Tidak semua orang terlahir untuk menjalani kehidupan yang mereka pilih sendiri.
Ada yang sejak kecil sudah ditentukan jalan hidupnya.
Ada yang bahkan belum mengerti arti sebuah keputusan, tetapi namanya sudah tercatat di dalam sebuah dokumen yang kelak akan menentukan masa depannya.
Dan ada pula seseorang yang harus meninggalkan kehidupannya sebelum sempat mengenal kehidupan itu sendiri.
Namanya adalah Reyvano Vernath.
Namun, nama itu tidak akan digunakan untuk waktu yang cukup lama.
---
"Jadi, kau benar-benar akan mengirimnya?"
Suara seorang perempuan terdengar dari ruangan yang luas itu.
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen, paspor, serta sebuah map berwarna gelap. Semua benda itu tersusun dengan rapi seolah telah dipersiapkan jauh sebelum percakapan tersebut dimulai.
Seorang anak laki-laki kecil duduk di salah satu kursi.
Usianya belum cukup untuk memahami mengapa orang-orang dewasa di sekitarnya berbicara dengan suara serius.
Ia hanya tahu bahwa beberapa hari lagi, ia akan pergi.
Jauh.
Sangat jauh.
"Indonesia," jawab seseorang akhirnya.
Anak itu mengangkat kepalanya.
"Indonesia?"
"Iya."
"Kenapa aku harus pergi?"
Tidak ada jawaban langsung.
Orang di hadapannya hanya menatap anak itu cukup lama.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Melainkan karena jawaban tersebut terlalu panjang untuk dijelaskan kepada seorang anak kecil.
"Anggap saja ini perjalanan."
"Perjalanan?"
Anak itu mengangguk pelan.
"Berapa lama?"
Kali ini, seseorang tersenyum tipis.
"Kami tidak tahu."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan.
Dan Indonesia bukan sekadar tempat tinggal sementara.
Anak itu akan menjalani kehidupan baru.
Nama baru.
Keluarga baru.
Sekolah baru.
Teman-teman baru.
Dan yang paling penting-
identitas baru.
---
Beberapa hari kemudian, seorang anak laki-laki bernama Reyvano Vernath resmi meninggalkan kehidupannya.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang anak bernama Reyvano telah pergi.
Sebab ketika ia tiba di Indonesia, nama itu tidak lagi digunakan.
Dokumen-dokumennya telah disiapkan.
Identitasnya telah disesuaikan.
Bahkan namanya telah berubah.
YOU ARE READING
NERO SCHOOL
General Fictionkisah ini alurnya maju, jadi jan heran kalo tiap bab udah beda hari atau bahkan beberapa minggu. alurnya awur-awuran, ada beberapa bab yang kalo di baca terlihat berbeda padahal inti pembahasan selalu hampir sama. Cerita ke-2. Cerita yang pertama...
