Prolog

11 2 0
                                        

Ada sebuah pintu di ujung lorong.

Pintu itu tidak memiliki papan nama. Tidak memiliki jendela. Hanya cat abu-abu yang mengelupas di sudutnya, dan gagang kuningan yang sudah kusam dimakan waktu. Para asisten yang bekerja di laboratorium ini tahu bahwa mereka tidak boleh mendekatinya. Mereka tidak bertanya. Mereka tidak mencari tahu. Mereka hanya bekerja, mencatat, dan pulang.

Tapi Kessler Kaela Rook bukan asisten biasa.

Ia mengingat segalanya. Ia ingat suhu ruang pendingin di hari pertamanya bekerja. Ia ingat jumlah tabung reaksi yang ia bersihkan minggu lalu. Ia ingat bau manis yang hanya muncul di dekat pintu abu-abu, dan bagaimana Profesor Thorne selalu menghindari pertanyaan tentangnya.

Profesor Elias Thorne memiliki banyak rahasia. Beberapa ia simpan di dalam laci mejanya. Beberapa ia kubur di bawah pohon ek tua di halaman belakang. Dan satu-yang paling berbahaya-ia sembunyikan di balik pintu itu.

Ia tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Ia hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa menyembuhkan. Tapi Dr. Ong-pria bermata dingin yang mendanai risetnya-menginginkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang jauh lebih gelap.

Kini, Thorne terjebak. Ia tidak bisa mundur. Ia tidak bisa menolak. Ia hanya bisa menunggu, berharap seseorang akan datang untuk menghentikan semua ini.

Seseorang dengan ingatan yang tidak bisa dihapus.
Seseorang dengan darah yang bisa menyembuhkan.
Seseorang yang dikenal dengan kode 052.

Dan orang itu, tanpa menyadarinya, sudah bekerja di laboratorium ini.

Namanya Kessler Kaela Rook.

Dan di balik pintu abu-abu itu, sebuah buku catatan tua telah menunggunya. Di halaman terakhirnya, tertulis dua kata yang akan mengubah segalanya:

052. Menunggu.

Asisten Sang Profesor - Ruang RahasiaStories to obsess over. Discover now