Prolog

12 4 6
                                        

Kilatan cahaya seolah membelah langit di tengah hujan yang mengguyur. Daun-daun dipaksa gugur, sementara angin berembus liar seolah sedang memberontak. Di tengah keadaan yang jauh dari kata aman, sepasang kaki berlari tanpa alas kaki dengan sayatan yang memenuhi kaki pucatnya. Ia berlari tanpa arah, tak peduli darah yang terus mengalir dari pelipisnya, karena ia tidak tahu jika ia berhenti mungkin saja hidupnya akan berakhir.

Tubuh ringkih itu sesekali tersentak akibat gemuruh petir yang menyambar tanpa henti. Kakinya yang tadi berlari kencang mulai melambat, dadanya naik-turun dan napasnya memburu tak beraturan. Ia berjongkok di sisi jembatan berpegang pada pagar pembatas, sementara matanya perih karena terus di hantam derasnya hujan.

Aarghhhh!!

Jeritan kesakitan memenuhi indra pendengarannya, telapak tangannya yang gemetar segera menutup kedua telinganya, berusaha menghalau suara itu. Matanya yang sembab, bibir pecah-pecah dan rasa ketakutan bercampur menyelimuti wajahnya.

"Hentikan..." lirihnya hampir tak terdengar.

Ia menatap dengan kosong. Napasnya mulai beraturan akan tetapi bibirnya bergetar. Ia meremas dadanya yang terasa nyeri seolah ribuan jarum menghujami dadanya kala bayangan darah mengalir hingga hampir menyentuh kakinya.

Beberapa saat yang lalu, tepat di sebuah rumah minimalis seorang Pria paruh baya tengah menyeret seorang gadis berusia 24 tahun. Sementara seorang gadis lebih muda berdiri membeku di ambang pintu, ia tengah memproses apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia menatap sekeliling, benda-benda tergeletak tak beraturan, pecahan gelas, kursi yang terbalik, pemandangan ini begitu kacau. Lalu, pandangannya tertuju pada pria paruh baya yang tengah menyeret seseorang sembari memukulinya. Suara jeritannya memekikkan telinga, membuat gadis itu tersentak.

"Kak..." gumamnya, masih membeku di tempat.

Gadis itu menghampiri pria itu, berusaha untuk melepaskan kakaknya. "Lepaskan Ayah!" Namun, tenaganya tak sebanding dengan tubuh kekar pria itu hingga satu tepisan saja berhasil membuat gadis itu terhempas.

Gadis yang bernama Maura itu berusaha bangkit sembari memegang siku kirinya yang terluka akibat hempasan tadi. Maura mencengkram kaki pria itu dengan tangan kurusnya.

"Jangan bawa kakak pergi, Ayah, " ucapnya dengan suara bergetar.

"Lepaskan kakiku, dasar anak sialan!" bentak sang Ayah lalu menendang Maura sampai pelipisnya membentur sudut meja, lalu kembali mendekati gadis itu dan mencekik lehernya.

"Kalian berdua seharusnya ikut pergi bersama wanita sialan itu... Dasar beban," bisiknya di sela napas yang berat dan bau alkohol yang menyengat.

Pria itu bertindak seolah tengah dirasuki iblis, gadis itu berusaha melepaskan cengkeraman namun tenaganya terlalu lemah hingga sebuah ide terbesit di kepalanya, ia mendapati sebuah garpu tergeletak di dekatnya, dengan sigap ia mengambilnya dan melayangkannya tepat di pipi kiri pria itu. Pria itu menjerit kesakitan dan darah mengalir di pipinya, namun justru amarahnya semakin meluap, ia mengambil botol alkohol dan mengayunkannya ke arah Maura yang terduduk sembari menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

"BRENGSEK!"

Prakk!

Suaranya terdengar nyaring dan pecahannya berserakan dimana-mana. Pria itu membeku dan menjatuhkan sisa botol yang separuh pecah di genggamannya, ia menatap Maura yang membeku tengah menatap seseorang yang tergeletak.

"Kak..." lirihnya nyaris tak bersuara.

"Apa yang telah aku lakukan?" lirih pria itu, meremas rambutnya, frustasi.

Gadis itu yang menghalangi pria itu dan menjadikannya sebuah tameng untuk melindungi adiknya. Darah keluar sangat deras di sisi kepalanya, sedangkan Maura berusaha membangunkan kakaknya yang tak berdaya.

Transmigration of trapped soulsHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora