Chapter 1: Januari

45 6 0
                                        

"Aku pikir tahun ini akan seperti biasanya. Ternyata tahun ini titik awal perjalanan hidup yang berat."


Halo, aku Angie.

Saat itu usiaku lima belas tahun. Kupikir tahun itu hanya akan dipenuhi ujian, tugas, dan mimpi-mimpi sederhana. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa 2018 akan menjadi tahun terakhirku memiliki Papa.

Pagi ini berjalan seperti biasanya. Bangun pagi untuk bersiap pergi sekolah. Sebelum merapikan tempat tidur aku berdoa seperti biasanya. Aku tidak mengerti kenapa harus berdoa, namun Papa mengajari kami untuk selalu berdoa.

Suara Papa memanggilku padahal aku masih ingin tiduran sebentar. Dengan malas aku menjawabnya lalu keluar kamar menuju kamar mandi. Papa sudah selesai memasak nasi goreng. Papa melihatku dengan wajah yang sulit kuartikan.

"Minum air dulu terus mandi."

"Iya."

Bukannya langsung beranjak mengambil gelas, setelah dari kamar mandi aku malah duduk di kursi ruang keluarga sambil menatap jam yang berputar.

Rasanya setiap pagi Papa selalu punya daftar yang harus kuingat. Ekor mataku melirik Papa yang berjalan ke tempat air. Ia selalu minum air setiap pagi. Aku tidak tahu berapa liter air yang Papa minum sehari.

"Angie, bangunkan kedua adikmu. Lalu siap-siap, mau pergi jam berapa kamu?"

Kali ini suara Mama membuatku bergerak. Aku segera membangunkan ketiga adikku.

Sekarang aku telah berada di meja makan bersama kedua adikku sambil menunggu adik bungsu kami. Hari ini sarapan nasi goreng buatan Papa. Hari ini tidak seperti biasanya Papa belum pergi ke laut. Papa terlihat sibuk dengan kertas-kertasnya.

"Pa, tidak pergi ke laut?"

Papa menatapku sebentar lalu kembali fokus dengan kertas-kertasnya. Ia menjelaskan dengan singkat bahwa hari ini akan ada rapat di balai desa. Papa yang akan bertanggungjawab atas rapat tersebut. Percakapan kami berakhir. Papa fokus dengan urusannya sementara aku pergi duduk di meja makan. Aku dan ketiga adikku sudah siap menyantap nasi goreng buatan Papa.

"Jangan lupa berdoa."

Sendok yang hampir masuk ke dalam mulut kami pun langsung berhenti. Berat hatiku taruh kembali sendok di piring. Sementara adik bungsu kami sudah makan sesuap. Aku langsung memimpin doa. Sejujurnya, aku belum benar-benar mengerti mengapa Papa selalu mengingatkan untuk berdoa setiap kali kami akan makan. Yang kupikirkan hanya satu: nasi goreng buatan Papa sudah tercium harum sejak tadi.

Benar saja, rasanya selalu enak daripada yang kubayangkan. Masakan Papa memang terbaik walaupun kadang idenya aneh namun, entah bagaimana rasanya selalu berhasil membuatku ingin menambah. Bahkan temanku yang pernah makan masakan papaku mengakui kehebatan Papa. Selesai menyantap sarapan aku bergegas untuk pergi sekolah. Seperti biasanya Mama memberikanku jatah jajan minggu ini.

"Makasih Ma, Angie berangkat. Selamat pagi".

Aku langsung berlari menuju jalan utama tanpa menunggu balasan dari orang rumah. Setiap anggota keluarga kami memiliki kesibukkan masing-masing. Yang kupikirkan hari itu aku tidak boleh terlambat. Upacara bendera perdana di awal semester dua akan dilaksanakan. Aku berjalan sambil berdoa dalam hati agar ada tukang ojek atau setidaknya orang baik yang menolongku.

Sampai di sekolah aku berlari masuk dalam sekolah. Beruntung ada orang baik yang menolongku. Saat itu, aku hampir menangis di jalan karena tidak satupun tukang ojek yang lewat. Tidak lama menaruh tas di meja bel pun berbunyi. Semua orang mulai berjalan ke arah lapangan. Barisan mulai di atur.

"Angie, tugasmu sudah selesai?"

Bisikan Reya membuatku menoleh ke belakang. Sambil tersenyum aku mengangguk. Lalu aku bertanya balik kepadanya. Namun, Reya menggelengkan kepalanya dan meminta untuk melihat tugasku. Aku mengiyakan permintaannya dan kembali pada posisi awal sebab upacara sudah dimulai.

