Nara berlari kecil menuruni tangga. Tas merah terpanggul di punggungnya, seragam putih dengan rok biru membungkus tubuh mungil itu. Di tangannya, ia memegang sebuah kuncir rambut.
Sesampainya di dapur, Nara langsung duduk di kursi samping Raka, ayahnya, yang sedang menonton berita dari layar ponsel. Sementara di depan mereka, Mira, ibu Nara, tengah memanggang roti di atas teflon.
Aroma manis bercampur gurih memenuhi dapur kecil itu.
"Ayah, bisa bantu aku menguncir rambut?" Tanya Nara sambil menyerahkan kuncir rambut di tangannya.
"Tentu, Nara."
Raka mulai menyisir rambut anaknya dengan jemari, lalu mengikatnya menjadi dua kunciran di kanan dan kiri. Sambil melakukannya, ia masih mendengarkan berita yang diputar di ponselnya.
Seorang pembawa acara berpakaian rapi muncul di layar, duduk berdampingan dengan seorang narasumber yang mengenakan jas putih panjang.
"Pemirsa, akhir-akhir ini muncul laporan tentang penyakit aneh pada hewan peliharaan. Beberapa di antaranya menjadi agresif, mata memerah, bahkan ada yang mengalami kejang hingga mati."
Pembawa acara itu menoleh kepada narasumber di sebelahnya.
"Menurut Bapak sebagai dokter hewan, apakah ini disebabkan oleh virus berbahaya? Dan apakah ada kemungkinan virus tersebut menular ke manusia?"
"Baik, akan saya jelaskan," jawab pria berjas putih itu. "Memang benar, beberapa hewan peliharaan tiba-tiba menjadi agresif, bahkan menyerang pemiliknya tanpa alasan yang jelas. Namun dari pemeriksaan yang dilakukan di beberapa rumah sakit hewan, sejauh ini kami belum menemukan virus yang aneh.
"Selain itu, para pemilik hewan yang mengalami gigitan atau cakaran juga tidak menunjukkan gejala infeksi seperti rabies."
Raka selesai menguncir rambut Nara. Ia kembali menatap layar ponselnya. Nara pun ikut memperhatikan berita itu dari samping.
"Lalu, apa penyebab hewan-hewan itu menyerang pemiliknya, Pak?" Tanya pembawa acara.
"Untuk saat ini kami menduga faktor psikologis pada hewan. Bisa jadi karena musim kawin, atau stres akibat perubahan cuaca yang ekstrem. Kedua hal itu memang bisa membuat hewan lebih agresif."
Raka dan Nara menyimak sambil melihat beberapa gambar yang ditampilkan di layar. Seekor anjing dipasangi brongsong di ruang klinik. Seekor kucing mencoba mencakar dari dalam kurungan. Ada pula burung yang mengamuk di dalam kandang periksa.
"Sarapan sudah siap."
Mira membawa nampan berisi roti panggang dan beberapa potong buah ke meja makan. Ia meletakkannya di tengah meja, lalu melepas celemek sebelum duduk bersama mereka.
Pagi itu terasa biasa saja.
"Ayah, Ibu, apa kita bisa pergi ke kebun binatang saat liburan semester nanti?" Nara mengangkat tangan dengan penuh semangat.
Raka dan Mira saling pandang sejenak, lalu tersenyum.
"Tentu saja bisa." Jawab Mira sambil mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Nara mengerjapkan mata.
"Kalau Nara berhasil masuk lima besar setelah ujian semester nanti, baru kita pergi ke sana. Ibu juga akan mengajakmu mencoba semua wahana."
Nara langsung tersenyum lebar.
"Tenang saja, Bu. Lima besar itu mudah. Semester kemarin aku hampir jadi peringkat satu di angkatan. Semester ini pasti bisa!"
"Wah, percaya diri sekali." Kata Raka sambil terkekeh pelan. "Itu baru anak Ayah."
Sejak kecil, Nara dikenal sebagai anak yang sangat cerdas di sekolahnya. Saat usianya baru dua belas tahun, ia sudah lolos seleksi olimpiade matematika tingkat nasional dan membawa pulang medali perak.
Bukan hanya matematika. Nara juga gemar mempelajari bahasa asing. Hanya dari menonton film dan serial favoritnya, ia perlahan bisa memahami bahasa Inggris, Jepang, bahkan sedikit Mandarin.
Sering kali Mira dan Raka saling berpandangan heran melihat betapa cepat anak mereka menyerap sesuatu yang baru.
Selesai sarapan, mereka pun bersiap memulai aktivitas masing-masing.
Raka menunggu anaknya yang masih sibuk mengikat tali sepatu. Ia berdiri sambil memeriksa pesan masuk dari perusahaannya, sesekali melirik jam tangan.
"Siap, Ayah!" Nara berdiri dengan penuh semangat.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Raka mengangguk.
"Ibu, aku berangkat, ya."
Nara mencium tangan Mira yang berdiri di depan pintu rumah, lalu berjalan menuju mobil tempat Raka sudah menunggu. Mira melambai ke anak dan suaminya, memperhatikan mobil mereka yang mulai bergerak pelan hingga akhirnya melaju di jalanan.
Rutinitas pagi keluarga itu berjalan seperti biasa. Raka mengantar Nara ke sekolah sebelum pergi ke pabrik industri tempatnya bekerja. Sementara itu Mira bekerja sebagai perawat di rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka, hanya sekitar lima ratus meter. Jadwal kerjanya dimulai pukul sepuluh pagi.
Di perjalanan menuju sekolah, Raka mulai memperhatikan beberapa kejanggalan.
Beberapa burung terlihat terbang berputar-putar di atas tiang listrik. Di bawah pepohonan, dua ekor tupai tergeletak tak bergerak. Bahkan di pinggir jalan terlihat seekor anjing jenis German Shepherd tengah mengamuk, sementara pemiliknya berusaha menenangkan dengan memasang brongsong di mulutnya sebelum membawanya ke klinik hewan.
Meski begitu, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka menganggap hewan-hewan itu hanya mengalami stres akibat perubahan cuaca yang ekstrem, seperti yang dijelaskan narasumber dalam berita pagi tadi.
Mobil mereka terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah. Nara mencium tangan ayahnya sebelum turun dari mobil. Namun, mendadak pandangan Raka teralih pada sesuatu.
Seekor kucing duduk santai di atas atap gerbang sekolah. Matanya menatap lurus ke arah mobil Raka.
"Ada apa, Ayah?" Tanya Nara heran sambil mengikuti arah pandangan ayahnya.
"Tidak apa-apa." Raka menggeleng pelan.
"Baiklah. Aku pamit, ya." Nara membuka pintu mobil.
"Nara—" Raka memanggil cepat sebelum anaknya benar-benar turun. "Jangan dekati hewan apa pun hari ini, ya."
"Baik, Ayah." Jawab Nara tanpa bertanya lebih jauh. Ia sudah tahu alasan kekhawatiran ayahnya itu.
ESTÁS LEYENDO
Bila Esok Tiba
AcciónSebuah kisah, di mana manusia berjuang melewati masa mencekam, melawan sesuatu yang bahkan mereka tidak kira. Guna menatap mentari esok. jika tidak sekarang mungkin besok. Kelak tiba, hari di mana manusia akan melihat perbuatannya pada alam. hari d...
