Suara berisik dari lantai bawah sudah terdengar sejak Rangga membuka mata. Bukan hal baru. Di rumah keluarga Purnawaman, pagi tidak pernah datang dengan tenang.
Ia meraih ponsel di atas nakas, memicingkan mata membaca waktu-enam lewat dua puluh menit. Masih ada waktu, pikirnya, sebelum akhirnya bangkit dan menyeret kaki menuju kamar mandi. Dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka, samar-samar ia bisa mendengar suara Kenzi merengek di ruang makan.
"Kak Gibran make headset-ku lagi, Ma!"
"Bukan punya kamu doang kali, Ken!"
"ITU KADO ULTAH AKU!"
Rangga tersenyum tipis sendiri sambil menyikat gigi. Selalu begini. Kalau bukan soal headset, ya soal remote TV, atau siapa yang duluan pakai kamar mandi, atau siapa yang menghabiskan sereal terakhir. Tiga anak laki-laki di bawah satu atap memang tidak pernah benar-benar tenang, dan entah kenapa, meskipun kadang membuat kepala pening, Rangga tidak pernah benar-benar terganggu dengan keributan itu. Rumah tanpa suara Gibran dan Kenzi justru terasa aneh baginya.
Ia turun ke lantai bawah dua puluh menit kemudian, sudah rapi dengan kemeja putih yang dimasukkan asal ke celana bahan, tas selempang kulit tergantung di satu bahu. Di meja makan, Kenzi masih cemberut sambil mengunyah roti, sementara Gibran duduk di seberangnya dengan headset tergantung di leher-jelas hasil rebutan yang dimenangkannya.
"Pagi," sapa Rangga sambil menarik kursi.
"Kak, liat kak Gibran nyebelin," adu Kenzi cepat, matanya berkaca-kaca sedikit berlebihan untuk urusan headset.
"Udah, udah. Gibran, balikin headsetnya, entar lu beli sendiri kalau emang niat gaming pake headset," ujar Rangga santai sambil menuang teh ke gelasnya.
"Yah, gue kan cuma minjem doang, Kak," Gibran membela diri, meski akhirnya melepas headset itu dari lehernya dan menyodorkannya ke arah Kenzi tanpa protes lebih jauh. Ribut sebentar, damai lagi-itu pola yang sudah dihafal luar kepala oleh siapa pun di rumah ini.
Dari arah dapur, Mama Sinta muncul membawa piring berisi telur dadar dan tempe goreng, masih mengenakan celemek dengan logo kecil rumah makannya sendiri. "Rangga, nanti pulang kuliah jam berapa? Mama butuh bantuan angkat galon baru di rumah makan kalau sempet."
"Kayaknya agak sore, Ma. Ada rapat BEM sore ini," jawab Rangga sambil mengambil sepotong tempe.
"Rapat lagi? Kirain udah kelar minggu lalu," Mama Sinta menyahut sambil duduk di ujung meja, menyeruput kopinya sendiri.
"Ada agenda baru," jawab Rangga singkat, tidak berniat menjelaskan lebih jauh soal rencana besok. Belum saatnya. Ia tahu betul kalau soal demo disebut terlalu dini di meja makan, ibunya pasti akan langsung berderet pertanyaan, dan pagi ini ia tidak punya waktu untuk itu.
Papa Ben sudah lebih dulu berangkat kerja-kebiasaan lama, selalu keluar rumah sebelum matahari benar-benar naik, mengejar rapat pagi di kantornya. Hanya tersisa gelas kopi kosong di dekat wastafel sebagai bukti ia sempat sarapan sebentar sebelum pergi.
Rangga menghabiskan sarapannya sambil sesekali menimpali obrolan Gibran yang mulai cerita soal game baru yang katanya "seru banget, Kak, lu harus coba," dan Kenzi yang tiba-tiba menyela ingin diajak mendaki lagi akhir bulan ini. Rumah ini punya ritmenya sendiri-berisik, saling menyela, tapi entah kenapa tidak pernah terasa berat.
"Kak, kapan naik gunung lagi?" tanya Kenzi, matanya berbinar penuh harap.
"Nanti kalau ada waktu kosong, ya. Kakak lagi sibuk dulu," jawab Rangga sambil mengusap kepala adiknya.
"Katanya terus, dari bulan lalu," gerutu Kenzi, meski akhirnya tetap tersenyum ketika Rangga menjanjikan akan mengajaknya lagi setelah semester ini agak longgar.
Perjalanan menuju kampus tidak jauh berbeda dari biasanya. Jalanan Jakarta di pagi hari selalu punya cara sendiri untuk menguji kesabaran orang, dan Rangga sudah cukup terbiasa dengan itu untuk tidak lagi mengeluh dalam hati. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di motor memikirkan agenda hari ini-jadwal kuliah pagi, lalu siang nanti mampir sebentar ke sekretariat BEM sebelum kelas berikutnya.
Begitu sampai di area Fakultas Hukum, suasana sudah mulai ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Rangga memarkir motornya, lalu berjalan menuju pelataran kantin tempat biasanya circle-nya berkumpul sebelum kelas dimulai. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat Dhika melambai sambil setengah berteriak.
"Rang! Sini, gue udah pesenin kopi lu!"
Rangga menghampiri meja panjang di sudut kantin, tempat Shan, Abe, Dewa, Eca, dan Rafka sudah duduk lebih dulu, masing-masing dengan segelas kopi atau teh di depan mereka. Ia menjatuhkan diri di kursi kosong sambil menghela napas lega.
"Makasih, Dhik," ujarnya sambil meraih gelas kopi yang disodorkan.
"Lu telat lima menit doang, tumben," celetuk Shan sambil menyeruput minumannya.
"Kenzi ribut sama Gibran lagi pagi ini, gue harus nengahin dulu," jawab Rangga sambil terkekeh kecil.
"Rumah lu tuh emang nggak pernah sepi ya," Abe menimpali, disambut tawa kecil dari yang lain.
Obrolan mengalir santai, dari tugas kuliah yang menumpuk, dosen yang katanya bakal ngasih kuis dadakan minggu depan, sampai rencana nonton bareng yang sudah lama tertunda karena jadwal masing-masing yang berantakan. Rangga menikmati momen semacam ini-satu-satunya waktu di mana semua orang di circle-nya benar-benar berkumpul tanpa terburu-buru, sebelum masing-masing terpecah ke jadwal kuliah dan organisasi yang berbeda-beda.
Namun tidak lama, Dewa meletakkan gelasnya dan menatap sekeliling meja dengan raut yang tiba-tiba lebih serius.
"Eh, inget kan besok?" katanya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.
Meja itu langsung hening sesaat. Eca mengangguk, menyeruput tehnya sebelum menjawab. "Iyalah, gimana mungkin lupa. Udah disebar juga kok info kumpulnya, jam sepuluh pagi di titik kumpul biasa."
"Demo besok jadi rame banget kayaknya," sambung Rafka, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Denger-denger banyak almamater lain juga ikut turun."
Rangga menegakkan duduknya sedikit, ekspresinya berubah lebih fokus. "Tuntutannya masih sama kan? Yang udah kita bahas minggu lalu?"
"Masih," jawab Dewa. "Tapi katanya bakal lebih gede dari yang kemarin-kemarin. Massa dari beberapa kampus katanya udah pada koordinasi."
Dhika dan Shan hanya mendengarkan tanpa banyak menimpali-wajar, keduanya memang tidak ikut organisasi seperti yang lain, jadi urusan semacam ini bukan ranah mereka. Tapi bukan berarti mereka tidak peduli; Shan bahkan sempat menyeletuk singkat, "Hati-hati aja sih kalian besok, jangan sampe kena apa-apa," sebelum kembali menyeruput kopinya.
"Lu ikut, Rang?" tanya Eca, menatap Rangga langsung.
Rangga tidak butuh waktu lama untuk menjawab. "Ya jelas."
Jawaban itu keluar begitu saja, tanpa keraguan sedikit pun-seolah pertanyaan itu semacam formalitas belaka, karena semua orang di meja itu sudah tahu betul bagaimana Rangga selalu berada di barisan depan setiap kali ada aksi. Bukan karena ia mencari sensasi, tapi karena baginya, diam saja ketika ada hal yang menurutnya perlu disuarakan bukanlah pilihan yang masuk akal.
"Ya udah, kita samain lagi nanti detailnya di grup," kata Dewa, menutup topik itu sementara sambil melirik jam di ponselnya. "Btw kelas gue bentar lagi mulai nih."
Satu per satu dari mereka mulai beranjak, menyambar tas masing-masing, sebagian masih menyisakan obrolan ringan sambil berjalan menuju gedung kelas. Rangga sendiri masih punya waktu sekitar lima belas menit sebelum kelasnya dimulai, jadi ia memilih tetap duduk sebentar, menghabiskan sisa kopinya sambil sesekali mengecek jadwal rapat BEM sore ini di ponselnya.
Pikirannya melayang sebentar ke besok. Bukan hal baru baginya untuk turun ke jalan-sudah berkali-kali ia melakukannya sejak masih semester awal-tapi entah kenapa kali ini ada semacam firasat samar yang tidak bisa ia jelaskan, bukan rasa takut, lebih ke semacam rasa bahwa besok akan menjadi hari yang berbeda dari biasanya.
Ia menepis pikiran itu cepat-cepat, menghabiskan sisa kopinya, lalu bangkit dan berjalan menuju gedung kelas-tanpa tahu bahwa firasatnya, entah bagaimana, benar adanya.
tbc.
tes ombak guys, tiba-tiba kepikiran bikin alur dengan isu demo gini :]
padahal book sebelah belum diberesin WKWKWK
semoga syukaaak :3
YOU ARE READING
Lintas Temu
General FictionDi tengah lautan manusia yang menuntut keadilan, dua jalan yang seharusnya tak pernah bersinggungan justru dipertemukan oleh sebuah kebetulan yang tidak pernah mereka duga.