Matahari pagi terasa begitu terik. Upacara hari itu berlangsung lebih lama dari biasanya hingga beberapa siswa mulai pingsan. Selesai upacara aku pun berlari untuk berteduh. Kerongkonganku mulai terasa kering sebelum beranjak dari tempat berteduhku. Suara imut mengagetkanku.

"Gie, ini air minummu. Papamu ada nitip."

Aku bingung melihat Lian tetanggaku yang memberikannku botol yang familiar. Baru kusadari bahwa botol minumku tertinggal di rumah. Papa pasti menyadarinya setelah aku berangkat. Aku mengucapkan terima kasih sebelum dia pergi ke kelasnya. Lalu membuka tutup botol itu, airnya masih dingin.

Aku merasa bahwa Papa berlebihan.

Reya memanggilku untuk segera masuk ke kelas. Aku langsung memberikan buku tugas matematikaku kepadanya.

Pelajaran pertama dimulai. Aku berusaha fokus mendengarkan penjelasan pak Amar. Matematika bukanlah pelajaran yang aku kuasai, tetapi setidaknya aku tidak terlalu takut karena semalam Papa sudah membantuku mengerjakan tugas. Saat jawaban dibahas, irama jantungku mulai tak beraturan.

Reya dan teman-temannya tadi menyalin jawabanku. Syukurlah, semua jawabannya benar. Aku tersenyum kecil, dalam hati aku tahu Papa memang hebat. Aku kembali fokus untuk mata pelajaran selanjutnya dengan bahagia.

Waktu pulang matahari memamerkan cahayanya tanpa peduli pada manusia yang dibawahnya. Sambil membawa tas yang lumayan berat aku berjalan bersama Dewi teman sebayaku di desa.

Kami lebih banyak bercerita tentang tugas sekolah sesekali kami beristirahat di tempat yang teduh dan mengusir dahaga. Dewi membeli air minum di warung. Aku hanya tersenyum menggeleng. Masih ada air dari botol yang tadi dititipkan Papa. Lagi pula, uang jajanku harus sampai hari Sabtu. Kakiku mulai pegal setelah berjalan hampir tiga kilometer. Dalam hatiku hanya ingin sampai di rumah mengganti pakaian, makan siang lalu membaca novel terjemahanku.

Sampai di rumah aku mengucapkan salam seperti biasanya.

"Siang, langsung ganti pakaian dan makan."

Papa berbicara sambil tangannya sibuk menjahit pukat barunya. Aku hanya membalas dengan singkat. Setelah berganti pakaian aku pergi makan. Sekali lagi Papa mengingatkan untuk berdoa. Aku hanya mengangguk kecil sambil menyuapkan nasi ke mulut.

Setelah selesai makan aku tidak tidur siang. Aku memilih untuk duduk tidak jauh dari tempat Papa berada sambil membaca novel terjemahan di handphone.

"Ngie."

Aku menaruh handphoneku.

"Tugasnya bagaimana?"

Kukira Papa menyuruhku untuk tidur, ternyata yang ia tanyakan justru tugas matematikaku yang diberikan sebelum libur semester.

"Jawabannya benar, Pa. Nilai sempurna yang kudapat."

Wajah Papa terlihat biasa saja bahkan dia masih fokus pada pekerjaanya.

"Begitulah Papa, tugas berikutnya nanti datang sama Papa."

Aku tertawa kecil. Papa terlalu percaya diri. Namun, kuakui matematika Papa memang terbaik. Bahkan Mama memang sering mengatakan kalau Papa itu kalkulator berjalan.

Malam harinya kami makan bersama. Doa kali ini dipimpin oleh adik keduaku, Vio. Meja makan kami tidak pernah ramai. Hanya beberapa kalimat yang keluar, biasanya tentang sekolah, pekerjaan, atau hal-hal yang memang perlu dibicarakan. Di rumah kami, siapa terakhir makan maka harus merapikan meja. Entah bagaimana, orang itu selalu aku. Dalam hatiku aku berjanji suatu hari nanti akan makan lebih cepat dari Papa. Papa melirik ke arahku.

"Belajar dulu. Kamu sudah kelas sembilan."

Aku langsung mengambil buku. Nasihat itu hampir selalu kudengar setiap malam.

Sebelum masuk kamar, suara Papa terdengar dari ruang tengah.

"Minum air dulu. Ke kamar mandi. Jangan lupa berdoa."

Aku menghembuskan napas pelan. Rasanya tidak ada malam tanpa kalimat itu.

Aku pikir Papa akan lupa saat dia fokus dengan film kesukaannya yang sementara ditonton bersama Mama. Meski begitu, aku tetap mengambil segelas air sebelum masuk kamar.

2018 THE ENDStories to obsess over. Discover now