Seorang gadis memakai gamis berwarna denim dengan Khimar hitam yang menutupi dada berdiri di depan sebuah pintu kayu tua. Tangannya terangkat, lalu berhenti beberapa sentimeter dari permukaan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan.
Entah sudah berapa kali ia mengulangi gerakan yang sama.
Gadis itu adalah Andi Kaina Lavinia.
Terhitung sudah empat tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kakinya di tempat ini.
Kaina menunduk sebentar, merapikan khimarnya yang sebenarnya sudah rapi. Setelah memastikan tidak ada yang perlu diperbaiki, ia akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
Tidak sampai beberapa detik, terdengar suara langkah kaki dari dalam. Seorang pria tinggi berdiri di balik pintu yang terbuka.
Kaina mendongak.
Pria itu menatapnya dari atas ke bawah dengan dahi sedikit berkerut. Tatapannya berhenti cukup lama di wajah Kaina, sedang berusaha mencocokkan wajah di hadapannya dengan sesuatu yang tersimpan jauh di dalam ingatannya.
Kaina pun melakukan hal yang sama.
Ada sesuatu yang terasa canggung ketika dua orang yang pernah saling mengenal harus kembali bertemu setelah bertahun-tahun.
Pria itu tampak familiar.
Kak Yasha? batin Kaina.
Seingat Kaina dulu Yasha tinggal di Jakarta, ia hanya ke Soppeng ketika ada acara besar atau ada kedukaan.
Yasha masih menatapnya. sepertinya ia juga belum sepenuhnya yakin.
Kaina akhirnya tersenyum kecil.
"Pung Maryam ada?"
"Pung Maryam ada," ujar Yasha menggantung.
"Aku Kaina, Andi Kaina.*
Mata Yasha seketika membesar.
Seolah baru saja seseorang menyalakan kembali ingatan yang selama ini tersimpan.
"Kaina?"
"Iya."
Yasha menoleh ke dalam rumah.
"Ayo masuk dulu."
Belum sempat Kaina melangkah, suara seseorang menginterupsi nereka.
"Yasha, kenapa lama sekali?"
Yasha mengangkat wajah.
"Ada Kaina."
"Siapa?"
Yasha menghela napas, lalu menaikkan volume suaranya.
"Andi Kaina!"
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar beruntun.
Rumah khas Soppeng adalah rumah panggung, lantainya kebanyakan terbuat dari kayu, itu sebabnya Kaina bisa mendengar jelas langkah kaki ada ebih dari satu orang.
Kaina refleks merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Pintu yang tadi hanya dibuka sebagian kini terbuka lebar. Satu per satu wajah bermunculan, Kaina masih mengingat jelas wajah-wajah itu, wajah yang begitu akrab namun juga asing.
Di barisan ada dua adik ayahnya yang bernama Pung Jihan dan Pung Yunita, berdiri bersama adik ipar ayahnya pung Kinan.
Di belakangnya ada Elian, Hana, Rafifa, Syifa, dan Yusuf. Para sepupu Kaina.
Mereka semua menatap Kaina.
Tidak ada yang langsung berbicara. Mereka sama-sama berusaha mengenali seseorang yang pernah mereka kenal dengan baik.
ESTÁS LEYENDO
The echoes she carried
Ficción GeneralKetika Araya kembali ke Soppeng setelah bertahun-tahun pergi, keluarganya menyambut seorang perempuan yang nyaris tidak mereka kenali. Dulu, Araya adalah gadis yang ceria, banyak bicara, dan mampu membuat suasana di sekitarnya tertawa. Kini, perempu...
