sarupo tanah ko. Kadang kareh, kadang becek. Tapi kalau dipupuak jo kasih, pasti tumbuah juo."

Aku tidak pernah benar benar paham maksud Ummi waktu itu. Yang kutahu, pelukannya selalu membuat luka di dadaku terasa lebih ringan.

---

Malam harinya, setelah isya, Abi memanggilku ke ruang tengah.

Ruang tengah rumah gadang itu dipenuhi ukiran kayu tua. Lampu gantung bercahaya kuning redup, membuat bayang bayang di dinding seperti menari pelan. Ummi duduk di sebelah Abi, mengupas jeruk, sementara Abi menghadapku dengan wajah serius.

"Raka, duduak dulu. Abi nak mangecek sasuatu."

Aku duduk bersila di atas karpet. Jantungku berdegup pelan. Biasanya kalau Abi sudah begini, ada hal besar yang akan terjadi. Entah itu tentang sekolah, tentang keluarga, atau tentang masa laluku yang tidak pernah benar benar selesai.

"Mulai taun ko, Abi nak daftarkan kau ka Gontor. Pondok Modern Darussalam Gontor. Di Ponorogo, Jawa Timur."

Aku terkejut. "Gontor? Itu kan jauh, Abi."

"Iyo. Tapi di sinilah kau bisa baraja elok elok. Di kampuang ko, kau hanyo jadi urang nan dipatanyokan urang taruih. Abi ndak nio kau tumbuah di bawah bayang bayang kasalahan Abi."

Ummi meletakkan jeruk di piring, lalu menatapku lembut. "Ummi pun setuju, Nak. Kau harus pai dari siko. Mencari ilmu, mancari jati diri. Biar kelak kau pulang jadi urang nan labiah elok dari kami."

Aku terdiam. Pikiran berkecamuk. Jauh dari rumah, jauh dari Ummi, jauh dari segalanya yang kukenal. Tapi di sisi lain, ada rasa lega. Seperti burung yang akhirnya dilepas dari sangkar.

Raka setuju, Abi, Ummi."

Abi mengangguk. "Barangkeklah jo niat nan elok. Jan lupo shalat, jan lupo ngaji, jan lupo adat."

"Jan lupo makan" tambah Ummi, membuatku tersenyum.

Abi melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Raka, Abi tahu kau pasti bertanya tanya, kenapa Abi baru sekarang manyekolahkan kau jauah. Abi bukan ndak sayang. Justru karano sayang, Abi relakan kau pai."

Aku menatap Abi. Lelaki itu menunduk, memainkan jari jarinya.

"Abi malu jo dirinyo surang, Raka. Abi bukan laki laki nan baik. Tapi Abi ingin kau jadi laki laki nan labiah elok dari Abi."

Ummi menyentuh lengan Abi. "Alah, Abi. Jan balarut larut. Raka paham."

Aku mengangguk. "Raka paham, Abi. Raka ndak pernah manyalahkan Abi."

Abi mendongak, matanya berkaca kaca. "Abi barutang banyak jo kau, Nak. Abi barutang banyak jo Ummi. Abi harok, kau bisa mambaok namo kaluarga ko ka tampek nan labiah elok."

--

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Kepalaku penuh dengan bayangan masa lalu.

Aku ingat, saat usiaku tujuh tahun, ada seorang perempuan tua datang ke rumah. Perempuan itu menatapku lama, lalu berbisik ke tetangga, "Anak tu mirip bana jo Fatimah. Sayang, ndak tau di mano ibunyo."

Aku tidak tahu siapa Fatimah waktu itu. Yang kutahu, Ummi langsung membawaku masuk rumah, menutup pintu rapat rapat.

"Mereka tidak paham, Nak. Jan dipikia."

Tapi sekarang, aku paham. Fatimah. Nama itu terus mengikutiku seperti bayang bayang.

---

Hari keberangkatan tiba.

Pagi itu, hujan turun rintik rintik. Abi menyewa angkot untuk mengantarku ke terminal. Ummi menangis di teras rumah, tidak ikut ke terminal karena tidak ingin membuatku makin sedih.

"Raka, jaga diri elok elok. Kalau ado apo apo, telepon Ummi. Jan dipandam surang."

Aku memeluk Ummi erat. "Raka sayang Ummi."

"Ummi pun sayang Raka. Allah bersama kau, Nak."

Abi memegang bahuku. "Ayo, kito barangkek. Bejalan dulu surang, Abi susul."

Aku berjalan menuju angkot yang sudah menunggu. Hati berat, tapi langkah harus tetap maju.

Di sepanjang perjalanan menuju terminal, aku memandangi kampung halamanku. Sawah, sungai, masjid tua, rumah rumah gadang. Semua terasa seperti lukisan yang akan selalu kuingat.

Sesampainya di terminal, Abi menurunkanku. Ia menyerahkan tas besar dan amplop cokelat.

"Ini surat dari Ummi. Baco di dalam bus. Jangan hilang."

Aku mengangguk. "Iyo, Abi."

Abi menatapku lama. Lalu, tanpa diduga, ia memelukku. Erat.

"Maafkan Abi, Nak."

Air mataku jatuh. "Raka sayang Abi."

"Abi sayang Raka. Labiah dari nan Abi bisa kecekkan."

Bus datang. Aku naik. Dari jendela, aku melihat Abi berdiri di pinggir jalan, melambai. Tubuhnya yang tegap kini terlihat rapuh.

Aku membuka amplop itu setelah bus mulai berjalan.

---

Raka, anak Ummi,

Assalamu'alaikum.

Ummi tidak bisa menulis panjang. Ummi hanya ingin bilang, Ummi bangga jadi ibumu. Bukan karena darah, tapi karena doa. Ummi selalu mendoakanmu sejak Ummi tahu kau ada.

Jangan pernah merasa sendiri. Di rumah ini, di tanah Agam ini, selalu ada orang yang mencintaimu.

Pergilah, Nak. Tuntut ilmu setinggi mungkin. Jangan pulang sebelum jadi orang yang kau impikan.

Ummi.

---

Aku melipat surat itu dan menyimpannya di saku baju. Air mataku mengalir pelan, membasahi kerah baju.

Bus melaju keluar dari Kabupaten Agam, meninggalkan tanah kelahiranku. Aku menaburkan sedikit pasir dari kantong plastik di telapak tanganku.

Pasir dan doa. Dua hal yang akan selalu mengiringi langkahku.

Perjalanan dua hari ke Ponorogo dimulai.

Next..

Jangan lupa vote, comment dan share ya.

Pasir Dan DoaStories to obsess over. Discover now