Episode 1.

42 5 0
                                        


Episode 1: Pernikahan yang Tidak Pernah Seana Minta

Seana Ardhita : Sunoo
Kaivan Wirawan : sunghoon
Reno : ni-ki

Hujan turun rintik-rintik ketika Seana Ardhita duduk di depan cermin kamarnya yang sempit, menatap pantulan dirinya sendiri dengan riasan yang terlalu tebal untuk seleranya. Gaun putih gading yang ia kenakan bukan pilihannya. Bahkan potongan rambutnya yang disanggul rapi pun bukan atas kemauannya sendiri.

Semua ini bukan atas kemauannya.

Tiga minggu lalu, hidupnya masih biasa saja. Ia bangun jam enam pagi, membantu ibunya menyiapkan sarapan, lalu berangkat ke toko kelontong ayahnya untuk membantu jaga kasir sampai sore. Malamnya ia akan menonton drama bersama adiknya sambil makan kerupuk, tertawa untuk hal-hal kecil yang sekarang terasa seperti kehidupan orang lain.

Sampai suatu malam, ayahnya pulang dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar memegang secarik kertas yang basah oleh keringat sendiri.

"Kita harus bicara," katanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Seana ingat betul bagaimana malam itu berubah menjadi malam terpanjang dalam hidupnya. Ayahnya bercerita tentang utang. Bukan utang kecil yang bisa dicicil sedikit demi sedikit-melainkan utang besar yang entah bagaimana caranya, telah membengkak jauh melampaui apa yang sanggup dibayar keluarga mereka seumur hidup.

"Orang yang meminjamkan uang itu... bukan orang biasa," ayahnya berkata sambil menunduk, tak berani menatap mata Seana. "Mereka bilang, ada cara lain untuk melunasinya."

Seana masih ingat bagaimana jantungnya berdegup kencang saat itu, firasat buruk mulai menjalar meski ia belum tahu apa yang akan dikatakan ayahnya selanjutnya.

"Cara apa, Pak?"

Hening lama sebelum ayahnya menjawab.

"Pernikahan."

Kata itu jatuh seperti batu ke dalam kolam yang tenang, menciptakan riak yang tidak akan pernah berhenti bergerak.

Seana tidak langsung mengerti. Ia pikir mungkin ini semacam salah paham, atau lelucon buruk di tengah situasi genting. Tapi wajah ayahnya yang penuh rasa bersalah, dan suara ibunya yang mulai terisak di sudut ruangan, membuatnya sadar bahwa ini bukan lelucon sama sekali.

"Namanya Kaivan Wirawan," ayahnya melanjutkan, hati-hati memilih kata. "Keluarganya... dulu punya hubungan dengan keluarga kita. Ada janji lama dari kakekmu. Dan sekarang, ini caranya untuk... menyelesaikan semuanya."

"Menyelesaikan dengan cara aku menikah dengan orang yang bahkan tidak aku kenal?" Suara Seana pecah, campuran antara marah dan takut yang tidak bisa ia bedakan lagi.

Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya menangis, untuk pertama kalinya di depan Seana, mengucapkan kata maaf berulang-ulang seolah itu bisa menghapus keputusan yang sudah diambil di luar kendali Seana sepenuhnya.

Dan di sinilah ia sekarang. Duduk di depan cermin, dengan gaun yang bukan pilihannya, menunggu hari yang akan mengubah seluruh hidupnya menjadi milik seorang pria bernama Kaivan Wirawan-nama yang baru ia dengar tiga minggu lalu, namun akan menjadi nama yang harus ia sandingkan dengan namanya sendiri seumur hidup.

Pernikahan itu diadakan di sebuah aula pribadi yang jauh lebih mewah dari apa pun yang pernah Seana lihat seumur hidupnya. Lampu kristal tergantung di langit-langit, karangan bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan, dan tamu-tamu berpakaian mahal duduk dengan sikap yang begitu formal hingga terasa dingin-seperti menghadiri rapat bisnis, bukan perayaan cinta.

Seana berjalan menyusuri karpet merah sendirian, karena ayahnya sudah lebih dulu duduk di kursi tamu, terlalu malu untuk mengantarkan anaknya ke pelaminan yang ia sendiri yang menyebabkan keberadaannya.

ISTRI MAFIA [SUNSUN]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora