Madeline Althea Seraphine tidak pernah mencintai Maximilian Gavriel Damares. Ia hanya menikah dengannya karena perjodohan yang tidak memberinya pilihan.
Althea mengira pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak. Namun bagi Gavriel, itu adalah cara un...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
❤️🔥🥀❤️🔥
Suara air memenuhi kamar mandi luas yang diterangi cahaya kekuningan dari lampu dinding. Uap tipis menggantung di udara, menempel pada permukaan marmer berwarna putih keabu-abuan dan cermin besar yang perlahan berembun.
Aroma lavender dari bath salt memenuhi ruangan, seharusnya memberikan ketenangan setelah malam panjang yang melelahkan, tetapi bagi Madeline Althea Seraphine, tidak ada aroma apa pun yang mampu mengusir rasa sesak yang menetap di dadanya.
Ia duduk diam di dalam bathtub dengan tubuh terendam sampai sebatas dada. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan tersanggul berantakan. Kedua matanya terpejam, sementara kepalanya bersandar pada tepian bathtub yang dingin. Air hangat menyentuh kulitnya, memberikan rasa nyaman yang hampir asing setelah tubuhnya berjam-jam menggigil karena hujan.
Beberapa saat sebelumnya, ia bahkan masih berdiri di bawah hujan.
Gaun yang dikenakannya telah kotor oleh tanah dan air jalanan. Ujung kainnya berat karena menyerap terlalu banyak air. Rambutnya menempel di wajah, tubuhnya menggigil, dan telapak kakinya terluka karena ia berlari tanpa sempat memikirkan apa pun selain satu hal-pergi sejauh mungkin dari rumah itu.
Rumah milik suaminya.
Rumah yang selama delapan bulan terakhir lebih terasa seperti sangkar daripada tempat tinggal.
Dan pria yang menjemputnya malam itu adalah orang yang paling ingin ia hindari.
Maximilian Gavriel Damares.
Nama yang dahulu hanya dikenalnya dari berita bisnis, kini menjadi nama yang paling sering menghantui pikirannya.
Pria itu tidak banyak bicara ketika menemukannya di pinggir jalan. Ia hanya membuka pintu mobil, membiarkan Althea masuk, kemudian membawanya kembali ke rumah tanpa satu pun bentakan. Sesampainya di kediaman mereka, Gavriel hanya memerintahkannya untuk mandi dan mengganti pakaian yang basah sebelum tubuhnya jatuh sakit.
Tidak ada kemarahan yang meledak.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada pertanyaan panjang.
Justru ketenangan itulah yang membuat Althea semakin takut. Karena ia mengenal Gavriel cukup lama untuk memahami satu hal.
Ketika pria itu terlalu tenang, biasanya sesuatu yang jauh lebih buruk sedang menunggu.
Althea membuka matanya perlahan. Pandangannya jatuh pada permukaan air yang beriak kecil akibat gerakan tubuhnya. Tangannya bergerak tanpa sadar menuju perutnya sendiri. Jemari yang semula hanya menyentuh kulitnya perlahan berhenti di sana.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.